KOINONIA SEBAGAI TATANAN HIDUP KELUARGA ALLAH

KOINONIA SEBAGAI TATANAN HIDUP KELUARGA ALLAH

Visi GBKP

“Nggeluh selaku aron Dibata, jadi pasu-pasu man isi doni”

Menjadi kawan sekerja Allah untuk menyatakan rahmat Allah kepada dunia, yang membawa tangan Yesus dalam menopang sesama dalam pergumulan hidupnya

Pdt. Krismas Imanta Barus,S.Th, LM

 

 

Visi ini memiliki efek berantai dan implikasi fundamental bagi kehidupan. Mari kita perhatikan:

Kawan sekerja Allah berarti bekerja bersama Allah mengerjakan pekerjaan Allah,

Mengerjakan pekerjaan Allah berarti hidup dalam cara kerja Allah,

Hidup dalam cara kerja Allah berarti hidup dalam hati dan pikirannya Allah,

Hidup dalam hati dan pikiran Allah berarti hidup sebagai manusia yang segambar dengan Allah.

Visi ini merupakan impian dan kerinduan terbesar GBKP yang ingin kita wujudkan sebagai budaya kehidupan bersama. Pentingnya Visi ini dikarenakan dunia ini membutuhkan tatanan nilai yang menjadi budaya hidup yang sangat mendasar, erat dalam persekutuan dan kesalingtergantungan sebagai keluarga besar kehidupan yang diciptakan Allah.

I.TAWARAN TATANAN HIDUP ZAMAN INI

Kita hidup di jaman yang disebut era modernisasi – globalisasi, yang gencar dan lihai menawarkan nilai-nilai dan ukuran kesuksesan hidup yang dikemas dalam tawaran yang sangat menarik. Umpamanya: ciri orang sukses adalah lebih besar dari orang lain, lebih tinggi, lebih kuat, keren, dan masih banyak lagi. Menjadi pribadi yang lebih, tampaknya memiliki tempat spesial dalam kebutuhan psikologi manusia. Hal ini adalah hal yang wajar, dan karena wajarnya, ia gampang terkoneksi dan mempengaruhi manusia.

Karena daya tarik tawaran ini, manusia sangat mungkin menjadi lupa untuk mengamati kebenaran hakiki dan efeknya. Beberapa efek fenomenal yang tampak, zaman ini telah menggiring pikiran manusia ke dalam persaingan hidup yang bermuara pada keterpisahan manusia dengan sesamanya. Manusia dipanggang dalam perasaan takut tidak mampu memenuhi ukuran yang digembar-gemborkan zaman ini. Dalam perjuangannya, manusia terjebak dalam rutinitas yang menjenuhkan, yang mejauhkan manusia dari ketenangan jiwa, dan memisahkan manusia dari indahnya kehidupan keluarga. Tidak jarang manusia zaman sekarang mendapati dirinya berada dalam keletihan dan kehampaan jiwa. Kondisi ini sangat berpotensi menurunkan makna kehadiran manusia, baik MAMRE, MORIA dalam keluarga, yang sebenarnya dihadirkan Tuhan sebagai penyangga iman dan moral anak.

Agaknya, zaman ini sukses menanamkan perasaan kekurangan dan ketidakpuasan dalam hidup, sehingga manusia berjuang mengejar hal-hal yang tingkat kepentingannya belum teruji bagi kebaikan hidupnya. Roh zaman ini mengalir hampir di semua lini kehidupan, seperti sistem perekonomian, teknologi, pendidikan, termasuk keagamaan, yang berpotensi menguatkan nilai-nilai sekularisme, individualisme dan konsumerisme di masyarakat.

Efek lanjutannya, meningkatnya gejala stress yang bermuara pada kesuaman iman, keharmonisan rumah tangga, persekutuan keluarga, jemaat dan masyarakat. Tawaran zaman ini juga menguntit kehidupan para pelayan gereja dan masyarakat. Sehingga dapat juga ditemukan nuansa rutinitas, kejenuhan, maupun persaingan yang menggantikan jiwa persekutuan dikalangan pelayanan gereja.

