Keputusan Konpen GBKP 2016.

Keputusan Konpen GBKP 2016.

  1. Pemakaian Stola.
  • Pedomani apa yang tertulis dalam Tata Gereja Bab VII Pasal 25 Ayat 4a. Dikatakan bahwa stola merupakan pelengkap pakaian liturgis pendeta dan pertua sehingga penggunaannya tidak terlepas dari pakaian liturgis pelayan (pertua, diaken, pendeta).
  • Melarang runggun dan klasis untuk mengimprovisasi pemakaian stola. Tidak boleh dipakai stola selain yang ditetapkan GBKP.
  • Jika ada stola baru maka perlu pengkajian lebih jauh tentang pemahaman pemakaian stola yang bukan hanya sebatas pelengkap pakaian jabatan tapi sebagai “tanda-tanda”.
  • Perlu penggalian arti dan makna teologis warna dan simbol-simbol yang ada pada stola.
  • Pertua dan diaken diwajibkan untuk memiliki stola.
  • Ada pengelayasi moderamen mengenai pakaian stola dan warna stola.
  • Jangan membuat bentuk seperti stola sebagai tanda-tanda

 

  1. Warna Toga Mini
  • Toga mini harus hitam.
  • Colar yang digunakan adalah colar yang dikeluarkan/disediakan oleh Moderamen GBKP, bukan colar yang terbuat dari kertas atau bahan yang lainnya yang bukan dikeluarkan oleh Moderamen GBKP.

    Kedepannya mungkin perlu diadakan toga mini yang warnanya sesuai dengan warna stola GBKP.

  1. Pengkhotbah tak memberikan persembahen, Teknis diaturkan. Tak perlu diputuskan. Alasan : Pengkhotbah adalah orang yang dipakai oleh Allah, utusan Allah dan Allah dengan sendirinya hadir dalam diri pengkhotbah (Allah yang imanen) sehingga tubuhnya merupakan persembahen yang seutuhnya bagi Tuhan, persembahan yang hidup (Roma 12:1).
  1. Konseling man Pendeta-Pendeta

      Tim konseling dibentuk dan turun ke lapangan

  1. Pemakaian Kalung salib.

Pemakaian Kalung Salib tidak menunjukkan Indentitas oleh karena itu tidak perlu diaturkan tentang pemakaian kalung salib.

  1. Segala sesuatu yang belum disepakati bersama tidak perlu di pakai. 

Puasa adalah alkitabiah namun sampai pada saat ini gereja kita memahami bahwa berpuasa bukan merupakan keharusan. Sikap GBKP terhadap puasa sudah diputuskan pada hasil  konpen. Konpen perlu membuat  Petunjuk Teknis pelaksanaan Puasa.

  1. Perihal Kode Etik Pendeta Dalam Penggunaan Media Sosial.
  • Memakai media sosial sebagai media memberikan informasi, intraksi sosial, dan sebagai alat untuk pemberitaan Injil.
  • Hendaknya dalam memakai media sosial tidak menjadi batu sandungan tetapi memkai bahasa yang membangun
  • Sebaiknya Pendeta dalam menggunakan IT harus ada penguasaan diri apakah itu penting, baik, benar dan berguna.
  • Hendaknya Pdt dalam ibadah tetap memakai Alkitab dan buku Ende-enden (tidak memakai Alkitab elektronik)
  • Pendeta Mematikan Hp saat ibadah/pelayanan
  • Segala sesuatu yang berhubungan dengan kebijakan yang belum menjadi keputusan atau SK Mutasi, Tata Gereja, keputusan-keputusan sidang, hendaknya tidak dibicarakan di media sosial
  • Perlunya dibuat akun resmi oleh moderamen GBKP yang groupnya hanya Pendeta GBKP sehingga apabila ada persoalan, kita bebas mengeluarkan pernyataan dan perbedaan pendapat tanpa mengganggu publik.
  • Ketua Moderamen mengklarifikasi tentang berita di media sosial (fb) yang ada hubungannya dengan salah satu Pt. GBKP.
  • Apabila ada pendeta yang melanggar, Moderamen berhak memanggil pendeta yang bersangkutan untuk ditegur dan diarahkan.

