“Misi Tata Gereja GBKP “ Menjadikan Jemaat Sebagai Pelaku Dalam Melaksanakan Tritugas Gereja : Bersekutu, Bersaksi dan Melayani

“Misi Tata Gereja GBKP “

Menjadikan Jemaat Sebagai Pelaku Dalam Melaksanakan Tritugas Gereja :

Bersekutu, Bersaksi dan Melayani

Disampaikan oleh : Pdt.Rehpelita Ginting STh, M.Min

( Sekretaris Umum Moderamen GBKP)

  1. Pengantar

Salah satu keputusan sidang sinode GBKP XXXV yang dilaksanakan 11-17 April 2015 di Retreat Center Sukamakmur yakni dihasilkannya tata gereja GBKP 2015-2025. Sekalipun dalam penyusunan tata gereja ini dibentuk tim penyusunan tata gereja dan juga melibatkan konsultan namun tata gereja ini merupakan karya warga GBKP sendiri yang menjadi kesepakatan bersama melalui sidang sinode GBKP untuk  mencerminkan kehidupan GBKP dalam menyatakan karya dan pelayanannya di tengah-tengah dunia ini. Karena ini merupakan karya dan kesepakatan bersama tentu dharapkan seluruh warga GBKP memiliki pemahaman yang sama serta berkomitmen untuk menjalankannya dengan konsisten.

Tata gereja merupakan alat atau sarana yang membantu gereja untuk dapat menyatakan kehidupannya secara utuh dan dinamis. Kehidupan gereja yang utuh dan dinamis akan tercermin di dalam keberadaannya “Being” serta dalam kesetiannya menjalanan tugas-tugasnya di dunia ini “Doing” secara efektif dan efisien. Tata gereja hendaknya dipakai dalam kerangka melayani gereja bukan sebaliknya gereja yang melayani tata gerejanya.

  1. Pendekatan Eklesiologis Dalam Menjalankan Misi Tata Gereja

Dalam mewujudkan makna kehadirannya sebagai persekutuan Imamat Am orang percaya di dunia ini GBKP  merumuskan akan jati dirinya atau cara bergerejanya dengan pendekatan eklesiologis. Pendekatan eklesiologis ini tercermin di dalam pembukaan tata gereja GBKP dalam 10 butir. Melalui pembukaan merupakan pengakuan iman GBKP sebagai “Gereja”. Pembukaan merupakan “Jiwa” dari tata gereja GBKP.

Secara singkat inti  ke sepuluh butir pembukaan tata gereja GBKP, yakni sebagai berikut :

  1. Allah merupakan pencipta langit dan bumi berserta isinya. Manusia dilibatkan Allah dalam karya keselamatan ciptaanNya.
  2. GBKP terbentuk melalui proses yang cukup panjang dan keterlibatan GBKP dalam gerakan oikumene dengan pendirian DGI sampai menjadi PGI. Proklamasi karya keselamatan dan pembebasan menjadi bagian dalam perjalanan pelayanan GBKP.
  3. Kedaulatan tertinggi hanya ada pada Allah dan secara historis GBKP beraliran Calvinis
  4. GBKP terus berjuang dan bergumul menjadi gereja yang kontekstual yang menghargai adat dan budayanya demi menjalankan misinya.
  5. Sikap positif dan kritis dinyatakan di dalam memaknai ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan sarana dalam kehidupan kita yang terus berubah.
  6. Umat sebagai pelaku dalam menjalankan misi GBKP. Peran Pelayan khusus (Pdt, Pt/DK) memperlengkapi umat untuk dapaat menjalankan misi GBKP. Hubungan umat dengan pelayan khusus setara, fungsional dan timbal balik berdasarkan kasih.
  7. GBKP Proaktif dan responsif pada pergumulan warga dan masyarakat dengan memberdayakan seluruh potensinya dan membangun kerjasama dan dialog dengan seluruh denominasi gereja dan kelompok dalam masyarakat.
  8. GBKP menerima Pancasila dan terbuka untuk bermitra serta bekerjasama dengan pemerintah untuk membangun kehidupan masyarakat dan negara.
  9. Keterbukaan GBKP pada semua golongan, suku, ras dan wilayah .
  10. GBKP disusun dengan mengikuti sistem Presbiterial-Sinodal, dengan ciri-ciri :

 

  • Basis : Runggun (Jemaat).
  • Kesatuan Internal          : Runggun, Klasis, dan Sinode  (Setiap keputusan yang diambil dalam wilayah kesatuannya tidak boleh bertentangan dengan wilayah kesatuan  yang lebih luas).
  • Lembaga Kepemimpinan : Majelis yang kolektif-kolegial.

 

Apabila kita dapat memahami dan menjiwai ke 10 butir pembukaan yang merupakan pengakuan iman GBKP tersebut maka seluruh warga jemaat akan dapat menjalankan misi GBKP dengan baik dan benar. Dari pembukaan ini menjadi jelas akan keberadaan dan tugas GBKP di dunia ini sehingga sesungguhnya tata gereja lebih menekankan karya dan tindakan umat secara pribadi dan komunal ( personal dan institusional). Tata gereja tidak lagi dilihat dengan persfektif sebagai aturan yang berisi sanksi-sanksi, namun berisikan tugas dan panggilan warga gereja untuk menjalankan misi GBKP di tengah-tengah dunia.