Menurut data statistik, jemaat GBKP yang tekun beribadah atau mengikuti kegiatan gereja sekitar 40%. Data ini memberi pesan yang cukup jelas tentang kondisi persekutuan jemaat yang rapuh sebagai anggota keluarga Allah. Dan yang 60% lagi merupakan posisi rawan bagi masuknya pengajaran dan tatanan nilai kehidupan yang merusak kehidupan jemaat. Tak mengherankan, kita sering melihat keluarga yang berantakan dan kehancuran generasi muda karena tingginya peredaran narkoba maupun penyakit HIV AIDS dan penyakit sosial lainnya.

Semua kondisi ini, berakar pada cara manusia memahami dan memaknai kehidupan mereka. Jika cara berpikir zaman ini tidak mampu memberi jalan keluar, maka amatlah diperlukan kehadiran pola pikir yang membantu kita untuk melihat kehidupan dengan cara yang benar. Sehingga, kalaupun dunia tidak bisa dikendalikan, tapi orang percaya bisa memilih dan merasakan apa yang baik dalam kondisi kehidupan yang tidak baik.

II.KEKUATAN YANG HILANG

Kelemahan adalah suatu faktor kekuatan yang seharusnya dimiliki oleh gereja kita, namun ia tidak aktif atau kabur, sehingga ia menjadi titik lemah kita. Kelemahan berarti kekurangan-kekurangan yang berasal dari kita, termasuk dari dalam gereja kita sendiri yang memperlambat proses pencapaian Visi GBKP. Beberapa diantaranya:

  1. Pengajaran dan Nilai-nilai iman
    • Pengajaran iman yang tidak mendasar dan kontekstual untuk menjawab kontekstual kehidupan jemaat, ditambah kurangnya pergumulan yang konsisten dan efektif dalam menanamkan dan memelihara pengajaran iman.
    • Kurangnya kepekaan dan benteng pertahanan yang teguh terhadap masuknya nilai-nilai kehidupan yang merusak persekutuan dan kesalingtergantungan sebagai tubuh Kristus
  1. Upaya Kontekstualisasi dan Penggalian Nilai –Nilai Budaya

Sedikitnya upaya menggali potensi dan nilai-nilai budaya yang dapat menjadi gerbang masuk dan proses integrasi pengajaran Yesus

  1. SDM

Bergesernya makna “Aron/Kawan Sekerja Allah” yang dipanggil untuk membawa hati Kristus dalam pelayanannya, yang memiliki pikiran Kristus dalam rancangan baiknya, yang membawa wajah Kristus dalam komunikasinya, dan yang membawa tangan Yesus dalam menopang sesama dalam pergumulan hidupnya

  1. Management Gereja

Sebuah tatanan hidup yang digumuli dan dipelihara sebagai kehidupan bersama, yang sakral dan kudus, yang berfungsi memfasilitasi proses pertumbuhan dan pendewasaan iman bersama, yang berkarakter tapi fleksibel dalam mengakomodasi proses pertumbuhan gereja.

 III.PELUANG/KESEMPATAN GEREJA

Peluang/Kesempatan; adalah faktor pendukung dalam pengembangan dan stabilitas organisasi. Faktor pendukung ini merupakan faktor yang berasal dari luar organisasi, seperti relasi dengan lingkungan, system, nilai, budaya dan SDM yang mendukung.

 

  • Jemaat dan masyarakat masih memiliki harapan besar atas fungsi kehadiran gereja untuk menguatkan mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan dan memperbaharui kondisi kehidupan mereka
  • Gereja kita masih tetap mengimani panggilan Allah untuk menjadi berkat bagi dunia
  • Budaya dan masyarakat Karo sebagai tempat GBKP di utus oleh Tuhan, sangat mementingkan kekeluargaan, persekutuan dan kesalingketergantungan.
  • Gereja dan masyarakat kita hidup dalam budaya yang sangat menghargai “runggu” (dialog dan berdiskusi) dalam melakukan pelayanan.
  • Anggota jemaat kita hidup dan bekerja dalam berbagai kondisi yang sebenarnya strategis dalam menanamkan dan mengimplementasikan pengajaran Yesus dalam pembaharuan kehidupan masyarakat dan negara kita
  • Masih banyak sahabat-sahabat kita (Baik gereja lain, agama lain, maupun pemerintah) yang memiliki kerinduan yang sama dalam membangun kehidupan masyarakat yang baik

IV.KEKUATAN HARAPAN

Kekuatan/faktor pendorong dalam bidang koinonia gereja kita adalah Unit-unit Koinonia, seperti: Moria, Mamre, Permata, KAKR, Lansia, BPIMG dan Biro Pastoral Konseling, yang didasarkan pada nilai-nilai Alkitab, budaya, yang akan terintegrasi dalam proses pengembangan SDM dan pelayanan gereja kita.

