GAMBARAN MARTURIA GBKP KE TAHUN 2016

GAMBARAN MARTURIA GBKP KE TAHUN 2016

Pdt. Kongsi Kaban, S.Th

 

Sesuai dengan Amanat Agung dari Tuhan Yesus, Kristus bagi orang percaya: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”( Matius 28:19-20).

 

Maka Marturia sebagai salah satu tugas dari Tri-tugas gereja harus tetap dilakukan. Apabila tri-tugas gereja tersebut dijalankan dengan baik, aktual dan terus menerus,  kita yakin bahwa gereja akan tetap hidup dan berkembang hingga hari kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya.

Sidang Sinode GBKP GBKP yang ke XXXV yang telah berlangsung di Sukamakmur pada tgl. 11—17 April 2015 yang lalu dan berpuncak pada perayaan Jubileum GBKP 125 Tahun di Tanah Lapang Samura Kabanjahe, telah memutuskan perubahan pada susunan BPMK dan persen penyetoran keuangan GBKP. BPMK semakin dirampingkan dan meniadakan Ketua-ketua bidang. Persen pemakaian keuangan untuk pelayanan juga di naikkan di tingkat Runggun, yaitu: 60 % di Runggun dan 40 % ke Klasis dan Moderamen. Hal ini tentu akan mengubah cara kerja di semua bidang pelayanan, termasuk di Marturia. Semua pembinaan dan pelaksanaan kegiatan Pekabaran Injil (selanjutnya disingkat PI) bertumpu di tingkat Runggun. Hal ini memang menuntut kedewasaan Runggun.

Demi terlaksananya Tugas PI ini oleh setiap anggota Jemaat, Keluarga, Sektor, Bajem dan Runggun di seluruh GBKP memang terasa bahwa kita masih membutuhkan Tim yang tangguh di tingkat Klasis. Kemudian tim ini yang akan menghidupkan Tim PI di setiap Runggun di Klasis terkait, setidak-tidaknya  seperti gambaran Unit yang ada di Tingkat Moderamen. Mungkin di tingkat Runggun tidak perlu dibuat Unit-unit seperti di tingkat Moderamen, tapi makna yang terkandung di setiap Unit di tingkat pusat ini terlaksana di tingkat Runggun, yaitu seperti uraian di bawah ini :

  1. PI Ke Luar Ke Dalam.
  2. Pembinaan PI Bagi Seluruh Anggota Jemaat.

Melaksanakan PI adalah tugas tanggungjawab setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, Kristus. Murid Kristus yang baik adalah murid yang suka bersaksi tentang kehidupan kekal yang dianugrahkan oleh Tuhan kepadanya. Jadi bisa dikatakan bahwa, bila ada anggota jemaat GBKP yang tidak suka atau tidak mampu untuk mengabarkan Injil, sebenarnya ia belum selesai di-Injili dan belum tamat Sidi (ngawan). Memang PI bukan hanya disampaikan dengan kata-kata, tapi juga harus melalui seluruh sisi-sisi kehidupan anggota jemaat. Untuk itu perlu dilakukan Pembinaan PI secara terus-menerus. Untuk memampukan setiap anggota jemaat untuk memberitakan Injil, setiap Runggun, Bajem dan Sektor perlu melakukan pelatihan PI Pribadi dengan Metode EE (Evanglism Explosion), dimana pada Sidang Sinode 2015 yang lalu diterjemahkan menjadi Eta Erberita Si Meriah. Dengan pembinaan EE, GBKP dapat memberikan keyakinan yang kuat kepada setiap anggota jemaat, tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus dan semangat untuk menyaksikannya kepada semua orang dan di mana saja. Sebenarnya, bila kita ingin memperbaiki mutu jemaat kita ke generasi yang akan datang, pelatihan EE dibuat sebagai salah satu persyaratan menerima Sidi (ngawanken) di GBKP.

