MISI DIAKONIA

MISI  DIAKONIA

Pdt Rosmalia Barus. S.Th

 

Sebagaimana visi GBKP lima tahun ke depan yaitu agar seluruh anggota jemaat dapat menjadi kawan sekerja Allah yang membawa rahmat/kebaikan Allah dimana saja dia berada (1 Korintus 3:9 dan I Petrus 2:9-10) maka Bidang Diakonia akan melakukan berbagai kegiatan yang akan mendukung ke arah tersebut. Rahmat Allah yang akan membawa kebaikan kepada jemaat dan masyarakat tersebut, dapat diimplementasikan dalam berbagai kegiatan pelayanan nyata  yang kita kenal dengan bidang pelayanan Diakonia.

GBP GBKP juga telah menetapkan tujuan GBKP yaitu  “Meningkatnya panggilan dan komitmen warga dalam melakukan pelayanan (berteologi, pendidikan dan kesehatan, berpolitik dan kegiatan ekonomi, pelestarian lingkungan, budaya dan pemanfaatan teknologi informasi)”.  

Oleh sebab itu salah satu indikator keberhasilan pelayanan GBKP pada tahun 2016 adalah bertambahnya jumlah anggota jemaat terlibat aktif dalam menyatakan/membawa rahmat atau kebaikan Allah tersebut.

Secara spesifik, sasaran  pelayanan tahun 2016 GBKP adalah : “Meningkatkan komitmen warga GBKP  yang missioner untuk berpartisipasi dalam  pelayanan” dengan 5 (lima) butir misi. Dari ke 5 (lima) misi tersebut, bidang Diakonia lebih menekankan kepada pengembangan 3 (tiga) misi di tahun 2016 yaitu :

  1. Turut serta dalam karya penyelamatan Allah di dan bagi dunia dengan melaksanakan persekutuan, kesaksian, dan pelayanan.
  2. Menegakkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan Allah.
  3. Memperkuat semangat gotong royong antar sesama jemaat dan masyarakat.

 

  • LANDASAN TEOLOGIS MISI DIAKONIA

 

Gambaran tentang Gereja dalam  Kisah Para rasul 11:26.  I Kor. 11:18, Ibr 12:22-24  dengan  jelas menggambarkan bahwa gereja (ekklesia) itu sebagai kumpulan orang-orang, sebagai sebuah komunitas. Jadi gereja itu bukan hanya organisasinya, tokoh-tokohnya namun semua orang yang menjadi bagian dari komunitas tersebut.

Sebagai gereja, Yesus tidak pernah mengajarkan agar orang yang menerima Dia memisahkan diri dari dunia ini, hidup secara tertutup (eksklusif). Dalam Matius 17 : 1 -13 diceritakan bahwa Petrus menginginkan supaya didirikan kemah di sebuah gunung pada saat Tuhan Yesus dimuliakan, tetapi Yesus  tetap turun gunung untuk menjawab panggilanNya, berada bersama manusia yang lain, melakukan pekerjaanNya walaupun yang dihadapiNya adalah penderitaan. Dari berada dengan umat itulah Tuhan Yesus semakin menampakkan hakikatnya sebagai Tuhan namun sekaligus juga menyebabkan adanya kesegaran hidup orang-orang disekelilingnya. Ia menjadi Air Hidup dan Roti Hidup yang menumbuhkan kehidupan (Yohanes 6:25 – dst). Gereja sebagai Tubuh Kristus, sudah seharusnya juga melakukan apa yang dilakukan Yesus, berada bersama masyarakat namun tidak lekang dari tanggungjawab panggilanNya serta dapat  memberikan kesegaran hidup, walaupun harus melewati penderitaan.

Seperti kehadiran Yesus di dunia adalah untuk membangun Kerajaan Allah yang adil, sejahtera dan saling melayani, maka kehadiran gereja mewujudkan Kerajaan Allah yang adil, sejahtera dan saling melayani.

Gereja (kita semua) yang adalah imamat rajani (I Pet 2:9) bukan hanya menjadi umat yang minta perlindungan dari pada yang jahat, gereja (kita semua) juga bukan hanya menjadi umat yang minta supaya tiap hari ada roti yang secukupnya, kalau demikian kita tidak menyatu dengan pergumulan dunia ini  untuk menjadi bagian dari Kerajaan Allah .

 

Mari kita refleksikan peristiwa dimana rakyat lebih memilih Barabas daripada Yesus untuk dibebaskan pada peristiwa penyaliban Yesus (Mat. 27: 11-26). Benar bahwa mereka  di hasut oleh para imam. Tetapi perlu juga kita ajukan pertanyaan kristis, apakah mereka  tidak melihat perjuangan Yesus yang tanpa pamrih? Apakah  Yesus pernah menyembuhkan dan minta bayaran? Apakah Yesus pernah merugikan hidup khalayak ramai? Yang merasa dirugikan karena kehadiranNya itu hanya sedikit, dari golongan tertentu saja, tetapi  kenapa orang banyak minta Yesus disalibkan dan Barabas dibebaskan?