V.MENGAPA KITA MEMBUTUHKAN KOINONIA TRANSFORMATIF?

Sebelum kita membahas pertanyaan ini, ada baiknya jika kita mencoba terlebih dahulu memahami arti kedua kata tersebut.

 a.ARTI KOINONIA

Koinonia berarti persekutuan atau keluarga. Alkitab menyaksikan bahwa Koinonia atau keluarga adalah persekutuan pertama yang diciptakan Allah di dunia. Hal ini menegaskan bahwa keluarga merupakan dasar dari kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang dapat hidup, bertumbuh dan berkembang tanpa keluarga. Alkitab menegaskan, bahwa persekutuan sebagai keluarga Kristus merupakan jati diri gereja, dan sebagai salah satu tugas panggilan gereja (Koinonia), karena gereja bertumbuh dan kuat jika hidup dalam persekutuan sebagai anggota keluarga Allah. Konsep koinonia ini dipelihara dan tetap dipercayai sebagai dasar eklesiologi jemaat sampai saat ini.

 

Sebagai keluarga, anggota gereja hidup dalam kesalingtergantungan dan sistem kepedulian yang unik (yang berbeda dengan dunia ini), yang diasah dan diteguhkan dalam Ibadah, PJJ, PA dan Perjamuan Kudus sebagai komunitas yang kudus. Keluarga Allah dipanggil untuk tetap setia dalam iman namun fleksibel dan dinamis menghadapi pergumulan hidup sampai penggenapan Hari Tuhan (parusia).

 

Karena itu, spirit penggerak gereja adalah persekutuan interdependence yang sinergis:

  • Interdependency, adalah kehidupan dalam kesalingtergantungan sebagai anggota keluarga/tubuh Kristus.
  • Persekutuan itu nampak dalam Kolaborasi Sinergis, yang saling menopang, peduli, memberi diri kepada orang lain, dan kepada seluruh ciptaan, kepada unit-unit pelayanan gereja, termasuk kepada unit-unit pelayanan masyarakat dan pemerintah

b.TRANSFORMASI

Kata transformasi berasal dari kata, ‘trans dan form.’ Trans berarti melintasi (across), atau melampaui (beyond). Kata form berarti bentuk. Secara sederhana, kata Transformasi mengandung makna perpidahan/perobahan dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain.

 

Lebih dalam, transformasi dapat kita amati dalam proses metamorfosis; perubahan dari ulat menjadi kupu-kupu atau dari kecebong menjadi katak. Di sini, tidak hanya perubahan bentuk saja yang terjadi, tetapi meliputi juga sifat, cara hidup, makanan dan habitatnya pun berganti. Tidak ada yang tersisa dari kehidupan ulat atau kecebong pada kehidupan kupu-kupu atau katak. Perubahan ini sungguh sangat berbeda dengan yang terjadi pada anak kerbau ketika menjadi kerbau dewasa. Pada anak kerbau, yang terjadi hanya perubahan fisik saja, tidak lebih dan tetap kerbau juga.

 

Perhatikan perbedaan antara ulat dan kupu-kupu sebagaimana tabel berikut:

 

  Ulat Kupu-Kupu
Sifat Merusak, gatal Membantu penyerbukan
Tampilan Buruk Cantik, Indah
Bentuk Bulat, panjang, tak bersayap, berkaki lebih dari enam Ramping, bersayap, berkaki enam
Gerakan Merayap, lamban Dapat terbang, lebih cepat
Makanan Daun, buah Nektar
Habitat Tumbuhan dan sekitarnya Lebih luas
Jangkauan Terbatas pada tumbuhan yang ada di sekitarnya Daya jelajah lebih luas

 

Makhluk diatas menjadi mahluk dengan kehidupan yang sama sekali berbeda. Tidak sekadar bentuk fisiknya saja tetapi termasuk juga ‘roh’ dan cara hidupnya. Seekor anak kerbau kurus yang bertumbuh menjadi kerbau dewasa yang gemuk tidaklah dikategorikan sebagai transformasi. Jadi, transformasi dapat diartikan sebagai perubahan yang bersifat MENDASAR, MENYELURUH, dan STRATEGIK.

