Doa Perdamaian dan Rekonsiliasi atas peristiwa Pembunuhan Massal di Beni, Kongo

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini kami menerima informasi dari CBCA :

Kami menginformasikan bahwa pada hari Sabtu tanggal 31 Agustus 2016 lebih dari lima puluh orang telah dibunuh secara brutal disekitar kota Beni sebelah Selatan Goma dan banyak lagi yang terluka parah. Sama seperti kejadian sebelumnya, metode yang digunakan oleh penyerang mirip dengan Boko Haram atai Al Shabab.

Pembunuhan massal terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Kabila mengunjungi wilayah tersebut untuk menghadiri pertemuan dengan Presiden Uganda sehubungan dengan pemberontak Uganda dari Allied Democratie Forses (ADF) yang biasanya bertanggungjawab atas  pembunuhan massal  yang berulang di wilayah Beni yang berbatasan dengan Uganda sejak Oktober 2015. Sampai saat ini, sudah lebih ribuan orang yang terbunuh, tapi baik dari pemerintahan Kongo maupun perwakilan dari PBB di negara tersebut tidak ada yang sanggup memberi  penjelasan yang masuk akal mengapa tentara kedua negara ini beserta dengan pasukan tentara PBB tidak berhasil menetralisir pelaku pembunuhan massal tersebut. Namun beberapa orang analis dari dalam negri maupun dari luar berpendapat bahwa pemberontak Uganda bukan satu-satunya dalang pembunuhan massal tersebut, melainkan petugas tentara Kongo juga ikut terlibat. Bahkan, investigasi yang dilakukan oleh organisasi Amerika mengindikasikan bahwa beberapa petugas dari gerakan pemberontakan yang lama yang kemudian berintegrasi kedalam tentara nasional telah dipanggil dari antara pelaku pembunuhan di wilayah Beni.

Sejajar dengan ketidakamanan situasi yang terjadi di Beni, di bagian selatan wilayah Lubero seseorang mengamati sejak dua bulan terakhir telah berlangsung kembali konflik etnik. Namun kenyataannya peperangan yang berulang antara kelompok tentara terdiri dari anggota yang tergabung dengan kelompok etnik lokal adalah asal dari ketegangan tersebut. Pasukan tentara PBB beserta dengan jajaran tentara nasional yang bermarkas di wilayah tersebut sepertinya tidak mampu untuk memerangi kehadiran kelompok bersenjata tersebut.

Beberapa orang dari masyarakat lokal percaya bahwa pasukan tentara PBB bekerjasama dengan kelompok angkatan bersenjata tersebut dan bahkan memasok senjata serta amunisi kepada mereka. Hal ini telah menimbulkan kecurigaan dan bahkan rasa dendam terhadap pasukan tentara PBB.

CBCA telah meminta dukungan politik dan finansial, namun demikian kami juga meminta anda untuk berdoa bagi gereja ditengah-tengah konflik tersebut dan juga bagi semua korban beserta dengan keluarganya. Kita berdoa kiranya Allah membawa damai ketengah wilayang yang bermasalah ini.

Shalom

Claudia Währisch-Oblau

Komentar

You May Also Like