Jika ada pendeta yang terkait kasus tindakan pidana menurut  UUyang telah dikeluarkan pemerintah tentang media sosial UU no.11 tahun 2008 sehingga mendapat pidana, diberhentikan menjadi pendeta GBKP.

  • Setelah menganalisa kami merasa bahwa ada akar permasalahan dengan lembaga kita sehingga pendeta merasa lebih didengarkan di media sosial daripada lembaga yang sesungguhnya. Oleh karena itu kami merekomendasikan perlu wadah untuk mendengarkan curahan hati pendeta sehingga mengurangi beban yang di curahkan di media sosial.
  1. Rekening Kasih Pendeta

Usul  Rekening Kasih Pendeta diterima   dengan  ketentuan sbb :

  1. Apabila nora ataupun naras karena pendeta meninggal dunia lalu menikah lagi, jikalau anaknya tidak  ditanggung GBKP maka tidak diberikan. Namun apabila   anaknya   tetap itanggung GBKP, maka akan diberikan .
  2. Usul pendanaan per anak setiap bulannya :

SD                   : 100.000

SMP                : 200.000

SMA                : 300.000

Kuliah            : 500.000

Mengenai angka nominal ini akan di analisa kembali oleh pengurus konpen

  1. Sumber dana rekening kasih adalah kutipan permanen dari pendeta-pendeta setiap bulannya 10.000/orang ( DTS )
  2. Mengenai tehnik pelaksanannya  moderamen akan mendata dan memperhatikan kondisi anak-anak dari pendeta yang sudah meninggal.
  1. Sikap GBKP Terhadap LGBT

Dalam konfesi GBKP Bab IV tentang Manusia mengatakan:

Kami Percaya, bahwa:

Manusia adalah ciptaan Allah yang segambar dengan Allah, laki-laki dan perempuan dengan martabat yang sama (Kejadian 1:26-27). Manusia diperlengkapi oleh Allah dengan hikmat dan akal budi serta dimahkotai dengan kemuliaan, hormat dan kuasa (Mazmur 8:6-7).

Dan Bab XI tentang Perkawinan mengatakan:

Kami percaya, bahwa:

  • Perkawinan adalah ikatan perjanjian antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah dan di hadapan jemaat. Perkawinan adalah anugerah Allah yang harus dipelihara dalam kekudusan (Kejadian 2:18,24). Oleh karena itu, perkawinan Kristen bersifat monogami dan tidak dapat diceraikan oleh manusia kecuali oleh kematian (Matius 19:6).
  • Perkawinan yang kokoh dibangun di atas iman kepada Allah Bapa, AnakNya Yesus Kristus dan Roh Kudus, oleh karena itu perkawinan terjadi antara laki-laki dan perempuan yang sama-sama Kristen (II Korintus 6:14).

   Berdasarkan hal ini Konpen mengambil sikap:

  • Menerima keberadaannya (orangnya) tetapi tidak mentolerir perilakunya/ perbuatannya (GBKP tidak menerima perilaku LGBT). Dengan begitu kita tidak memarjinalkan mereka tetapi kita berempati dengan kondisi mereka dan kontribusi gereja adalah melakukan pendampingan dan rehabilitasi.
  • Gereja juga perlu melakukan antisipasi/ pencegahan melalui pengajaran, memberikan penyadaran terhadap keluarga-keluarga tentang pentingnya pendidikan seks di usia dini.
  • GBKP perlu terlibat dalam gerakan kampanye masal dalam sikap tidak mentolerir perilaku LGBT, misalnya melalui sosial media.
  • Sikap GBKP terhadap LGBT ini ditindaklanjuti oleh Moderamen GBKP kepada PGI.
  • Kalau ada perilaku pendeta yang LGBT langsung ditarik dari personalia.
    1. Mengenai Perkawinan Anak Di Bawah 17 Tahun.