C.KOINONIA TRANSFORMATIF

Koinonia Transformatif adalah upaya mengangkat nilai dan makna dari rencana Allah yang menciptakan manusia menurut gambarNya, dan makna kehidupan sebagai keluarga Allah. Dalam kesegambaran itu, manusia dimaksudkan untuk hidup dalam misi Illahi, yakni memelihara dan menjaga kehidupan seluruh ciptaan untuk tetap baik dan layak dihuni sebagai tempat kehidupan bersama seluruh ciptaan. Segala kegiatan yang tidak membaikkan bagi kehidupan bersama adalah penyelewengan atas rencana Allah dalam memberikan kehidupan kepada kita.

 

Peciptaan menurut gambar Allah mencerminkan kualitas Hati dan Pikiran Allah yang suka membuat kehidupan ini mulia dan terhormat seperti diriNya. Jika manusia segambar dengan Allah, maka hati dan pikiran yang terdapat pada Allah adalah juga hati dan pikiran yang ditanamkan dalam kesegambaran manusia dengan Allah. Dengan kata lain, Hati dan pikiran Allah inilah penggerak dan wujud dari manusia, kehidupan gereja dan anggotanya.

 

Hidup Sebagai Keluarga Allah, adalah tanda kasih dan pemeliharaan Allah. Dalam persekutuan sebagai keluarga ditemukan kasih, kemauan memahami, penerimaan dan pengorbanan untuk kebaikan bersama. Keluarga mengabdikan diri untuk mengangkat, menguatkan dan membahagiakan. Keluarga juga memiliki system keadilan yang berkorban demi kebaikan keluarga. Memberi diri adalah jiwa dari sebuah keluarga. Keluarga adalah satu-satunya tempat untuk kembali ketika manusia lelah menghadapi pergumulan hidup. Setiap budaya dan zaman di dunia ini mengenal dan memiliki konsep kekeluargaan sebagai tumpuan hidup. Keluarga menghasilkan tatanan hidup, system relasi dan persekutuan terbaik yang paling mampu menyatukan manusia dengan sesamanya lebih dari semua kesepakatan organisasi di dunia ini.

 

Karena itu keluarga sebagai Koinonia adalah opsi terbaik dan yang telah teruji sepanjang sejarah kehidupan manusia. Keluarga adalah kehidupan yang mampu mencegah dan menghilangkan dunia individualisme dan persaingan yang ditawarkan dunia ini.

VI.IMPLEMENTASI KOINONIA TRANSFORMATIF

Dari uraian di atas, maka Koinonia Transformatif dapat didefinisikan sebagai proses perubahan kehidupan yang besifat mendasar, strategik dan menyeluruh menurut rencana Allah menciptakan kita manusia, menurut gambar Allah dan sebagai anggota keluarga Allah..

Perubahan mendasar dapat diartikan sebagai perubahan atas pondasi kehidupan kita yang beralih dari individualisme dan persaingan kepada kehidupan memberi diri demi kebaikan orang lain. Perubahan mendasar ditandai dengan perubahan tata nilai atau values dalam gereja dan keluarga, yang kita imani sebagai Pondasi Utama dan budaya Pelayanan. Perubahan ini berarti, gereja menolak dengan tegas semua pikiran atau ide yang memperlebar jurang pemisah antar sesama, antar runggun, klasis dan unit pelayanan sebagai kesatuan Tubuh Kristus.

Perubahan strategik dapat diartikan sebagai perubahan yang menyangkut kerinduan terbesar setiap anggota jemaat dan para pelayan gereja. Dalam metafora proses metamorphosis kupu-kupu, di analogikan dengan perubahan sifat ulat yang semula merusak karena memakan tanaman, menjadi kupu-kupu yang berguna yang memberi keindahan dan membantu penyerbukan tanaman. Disamping itu jangkauan gerak yang semula terbatas disekitar tanaman tempat ia (ulat) dilahirkan menjadi lebih luas karena kupu-kupu dapat terbang dengan jangkauan kebaikan yang lebih meluas. Hidupnya indah bukan untuk dirinya sendiri, tapi indah bagi ciptaan lain.

