PIARA GBKP Deklarasikan Stop Kekerasan Terhadap Anak

Tak ingin tindak kekerasan terus berlanjut yang mengancam masa depan anak-anak Indonesia, peserta Piara GBKP, Selasa (30/6) di RC Sukamamkur, Sibolangit menyatakan sikap melalui deklarasi Piara 2015.

Sebanyak 20 anak yang mewakili seluruh anak GBKP menyatakan, agar gereja sebagai institusi untuk menyuarakan kenabiannya untuk memutus mata rantai darurat kekerasan terhadap anak. Piara 2015 mendesak masyarakat untuk membebaskan anak-anak di Indonesia khususnya Sumatera Utara dari segala bentuk exploitasi kekerasan, penganiayaan, penelantaran dan diskriminasi. Juga diserukan lindungi dan jauhkan anak Indonesia dari segala bentuk bahaya Narkoba dan obat terlarang.

Bagian yang tak kalah penting dalam deklarasi Piara tersebut, menyerukan dan meminta lingkungan rumah, sekolah dan ruang publik yang ramah dan layak bagi anak serta anak serta contoh yang baik. Anak-anak GBKP juga rindu idola dan pemimpin gereja, masyarakat, orangtua dan bangsa yang mengendepankan nilai-nilai kejujuran dan anti kekerasan. Setelah membacakan Deklarasi Piara 2015, naskah deklarasi langsung disampaikan kepada Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait disaksikan Moderamen GBKP dan Panitia Piara disaksikan 12 ribu peserta di panggung utama komplek Yapos Sukamakmur.

10 Hak Anak

Sebelumnya, Arist Merdeka Sirait mengajak anak-anak GBKP peserta Piara 2015 untuk mengerti 10 hak anak yang harus didapat seperti bermain, pendidikan, perlindungan, nama, kebangsaan, makanan, kesehatan, kreasi, kesamaan, peran dalam pembangunan dan hak anak tersebut tidak boleh dibebani oleh orang tua.

“Sahabat siapakah anak-anak?. Anak-anak adalah sahabat Yesus, anak itu adalah anugerah untuk itulah anak-anak harus dilindungi”, kata Arist tegas.

Hal itu diungkapkan Arist pada Kongres Remaja Piara GBKP dengan tema “Kekerasan Terhadap Anak”, Selasa (30/6) di Jambur RC Sukamakmur Sibolangit. Pihak yang berperan dalam memberikan perlindungan anak antara lain negara, orang tua dan gereja. Pesta Iman Anak dan Remaja (Piara) GBKP yang sudah 25 tahun berlangsung merupakan salah satu sarana untuk memenuhi hak anak dalam peran pembangunan termasuk ikut membicarakan tentang kehidupan anak. Piara kali ini diharapkan dapat menyuarakan stop kekerasan terhadap kehidupan anak, mulai dari tempat ini, keluarga, gereja dan masyarakat.

Untuk itu Arist terus mengajak seluruh anak untuk bernyanyi secara berulang-ulang lagu tentang 10 hak anak yang harus didapat. Berkali-kali Arist mengajak bernyanyi dengan gerakan dan yel-yel anak Indonesia.

Dengan gaya yang lugas dan sederhana, Arist menyatakan, kasus kekerasan terhadap Engeline di Bali bisa dijadikan sebagai pelajaran untuk menghilangkan tindak kekerasan terhadap anak di Indonesia. Anak-anak harus dilindungi dan hak-haknya dipenuhi. Arist juga mengajari anak-anak dengan berbagai gerakan yang disambut dengan antusias termasuk 3 seruan yang harus kita sampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia yakni “Stop Kekerasan, Stop Narkoba, Stop Pornografi.”

Pada akhir acara, Arist Merdeka menyatakan memberi kesempatan kepada 10 anak peserta Piara GBKP untuk mengikuti Kongres Anak Indonesia di Batu Malang, Agustus 2015 mendatang dan mengikuti Hari Anak Indonesia untuk bertemu dengan Presiden Jokowi.

Acara lainnya, untuk anak tanggung juga dilakukkan Belajar Bahasa Inggris Alkitab dengan nara sumber All Souls Curch London, termasuk Ceramah Anak Tanggung di pentas Cakrawala dengan topik “Gaya hidup anak Kristiani” nara sumber Pdt.Akum Ozukum Likok, “ Komunikasi efektif dengan orangtua” Pdt Paulus Lie, dan topik lainnya seperti gaya hidup, pemeliharaan lingkungan. (Era Purnama/TS)

Komentar

You May Also Like