Keputusen Terkait dengan hal tersebut sbb :

  1. Normal (tidak terpaksa)

Jika pasangan yang mau menerima pemberkatan dibawah umur dan tidak dalam situasi terpaksa. Maka hal ini harus sesuai dengan UU perkawinan no 1 tahun 1974 pasal 7. Yang menyatakan bahwa laki-laki yang berumur 19 tahun dan perempuan 16 tahun. 

  1. Tidak Normal (terpaksa), Sesuai dengan UU perkawinan pasal 6, harus mendapat persetujuan dari Orangtua.

Pasal 7, dibawah umur 19 tahun laki-laki dan 16 tahun perempuan harus mendapat rekomendasi dari pengadilan agama. 

Dibawah umur 17 tahun dinyatakan:

  1. Segi psikologi: mental belum matang dan kedewasan berpikir belum ada.
  2. Aspek kesehatan: organ Reproduksi belum matang
  3. Aspek social dan budaya: kurang bertanggungjawab/ tidak mandiri
  4. Aspek spiritual: tanggung jawab selaku warga gereja lenga dewasa.

     Dibuat saja revisi katekisasi. Pedomani UU dan Tata Gereja dan ini perlu ditegaskan di katekisasi kita sehingga gereja bisa menerima kasus ini. Katekisasi kita harus tegas tentang ini.

  1. Tentang Ornamen di Gereja:

Ornament gereja yang dilihat/dipahami, dipakai secara berlebihan.

  1. Memakai gambar-gambar batang anggur di sepanjang jendela gereja.
  2. Pemakaian gambar Alkitab, calung, salib secara berlebihan
  3. Gambar di belakang mimbar yang berlebihan sehingga fokus jemaat kepada gambar bukan kepada Firman.
  4. Ornament budaya Karo(tapak nabi Sulaiman)
  5. Penggunaan LCD dalam ibadah (khusus dalam pemberkatan yang menampilkan photo pengantin yang seharusnya tidak ditampilkan).

Keputusan tentang ornamen di Gereja sbb :

Pemakaian ornamen di gereja harus sesuai dengan kebutuhan ibadah untuk menolong jemaat berjumpa dengan Tuhan, tidak mengganggu pemberitaan firman Tuhan, dan tidak mengkultuskannya.

  1. Ornament gereja harus dibatasi/ diseleksi pemakaiannya di gereja
  2. Menata gereja sesuai dengan warna liturgy
  3. Penggunaan LCD dengan benar. Dalam liturgy ornament gereja harus mendukung ibadah.

Ada pengelayasi dari Moderamen tentang tata ruang ibadah

  1. Kata JAMIN Dalam Liturgi Perlu Ditafsirkan Ulang

            Kata JAMIN diganti kata Wali.