 

Setelah sejauh ini kami mendalami metode PI Pribadi EE ini, ada beberapa makna yang kami temui yang bisa kita petik dari dalamnya, yaitu :

  1. Mampu meningkatkan keterampilan untuk bersahabat sebagai pendahuluan melakukan PI secara pribadi dalam pergaulan kehidupan sehari-hari.
  2. Membawa kita kepada kepastian akan keyakinan yang kuat tentang keselamatan di dalam pengorbanan Yesus Kristus, yang betul-betul memampukan kita untuk bersaksi dengan meyakinkan.
  3. Mengubah pandangan kita tentang kematian, harta, jabatan, harga diri yang terlalu tinggi dan hal-hal sekuler lainnya ke arah yang lebih rohani.
  4. Memberikan keterampilan untuk memberitakan Injil secara pribadi, singkat, jelas, sistematis dan efektif.
  5. Mengembangkan kesukaan ber-PI dengan melibatkan setiap anggota jemaat, mulai dari anak-anak sampai lansia sekalipun.
  6. Dan makna lainnya yang masih ingin kita gali secara terus menerus. Sesuai pernyataan dan kenyataan yang ada, hingga saat ini memang metode EE masih merupakan metode PI pribadi yang terbaik dari yang kita kenal.

Maka mari secara bersama kita implementasikan metode ini di semua daerah dan tingkatan pelayanan di GBKP, kelak akan mengubah semangat kita untuk bermissi ke depan.

Selain pelatihan EE, tentu harus juga dilakukan pembinaan PI dengan pendekatan-pendekatan lain, seperti: Pendekatan Ekonomi, Spiritualitas, Kepemimpinan, Budaya dan Kekeluargaan, Pendidikan, Pastoral, Okultisme, dll.

 

  1. Melakukan KKI dan Pemutaran Film.

Untuk meningkatkan semangat PI ke luar dan ke dalam, sekaligus penguatan persekutuan di tengah-tengah Runggun, perlu juga dilakukan 2 (dua) atau setidaknya sekali Kebaktian Kebangunan Iman (KKI) dan pemutaran Film di setiap Runggun. Dengan mengundang para seniman (artis penyanyi, pemusik dan pelawak rohani)  yang bertalenta di Runggun dan Klasis masing-masing, maupun dari GBKP secara keseluruhan. Dengan harapan, kegiatan ini dapat memecahkan kejenuhan di dalam rutinitas kegiatan di sepanjang tahun.

 

  1. Missioner Dalam Missi

Sehubungan dengan penekanan tema pelayanan GBKP di Tahun 2016, maka di bidang Marturia juga kita harus Missioner, dalam arti kita mengupayakan agar kita dapat mengutus Missionaris untuk menjangkau orang-orang yang berada di luar GBKP, yaitu Suku terabaikan dalam PI, yang sebenarnya masih ratusan jumlahnya di Indonesia. Memang kita sadar bahwa itu bukanlah hal yang mudah. Harus dengan perencanaan yang matang dan dengan bekerja sama dengan lembaga-lembaga missi lain yang sudah lama menangani bidang tersebut.

Memang ada yang berpendapat bahwa dengan hadirnya GBKP mulai dari Aceh sampai ke Indonesia bagian timur, itu memang sudah menjadi utusan GBKP untuk membawa Missi ke seluruh Indonesia, tapi bagaimana kita lebih menyadari, serius dan lebih terprogram melakukan pelayanan di bidang ini.

 

  1. Unit Dialog Antar Iman (DAI).

Sadar atau tidak, setuju atau tidak, kita di Indonesia berada di tengah kehidupan yang majemuk dan kita harus rukun antar satu agama dengan agama yang lain. Kemampuan untuk bedialog antar iman harus didasari dengan iman yang dewasa. Iman yang tidak dewasa akan senantiasa berjalan dalam kecurigaan. Bukan perbedaan yang dikembangkan tapi carilah titik temu dan tingkatkan pemahaman antar yang satu dengan yang lain.

 

Di dalam program DAI perlu diadakan  kepengurusan di setiap klasis, sehingga bisa dibuat pemetaan. Di mana daerah yang rawan konflik dan di mana yang rukun dan saling menghargai.

Untuk membina hubungan antar umat beragama ke depan di suatu daerah, perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat menjawab tantangan bersama di dalam kehidupan sehari-hari (dialog life).  Contoh: membersihkan kuburan desa, pengadaan air bersih, bersama menghadapi penyakit sosial, seperti: narkoba, pergaulan bebas, perjudian dll. Jadi hindari dialog di seputar ajaran agama dan ayat-ayat kitab suci masing-masing, yang memang sulit untuk mencari titik temu. Tapi biarlah kegiatan bertemu di seputar kebutuhan bersama.