Ketika Yesus bersama murid-muridnya dimana Ia bertanya tentang siapakah diriNya, banyak orang mengatakan bahwa Ia itu Yohanes Pembaptis atau Elia. Namun ketika Petrus menjawab bahwa ia adalah Mesias, Simon Petrus diberi nama Petrus (yang berarti batu karang) dan kepadanya diberi kunci kerajaan Surga. Petrus tidak dibawa ke Surga, tetapi ia diberi kunci kerajaan Surga (Matius 16: 13-20). Petrus tidak dibawa untuk meninggalkan kelompoknya, dunianya, buminya yang sedang kacau, namun diberi kunci kerajaan surga. Dari pemahaman di atas, menjadi jelas bagi kita bahwa Gereja, harus berada di dunia ini.

 

  • DIAKONIA SEBAGAI TUGAS GEREJA

Salah satu tugas gereja adalah Diakonia. Berdiakonia adalah pelayanan kasih untuk kesejahteraan manusia (orang lain). Dalam berdiakonia harus ada kesadaran, memberi uluran kepada sesama. Sehingga, berdiakonia juga dapat diartikan berkorban.

Berkorban adalah syarat mutlak untuk mendatangkan kesejahteraan bagi orang lain. Berdiakonia berarti melayani  dan berkomitmen dan itikad baik terhadap penderitaan orang lain saling berbagi dalam beban, agar kelebihan kita mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kita, supaya ada keseimbangan. Paulus menegaskan komitmen tersebut, bahwa orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan (2 Kor. 8: 14-15). Berdiakonia adalah pelayanan kasih tanpa syarat yang digerakkan oleh Roh Tuhan (Gal 5 : 22); yang dinyatakan oleh gereja/setiap orang dengan  dipenuhi rasa kasih sayang, bertanggung jawab, lemah lembut, kesetiaan, suka menolong, murah hati, berhati suci, terus-terang, bersahabat, dan masih banyak lagi. Memberi dari yang ada, membuat apapun yang dilakukan tidak terpaksa, atau harus berhutang. Kemudian memberi yang terbaik, sehingga semua yang dilakukan penuh dengan keseriusan dan rasa penuh tanggung jawab. Dengan demikian berdiakonia adalah jiwa dan raga yang berkorban untuk mendatangkan kesejahteraan bagi orang lain. Paulus meminta agar gereja saling mendukung, memikul, dan menopang.

Dengan demikian, berdiakonia bagi gereja bukan hal asing tetapi telah terinternalisasi (mendarah daging) dalam diri sendiri.

Ada beberapa bentuk pelayanan diakonia yang telah kita kenal yaitu :

 

Diakonia Karitatif adalah salah satu bentuk pelayanan dengan memberi bantuan secara langsung kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti memberi makan, menghibur orang sakit, memberi pakaian dll.   Di GBKP semua Jemaat telah melaksanakannya bahkan kelompok kategorial.

 

Diakonia Reformatif adalah bentuk pelayanan yang dilakukan dengan cara memberikan fasilitas dan keterampilan-keterampilan tertentu bagi kelompok-kelompok yang dibantu, sama seperti DUB. Biasanya sasaran diakonia reformatif kepada individu/perorangan untuk usaha mereka dalam rangka ketahanan ekonomi mereka, biasa juga ini disebut Diakonia Pembangunan (era tahun 60-70) an.

Diakonia Transformatif adalah bentuk pelayanan yang  gereja lakukan dengan mengembangkan bentuk diakonia karitatif dan diakonia reformatif.

 

DIAKONIA TRANSFORMATIF  SEBAGAI KEBUTUHAN YANG MENDESAK DI GBKP

Diakonia Transformatif dikenal juga dengan istilah Diakonia Pembebasan yang bersumber pada kelompok masyarakat, bukan individu. Dalam diakonia transformatif, upaya pemberdayaan, penyadaran, penglibatan dan pengorganisasian oleh jemaat juga masyarakat menjadi kata kunci. Hingga masyarakat tersebut memiliki rasa percaya diri. Menolong masyarakat hingga mampu dan mandiri dalam mengelola dirinya. Dengan demikian masyarakat sendiri dapat dan mampu serta menghadapi dan melawan ketidakadilan melalui kemampuannya sendiri.

Tujuan Diakonia Transformatif

Dari sumber Wikipedia menuliskan bahwa tujuan Diakonia Transformatif adalah untuk mewujudkan perubahan total dalam fungsi dan penampilan kehidupan bermasyarakat, yakni perubahan yang terjadi dalam seluruh aspek kehidupan manusia (aspek politiksosial, dan ekonomi), dan juga membebaskan rakyat kecil dari belenggu ketertindasan struktural yang tidak adil. Selain itu, tujuan jangka panjang dari bentuk diakonia seperti ini ialah perubahan sosial budaya (socio-culture transformation) dan politik jangka panjang. Bentuk diakonia seperti ini ditujukan bagi masyarakat yang terdiskriminasi, tersingkirkan, dan terbuang dari tatanan sosial-masyarakat.

