Bidang Dana Usaha Moderamen GBKP adakan Pembinaan UKM di KWK GBKP Berastagi

BERASTAGI, GBKP.OR.ID- Moderamen GBKP melalui Bidang Dana dan Usaha terus dengan komitmetnya untuk meningkatkan perekonomian jemaat. Salah satu yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah  dengan pembinaan dan pelatihan kepada jemaat  sesuai dengan kebutuhan di daerahnya masing-masing. Untuk hal itu bertempat di KWK Berastagi Bidang dan Usaha Moderamen GBKP mengadakan pelatihan bagi pelaku  UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang ada di Klasis Gugung, sabtu (26/11).

Kabid Dana dan Usaha Moderamen GBKP Dk. Khristiani br Ginting dalam sambutannya mengatakan bahwa memang mayoritas mata pencaharian dari jemaat GBKP adalah bertani, namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga sebagian jemaat adalah pelaku dari UKM. Maka dari itu dalam upaya peningkatan ekonomi jemaat gereja perlu mengadakan pembinaan bagi jemaat pelaku UKM tersebut.  “ Mayoritas jemaat kita memang berprofesi sebagai petani, namun tak dapat dipungkiri bahwa ada juga sebagian dari mereka adalah pelaku dari UKM tersebut, maka gereja dalam upayanya meninggkatkan perekonomian jemaat perlu mengadakan pelatihan UKM ini” ungkapnya. Lebih lanjut dikatakannya hal lain yang melatarbelakangi kegiatan tersebut adalah kenyataan dilapangan dimana banyaknya pelaku dari UKM khususnya jemaat GBKP  dalam menjalankan usahanya dengan modal dan kemampuan manajemen usaha yang seadanya. Maka bidang Dana dan Usaha Moderamen GBKP menganggap perlu melakukan pembinaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah tersebut untuk meningkatkan kemampuan manajemen dalam mengelola usahanya, terangnya.

Masih oleh Dk.Khristiani br Ginting dikatakan bahwa yang menjadi tujuan dari kegiatan ini adalah  membekali pelaku usaha kecil dan menengah khsusunya ditengah-tengah GBKP untuk dapat mengelola serta menjalankan usahanya dengan pengetahuan manajemen usaha dan tambahan modal melalui akses ke PT. BPR PPK( Pijer Podi Kekelengen).

Direktur PT. BPR Pijer Podi Kekelengen Pdt. Bumaman Teodeki Tarigan sebagai salah seorang narasumber dalam kegiatan tersebut menjelaskan untuk mendapatkan bantuan modal dari pihak bank maka pelaku UKM harus memenuhi kriteria 5 C yaitu : pertama Character (karakter, kepribadian atau watak/rekam jejak calon nasabah); kedua Capacity (kapasitas calon pengakses modal dalam pengelolaan keuangan dalam hal pemasukan dan pengeluaran termasuk lamanya usaha yang telah dijalankan); ketiga Capital (berapa modal usaha yang dimiliki, berapa hutang/apakah hutang lebih dari 30% jumlah asset dan lain-lain); ke empat Collaateral (agunan/jaminan untuk memenuhi aspek legal serta penjamin yang kredibel) dan kelima Condition of economic (kondisi ekonomi, dinamika ekonomi local, regional, nasional, global yang berpengaruh terhdap usaha).

Lebih lanjut dikatakan oleh Bumaman bahwa BPR Pijer Podi Kekelengen siap mendukung program dari bidang Dana dan Usaha Moderamen untuk meningkatkan perekonomian jemaat dalam hal ini pelaku UKM dengan memberikan bantuan usaha sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di BPR Pijer Podi Kekelengen. “ Kita siap dukung program Moderamen untuk mengembangkan usaha kecil menengah, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di BPR Pijer Podi Kekelengen” tegasnya.

Sementara itu Mudi Bangun dalam sesinya, mengawali dengan menceritakan tentang kisah suksesnya (succes story) dalam membangun usaha kripik singkong yang sudah merambah sampai ke dunia internasional seperti Malaysia dan Brunai. Dalam kisahnya dikatakan bahwa untuk mencapai kesuksesan maka pengusaha harus terus berinovasi dan mencari peluang pasar yang lebih luas. “ Untuk mencapai kesuksesan, teruslah berinovasi dan carilah peluang pasar yang lebih luas” ungkapnya.

Dia juga mengatakan kunci untuk sukses yang diyakininya yaitu 3O dan 3M , dimana 3O  : otak (planning); Otot (action) dan omong (promotion) serta 3M : mutu, murah (bahan baku murah, harga jual produk tinggi) dan mudah (bahan gampang diperoleh, penjualan mudah)

Yulius Sacramento Tarigan, Apt yang juga salah seorang narasumber dalam kegiatan tersebut dalam ceramahnya mengatakan bahwa kelemahan di Tanah Karo adalah tidak adanya oleh-oleh khas, padahal pengunjung yang datang berkunjung setiap minggunya tidak kurang dari 6000 orang.  “ Kelemahan ditanah karo yang saya lihat belum adanya oleh-oleh yang khas, padahal kita dikunjungi tidak kurang dari 6000 orang per minggunya” ungkapnya.

Maka dari itu  Yulius mengharapkan kedepannya GBKP melalui Bidang Usaha dan Dana perlu memikirkan sebuah inovasi untuk menciptakan peluang usaha. Siapkan bahan baku yang potensial, pilih salah satu misalnya jagung yang olahannya banyak, cara olahan yang memiliki daya tahan lama, aman, dan halal, serta kemasan yang aman serta sekunder (kemasan khusus untuk oleh-oleh). Jika hal ini dapat terwujud, maka kedepannya ini akan menjadi suatu pilot proyek bagi GBKP dalam menciptakan lapangan pekerjaan serta memudahkan dalam hal pendanaan program.

Pembinaan ini juga menghasilkan  rekomendasi yaitu perlunya dibuat komunikasi modern (whatsapp group), line subsite dalam website untuk rumah informasi mengenai usaha untuk pengurusan perijinan terpadu sehingga gampang diakses semua pelaku usaha yang membutuhkannya. Dan yang menjadi peserta dalam pembinaan ini adalah dari Klasis Barus Sibayak, Klasis Berastagi, Klasis Kabanjahe, Klasis Kabanjahe Tigapanah, Klasis Kabanjahe Sukarame, Klasis Laubaleng, Klasis Sinabun, Klasis Dairi, Klasis Tigabinanga, Klasis Munthe, Klasis Sibolangit. (Humas Moderamen)

Komentar

You May Also Like