 2.Unit Varia GBKP

Kehidupan gereja dalam sejarahnya tidak pernah terpisahkan dengan musik dan nyanyian. Bahkan ada kalimat mengatakan: ”Gereja yang tetap hidup adalah gereja yang ber-PI dengan liturgi, musik dan nyanyiannya tetap aktual“. Atas kesadaran ini Marturia GBKP mencoba menghidupkan suatu PI melalui media Massa (Radio) dengan melibatkan artis-artis dalam kegiatannya, baik itu artis pemusik, penyanyi dan juga lawak rohani.

 

Untuk mencari bibit-bibit baru dalam hal ini, Varia GBKP juga setiap tahun mengadakan sayembara menyanyi solo, vocal group dan lawak rohani.

 

Tapi ada pemikiran ke depan agar tidak hanya mengadakan sayembara di bidang seni, tapi juga di bidang olah raga, agar lebih semarak dan bermanfaat untuk jiwa sportifitas dan kesehatan.

3.Unit Wisata Rohani

Apa yang terjadi di GBKP pada saat ini, tidak terlepas dari apa yang telah terjadi di masa lalu. Dengan mengenang sejarah masa lalu sebenarnya kita menunjukkan kebesaran kita pada hari ini. Jadi tempat-tempat bersejarah di GBKP perlu kita kelola secara bertahap mulai dari sekarang. Mulai dari Buluhawar dan tempat lainnya perlu dibuat tanda-tanda bahwa Tuhan hadir membawa KasihNya terhadap wilayah tersebut, baik di Tanah Karo, Perbatasan Karo dengan Simalungun, Deliserdang, Langkat dan daerah lainnya.

 

Hasil keputusan Sidang Sinode GBKP XXXV tanggal 11-17 April 2015 di Sukamakmur mengharapkan agar Wisata Rohani Buluhawar dibuat master plannya. Agar ke depan dibangun dengan mengajak seluruh potensi yang ada di GBKP. Demikian juga tempat-tempat bersejarah lainnya, diharap kepada Klasis setempat agar memperhatikan dan mengembangkan di wilayah masing-masing.

 

Khusus di Buluhawar kita punya harapan ke depan agar di sana diupayakan sebagai pusat pembinaan missi GBKP ke depan.

 

  1. BP3B dan Museum
  2. Melakukan Penggalian, Pengembangan dan Pelestarian Budaya (BP3B) Karo Sebagai Pendekatan PI.

Injil dapat dimengerti dan tidak terasa asing bagi masyarakat, apabila diberitakan dalam bahasa dan budaya setempat. Untuk itu di dalam ber-PI sangat dibutuhkan kontekstualisasi, agar si penerima merasa memiliki. Untuk itulah Allah berinkarnasi (menjelma) ke dalam kehidupan manusia, agar dimengerti dan diterima. Atas kesadaran inilah para Missionaris pertama ke Karo mencoba melakukan pendekatan PI kepada orang Karo dan menterjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Karo.

 

Memang dalam usaha mempertemukan Injil dan budaya itu perlu berhati-hati agar tidak merusak kemurnian dari keduanya. Untuk itu dibutuhkan pemahaman bagi kedua belah pihak. Dibutuhkan orang yang memahami budaya dan Injil itu sendiri.

 

Atas upaya para pelayan terdahulu, memang tak dapat dipungkiri bahwa GBKP telah menjadi salah satu lembaga yang melestarikan budaya Karo.

 

  1. Mengembangkan Museum GBKP menurut Potensi Wilayah Masing-Masing.

Museum GBKP yang telah berdiri di Sukamakmur, yang telah dinikmati oleh banyak orang akan kita kembangkan terus. Oleh sebab itu diharapkan peran dari setiap klasis untuk terus melengkapi benda-benda yang berlatar belakang budaya Karo dan sejarah Gereja di sana. Demikian juga tentang perkampungan Karo yang berlokasi di belakang Museum tersebut telah dibangun rumah adat dan lesung. Perkampungan itu akan terus disempurnakan dengan mengharapkan keikutsertaan dari seluruh potensi dari seluruh jemaat GBKP.

Komentar

Mungkin Anda Menyukai