Diakonia Transformatif  lebih bersifat preventif (pencegahan), menjunjung tinggi keadilan, mewadahi partisipasi jemaat/masyarakat, menganalisis persoalan kemiskinan dengan kacamata sosial, melakukan penyadaran dan mengorganisasi masyarakat.  Manfaat dari adanya partisipasi jemaat/masyarakat ialah jemaat/masyarakat dengan sukarela memberikan dirinya, tenaga bahkan dana untuk kegiatan tersebut. Mereka menjadi “pemilik bersama”, bertanggungjawab bersama dalam memeliharanya. GBKP telah memiliki banyak pengalaman tentang hal ini, tetapi belum menyeluruh.

Pada periode ini (2015 – 2020), Tata Gereja GBKP mendorong agar setiap jemaat/runggun, mengembangkan diakonia transformatif, gereja menyatu dengan lingkungan, gereja yang terbuka, inklusif tanpa pernah meninggalkan hakekatnya sebagai gereja. Gereja membemberi kesegaran bagi lingkungannya. Kegiatan yang sudah dilakukan selama ini antara lain : CU,CUM, Proyek Air Minum, Listrik, BPR dll.

Dalam melakukan Diakonia Transformatif ini, gereja memiliki tugas untuk mendampingi, membimbing, mengarahkan dan memberdayakan kemampuan kelompok jemaat dan masyarakat tersebut. Dibutuhkan kerja keras dan kerjasama yang baik dalam mengembangkan Diakonia Transformatif tersebut.

 

MISI DIAKONIA 2016 DALAM BERBAGAI KEGIATAN :

Tahun 2016 sebagai tahun “Meningkatkan komitmen warga GBKP  yang missioner untuk berpartisipasi dalam  pelayanan”  mengajak seluruh jemaat melalui BPMR, BPMK untuk melakukan beberapa kegiatan sebagai mana telah disepakati bersama dalam Sidang Sinode dan SKMS 2015.

Untuk mencapai tujuan pelayanan tahun 2016 tersebut perlu dilakukan berbagai pendekatan dan aktivitas :

  1. Mengkaji ulang (upaya reformasi) landasan teologis Diakonia Karitatif, Reformatif dan Transformatif  di setiap Runggun dan Klasis, sehingga tidak terjebak kepada sifat Serikat Tolong Menolong (STM) dan formalitas.
  2. Pemberdayaan (Capacity Building) terhadap para presbiter, pengurus kategorial, pelayan anak dalam upaya menggali potensi diri menjadi pelayan diakonia di tengah jemaat dan masyarakat.
  3. Menggali dan menumbuhkembangkan potensi jemaat dan masyarakat untuk pelayanan Diakonia yang transformatif.
  4. Menggagas pembentukan dan pengembangan pelayanan Diakonia yang berbasis masyarakat, dengan melibatkan peran serta jemaat sesuai dengan potensinya misalnya :
  • Klinik kesehatan : Kesehatan secara umum, HIV AIDS, diffable, Lansia.
  • Penyediaan pelayanan Rumah/Toko  Diakonia : pasar murah
  • Penyediaan kantong Diakonia tempat stok barang bantuan di Runggun-runggun.
  • Pembentukan dan pengembangan kelompok CU, CUM, Tim HIV AIDS & NAPZA, Kelompok Rehabilitasi Bersumber daya Masyarakat (RBM), Tim Advokasi Kebijakan Daerah dan Nasional yg berbasis keadilan dan kebenaran  di Jemaat
  • Mendata dan membentuk relawan Diakonia Jemaat di bidang : kesehatan, tanggap bencana, peningkatan ekonomi jemaat, lingkungan hidup, pertanian dll serta melakukan pembinaan dan pemberdayaan rutin.
  • Pelayanan kepada anak Yatim Piatu, Lansia, Diffable, kelompok terpinggirkan dan rentan masyarakat, gelandangan, anak jalanan di wilayah Runggun tanpa membedakan agama,suku, ras, daerah, Negara.
  • Membangun solidaritas dengan masyarakat pasca erupsi Gunung Sinabung.
  1. Menjajaki kemungkinan kerjasama (networking)  dan kolaborasi dalam pemasaran hasil produk pertanian, peternakan Jemaat dengan berbagai pihak khususnya dalam merespons MEA.
  2. BPMK melakukan monitoring, analisis dan evaluasi pelaksanaan pelayanan Diakonia di seluruh Runggun.

 

Demikian arah dan misi Diakonia yang hendak dikembangkan di GBKP dengan harapan, seluruh anggota Jemaat GBKP benar-benar dipersiapkan untuk terlibat aktif dalam seluruh aspek pelayanan khususnya Diakonia, sehingga kehadiran jemaat benar-benar bermanfaat serta membawa Rahmat Allah dalam dunia ini.

Pdt Rosmalia Barus.

Kabid Diakonia Moderamen GBKP

Komentar

Mungkin Anda Menyukai