Dan perubahan menyeluruh dapat diartikan sebagai perubahan dalam semua aspek pengorganisasian Gereja, yang diselaraskan dengan visi, misi, tata nilai dan strategi pelayanan gereja, menjadi “HIDUP BERSAMA SEBAGAI TEMAN SEKERJA ALLAH” (NGGELUH JADI ARON DIBATA).  Visi ini yang sarat dengan nilai-nilai persekutuan dan kekeluargaan inilah yang harus menjadi jati diri gereja yang ditegaskan dalam semua kegiatannya.

Di dalam budaya Karo, Aron adalah Team Work yang akan berjuang bersama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan di sebuah ladang. Aron akan tetap bekerja bersama walau kekuatan, kemampuan dan kecepatan tiap-tiap orang berbeda. Perbedaan, kekuatan dan kelemahan tidaklah menjadi sumber keterpisahan bagi mereka, tapi justru menjadi tempat bagi orang yang kuat untuk menunjukkan kasihnya. Tradisi aron, adalah tatanan hidup yang menepis individualisme dan ego yang merusak kehidupan bersama.

Jika spirit Koinonia (Kekeluargaan dan Aron) menjadi spirit gereja dan masyarakat, maka GBKP akan memiliki pelayanan yang benar-benar menjadi berkat bagi dunia. Spirit ini juga akan mewarnai sistem manajemen (seperti: manajemen perencanaan, operasi, SDM, pelayanan, keuangan, dll) yang akan menghidupkan kembali budaya interdependensi yang saling menopang dan menguatkan satu dengan yang lainnya.

Sebagaimana pada metamorphosis ulat menjadi kupu-kupu, Koinonia Transformasional hidup dalam dan menghormati adanya masa transisi. Berproses adalah hal yang alamiah dan wajar. Namun godaan yang sering muncul dalam kehidupan gereja kita adalah cara berpikir yang fragmatis. Manusia ingin segala sesuatu serba cepat dan tidak sabar dalam proses pematangan. Pada hal proses adalah bagian dari latihan pematangan jiwa. Koinonik adalah kualitas persekutuan bertumbuh dalam kesetiaan, kesabaran yang tahan uji oleh tantangan jaman, karena kehidupan Iman dibentuk dalam proses-proses kehidupan. Koinonia adalah pondasi yang memiliki fleksibilitas yang membangun kebaikan anggota keluarga.

VII.HARAPAN

  • Gereja (GBKP) sebagai sebuah lembaga pembaharu nilai-nilai dan tatanan kehidupan jemaat yang berorientasi kepada kehendak Allah, dalam menjalankan misinya harus tetap kokoh dan efektif sebagai:
  • Gereja sebagai Lembaga penguatan iman bagi seluruh lapisan jemaat
  • Gereja sebagai Lembaga penguatan nilai-nilai sosial antar jemaat dan kepedulian terhadap kemanusiaan
  • Gereja sebagai Lembaga pendorong bagi perbaikan dan penguatan ekonomi jemaat
  • Gereja sebagai Lembaga yang mampu menjalankan peran “ombudsman” (lembaga yang efektif dalam menemukenali, menampung dan membantu penyelesaian konflik antar warganya) berdasarkan keimanan dan kesaksian
  • Gereja sebagai Lembaga yang efektif dalam melakukan pembinaan warga jemaat
  • Gereja sebagai Lembaga yang efektif dalam pengembangan potensi sumber-daya manusia
  • Gereja sebagai Lembaga yang professional dalam pengelolaan organisasi dan manajemen

VIII.SPIRIT KERJA KOINONIA

Mengingat pergumulan ini, maka bidang Koinonia GBKP melalui unit-unit pelayanan mencoba bergumul mengangkat Spirit Koinonis (Spirit Persekutuan sebagai Keluarga Allah) yang hidup dalam kesalingtergantungan satu sama lain. Koinonik pondasi bagi kehidupan iman jemaat, yang kemasannya disesuaikan dengan kebutuhan kategori usia masing-masing; baik anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan lansia (Ef.4). Bentuk-bentuk pertemuan, sharing, Penelaahan Alkitab (PA), retreat, dll, membutuhkan pendekatan yang unik yang dikembangkan secara kreatif.

