Hari ini 10000 anak akan menarikan tarian Roti Manis

Hari ini, Kamis (2/7) 12 ribu anak-anak GBKP peserta Piara akan mencetak rekor Muri dalam pagelaran tarian tradisionil yang pertama sekali dilakukan lewat tarian “Roti Manis” di lapangan RC Sukamakmur Sibolangit.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Panitia Piara GBKP 2015, Pdt Erik Jhonson Barus di kantor Sekretariat Panitia Piara Retret Center Sukamakmur. Menurutnya, tujuan perhelatan tarian tradisionil ini bukan semata sensasi atau untuk mencatat rekor, namun GBKP sebagai gereja suku bertanggung jawab untuk mengembangkan dan melestarikan budaya daerahnya termasuk tarian.

Sementara itu, memasuki hari ke-4 Piara GBKP, berbagai acara telah dilakukan guna menunjang peningkatan spiritualitas dan kreatifitas anak termasuk upaya pelestarian budaya Karo. Di setiap pentas menyajikan khasanah budaya Karo mulai dari pengenalan dan perkembangan pakaian orang Karo. Dalam sesi perkembangan pakaian orang Karo, Lukas Tarigan memperkenalkan kekayaan corak, arti dan cara berpakaian budaya Karo.

Sedangkan di pentas Cakrawala, Abadi Sinukaban menyampaikan kepada seluruh peserta bagaimana cara membuat dan memakai tudung, erbulang (pakaian yang dikenakan di kepala pria dan wanita) termasuk erabit dan ersampan (kain sarung pria dan wanita). Seluruh peserta berkesempatan untuk cara membuat tudung agar generasi ahli pembuat tudung terus berkembang sepanjang jaman.

Di pentas Go Green, Julianus Limbeng juga memperkenalkan musik dan tarian Karo, secara khusus bentuk alat musik dan ritme tarian yang selaras dengan lagu. Hal ini diperkenalkan kepada seluruh anak, karena perkembangan musik dan tarian Karo terus dipengaruhi perkembangan jaman. Untuk itu gereja harus dan terus melestarikannya melalui kegiatan ceramah budaya, ujar Limbeng.

Untuk pentas Flora, Pdt Kongsi Kaban juga memperkenalkan permainan Karo yang hampir terlupakan saat ini, apalagi perkembangan jaman terus akan mengikis permainan orang Karo, apalagi di jaman era digital dengan kehadiran game on line di rumah-rumah. Termasuk di pentas Matahari juga dilakukan pengembangan kerajinan tangan khas Karo seperti cara membuat “Baluat” (seruling-red) dan “Keteng-keteng” (musik gendang dari bambu-red).

Malem Ukur Ginting yang juga tokoh budaya Karo memperkenalkan tata cara “Ertutur” orang Karo serta kaitan Merga Silima dan orat tutur dalam kehidupan sehari-hari. Sementara di pentas Manusia, Pdt Kalvinsius Jawak juga memperkenalkan cakap Karo dan “Anding-andingen” (cerita perumpamaan). Sedangkan di panggung Bumi juga diperkenalkan berbagai makanan khas Karo, yang selama ini dikenal unik dan enak seperti cimpa (kue), cipera, dan trites.

Geliat pagelaran malam budaya di pentas utama akan menampilkan berbagai tarian daerah dan lagu dari utusan anak-anak GBKP se-Klasis di Indonesia, termasuk acara lawak rohani Dogol-Merap dan pementasan drama. (Era Purnama/TS)

Komentar

Mungkin Anda Menyukai