  1. Kearifan Lokal
  • Mengenai memberi dagangen mbentar atau benang sada rupa kepada orang sudah meninggal tetap mempedomani keputusan Konpen yang telah disahkan dalam sidang BPL sinode mulai dari tahun 1982 yang isinya adalah bahwa yang memberikan dagangen mbentar adalah kalimbubu si mada dareh
  • Tentang kepercayaan kepercayaan lama yang sudah menjadi tradisi dalam masyarakat Karo dan bertentangan dengan iman Kristen tetap ditolak dan tidak perlu dikaji ulang (mengacu pada keputusan sidang sinode sebelumnya seperti sidang BPL 2002 seperti niktik wari, cabur bulung, ndilo warin udan, petalayoken, nengget, perumah begu sebagai hasil konpen)
  • Mengenai merdang dibuat liturgi menaken merdang (kontekstualisasi)
  • Mengenai kerja tahun dibuat liturgi ibadah keluarga sebagai ucapan syukur dalam kerja tahun
  • Mengenai bangunan gereja yang kontekstual dibuat pengelayasi  prinsip-prinsip teologis yang berhubungen dengan tradisi calvinis seperti mimbar, posisi pertua diaken, dll
  • Mengenai praktek erlau-lau dilakukan pengkajian lebih lanjut sebagai bentuk kontektualisasi pelayanan agar tidak terjatuh ke dalam sinkretisme.
  1. Penyempurnaan Pengakuan Iman Rasuli Dalam Bahasa Karo
    • Melihat latar belakang dan memperhatikan berbagai terjemahan yang memakai dua kali pengulangan dalam frase Allah Bapa Yang Maha Kuasa, bahasa Karo Dibata Bapa Si La Ersibar KuasaNa pada bagian pengakuan akan Yesus. Dan juga di dalam Katekismus Heidelberg, yang diterima GBKP dalam konfesinya yang juga memuat rumusan frase Allah Bapa Yang Maha Kuasa maka diputuskan penyempurnaan Pengakun Kiniteken. Sebagai berikut:

Aku tek man Dibata Bapa si La Ersibar KuasaNa, sinepa langit ras doni.

Aku tek man Yesus Kristus, AnakNa si tonggal Tuhannta,

Si jadi arah Kesah si Badia,

Tubuh idur singuda-nguda nari si so keliamen tergelas si Maria,

Si ngenanami kiniseran sangana pemerintahen Pontius Pilatus, ipakuken ku kayu persilang, mate, jenari ikuburken, nusur ku doni kematen, peteluwariken enggo keke ibas si kematen nari, nangkih ku surga, perkundullNa arah kemuhen Dibata Bapa si La Ersibar KuasaNa, jenari reh nge ia pagi, ngeranaken si nggeluh ras si enggo mate.

Aku tek man Kesah si Badia, janah lit sada gereja si Badia, persadan kalak si badia, pengalemi dosa, kinikeken kula, kegeluhen si rasa lalap. Amin

  1. Tentang LPS yang dilakukan di rumah agar dibuat metode untuk pelaksanaanya.

 

  1. Penyisipen Pengurus Konpen

Ketua                           : Pdt. DR. Erick Jonson Barus

Wakil Ketua                : Pdt. Christopher Sinulingga, MTh

Sekretaris                     : Pdt. Setiaulina br Tarigan, PhD

Wakil Sekretaris          : Pdt. DR. Kalvinsius Jawak

Anggota:

Pdt. Riswan Sitepu, STh

Pdt. Natalidna br Tarigan, MTh

Pdt. Magdala S Br Ginting, MTh

Koordinator Wilayah I     : Pdt. Makarios Sembiring, STh                                                            

Koordinator Wilayah II    : Pdt. Agustinus Sembiring, STh

Koordinator Wilayah III  : Pdt. Obet Ginting, STh

Koordinator Wilayah IV  : Pdt. Andreas Brahmana, MA

 

  1. Perwilayahan Konpen GBKP

Wilayah  I    :  Klasis Kabanjahe, Berastagi, Kabanjahe Tiga Panah, Dairi, Sinabun, Dairi, Tiga Binanga, Lau Baleng, Kabanjahe-Sukarame, Munte  ras Barus Sibayak.

Wilayah II     :  Klasis Sibolangit, Medan Kampung Lalang, Binjai Langkat, Kuala Langkat, Pancur Batu, ras Medan Namorambe.

 Wilayah III  : Klasis Medan Delitua, Medan Kuta Jurung, Pembangunen Medan Delitua, Lubuk Pakam, ras Pematang Siantar.

 Wilayah  IV : Klasis Jakarta Banten, Jakarta Kalimantan, Bekasi Denpasar, Sumbagsel ras Riau Sumbar.

Komentar

You May Also Like