Dengan demikian, semua wujud persekutuan akan membantu warga hidup dalam pengajaran dan teladan Kristus sebagai pondasi iman yang sehat sehingga mampu menyikapi tantangan zaman ditengah realita kehidupan; sosial, politik, ekonomi, ekologi dan sebagainya. Akhirnya setiap warga sadar akan dirinya sebagai bagian integral gereja yang memiliki panggilan untuk mendukung misi gereja melalui talenta dan kharisma yang dimilikinya (imamat am orang-orang percaya). Tanpa hidup dalam persekutuan gereja sebagai Tubuh Kristus (koinonia) akan beralih menjadi komunitas politis (political community).

Secara khusus pada tahun 2016, fokus perhatian gereja kita adalah mendorong jemaat/Runggun hidup sebagai barisan terdepan dalam melakukan tugas-tugas panggilan gereja. Karena jemaat adalah posisi strategis  (aplikatif) bagi pembaharuan kehidupan bangsa dan negara kita.

IX.BUDAYA KARO SEBAGAI IMPLEMENTASI SPIRIT KOINONIS

 Budaya karo merupakan tatanan hidup yang sangat menarik dalam aspek persekutuan dan kekeluargaan, yang nampak dalam “Rakut si telu, tutur si waluh, Perkade-kaden si sepuludua tambah sada”.

Dalam tulisan ini, kita akan membahas keindahan yang istimewa dari tatanan diatas, umpamanya, rakut si telu. Rakut si telu ini merupakan tatanan hidup dalam pola berpikir multi level mindset. Setiap orang dalam konteksnya bisa menjadi Kalimbubu (orang yang di tuakan, dihormati atau dirajakan), menjadi Sembuyak (orang yang mempersatukan keluarga dan saudara untuk membangun kehormatan hidup bagi kalimbubu) dan menjadi Anak Beru (sebagai orang yang menghambakan dan melayankan dirinya demi kabaikan kalimbubu dan pihak sembuyak).

Secara sederhana, tatanan hidup orang Karo sangat menghormati semua posisi kehidupan. Semua posisi sangat terhormat dan menyatu dalam kesalingtergantungan. Keistimewaan budaya orang Karo dibangun dalam pikiran, karakter dan mental yang bisa hidup sebagai raja, sebagai kerabat dan pelayan.

Pikiran ini sama seperti Allah Tri Tunggal, yang adalah Raja atas kehidupan (Kalimbubu), tapi juga datang ke dunia menjadi sama seperti manusia (Sembuyak), dan sebagai Roh Kudus menjaga kehidupan manusia walau IA tidak kelihatan.

Kombinasi Ke-Tritunggalan Allah dan Rakut Si Telu dalam budaya karo adalah potensi Koinonis yang sangat istimewa dalam membangun tatanan hidup manusia yang dapat kita mulai dari GBKP yang dipanggil Tuhan hidup dalam konteks budaya Karo.

X.PENUTUP

Tidaklah kebetulan dan bukan kesilapan, GBKP dengan sangat sengaja, dirancang dan dipanggil Tuhan untuk hidup dalam konteks budaya Karo, agar GBKP dapat membangun Budaya Koinonis sebagai tandingan bagi tatanan hidup yang ditawarkan jaman ini. Semua posisi kehidupan ada dalam kehormatan dan kemuliaan Tuhan. Semua posisi adalah berharga dan terhormat di mata Tuhan. Sehingga kita tidak perlu lagi melihat perbedaan sebagai ancaman, tidak perlu lagi menjadi pribadi yang terasing karena ukuran sukses yang dapat memisah-misahkan kita.

Selamat memasuki tahun tatanan hidup baru sebagai keluarga Kristus.

Salam Kabid Koinonia

(Pdt. Krismas Imanta Barus,M.Th,LM)

Komentar

Mungkin Anda Menyukai