  1. Umat Sebagai PelakuUtama Dalam Misi GBKP

Selama ini dalam persfektif lama fokus tata gereja adalah soal jabatan gerejawi sehingga yang menjadi penekanannya kepada para majelis (Pendeta, Pt/Dk). Melalui persfektif baru fokus tata gereja GBKP menempatkan umat menjadi yang utama dalam Misi GBKP. Karena itulah tata gereja hendaknya disosialisasikan dan dimiliki oleh seluruh umat sehingga umat dapat memahami tanggungjawabnya dalam menjalankan Misi.

Pergeseran umat dari objek menjadi subjek di dalam pelayanan gereja menjadikan umat menjadi jemaat yang missioner. Umat bukan lagi dilayani melainkan yang melayani. Umat yang sudah mengalami karya keselamatan Allah dipanggil untuk melakukan Misi Allah melalui GBKP. Apalagi jikalau dikaitkan 125 tahun Injil sudah diterima oleh masyarakat Karo (GBKP) maka sudah sepatutnya kedewasaan umat GBKP dinyatakan di dalam partisipasinya sebagai subjek di dalam Misi Gereja.

Sebagai Subjek dalam Misi GBKP, maka umat haruslah mengetahui apa misi GBKP tersebut, yakni sebagai berikut :

  1. Turut serta dalam karya penyelamatan Allah di dan bagi dunia dengan melaksanakan persekutuan, kesaksian, dan pelayanan.
  2. Menumbuh kembangkan spiritualitas berbasis Alkitab.
  3. Menegakkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan Allah.
  4. Menggali dan menumbuhkembangkan potensi jemaat.
  5. Memperkuat semangat gotong royong antar sesama jemaat dan masyarakat

 

Agar Misi GBKP ini dapat diwujudkan maka GBKP  telah menyusun Garis-garis Besar Pelayanan(GBP) GBKP 2015-2020. Di dalam GBP 2015-2020 disusun Visi, Misi, Tujuan, Sasaran dan Strategi Pelayanan.  Dari Visi GBKP 2015-2020 “ GBKP menjadi kawan sekerja Allah untuk menyatakan rahmat Allah kepada dunia “ ( bhs Inggris : to be God’s  fellow-workers to manifest God’s mercy to the world,  dalam bhs Karo : GBKP aron Dibata guna jadi pasu-pasu man isi doni). Melalui visi menjadi lebih jelas akan peran umat dalam menjalankan misi GBKP. Kehadiran umat di dalam dunia menjadi representasi Allah di dalam dunia. Umat menjadi Subjek dalam menjalankan Misi Allah.

 

  1. Umat Sebagai Pelaku Utama Dalam Misi GBKP Mewujudkan GBKP Yang Ideal

Mewujudkan GBKP yang ideal menjadi impian kita bersama. Setiap runggun (jemaat) mau terlibat mengambil peran sebagai subjek dalam Misi GBKP menjadi modal utama dalam mewujudkan GBKP yang ideal. Memang tidak mudah mengukur secara kuantatif bagaimana dikatakan GBKP yang ideal namun secara kualitatif tata gereja GBKP membantu kita untuk mengukur wujud GBKP yang ideal. Secara kuantitatif runggun dapat membuat ukuran untuk mewujudkan GBKP yang ideal sesuai tingkat perkembangan jemaatnya.

 

Adapun indikator umum wujud GBKP yang ideal sebagai berikut :

  1. Warga Gereja adalah Subjek dalam kehidupan bergereja.

Gereja yang ideal bukan dilihat dari besarnya gedung dan fasilitas gereja, atau juga banyaknya keuangan gereja. Gereja yang ideal diukur dari seberapa besar partisipasi dan keterlibatan umat dalam menjalankan Misi Gereja. Gedung dan keuangan gereja merupakan output dari partisipasi serta keterlibatan umat sebagai subjek dalam Misi Gereja. Memang bisa saja gedung dan keuangan gereja besar sekalipun tidak banyak umat yang berpartisipasi dalam Misi Gereja namun situasi ini menjadikan gereja rapuh di dalam pelayanannya. Misalnya jumlah jemaat sidi ada 800 sidi, kapasitas gedung gereja dapat menampung 500 jiwa tetapi jumlah yang hadir hanya 300 jiwa di kebaktian minggu. Atau jumlah persepuluhan tiap bulan terkumpul 20 jt dari 40 kepala keluarga sementara jumlah keluarga ada 250 kepala keluarga, maka sesungguhnya gereja tersebut belumlah ideal. Fokus utama kita adalah partisipasi umat dalam setiap pelayanan.

  1. Anak, remaja dan pemuda berperan penting dalam kegiatan-kegiatan gereja baik dari sudut kualitas maupun kuantitasnya sehingga regenerasi dan kaderisasi berjalan dengan baik.

Dalam penyusunan program kerjanya, gereja haruslah memberikan perhatian yang cukup besar kepada anak, remaja dan pemuda. Anggaran belanja gereja harus diberikan cukup besar pada porsi pembinaan anak, remaja dan pemuda.

  1. Gereja yang mampu memperdengarkan suara kenabian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan sekalipun hal tersebut tidak popular bagi pihak-pihak yang dikuasai roh duniawi.

Sikap gereja yang proaktif dan kritis terhadap situasi yang terjadi disekitarnya menjadikan gereja sebagai garam dan terang. Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri dan tidak mencari ataupun masuk pada zona nyaman. Keberpihakan gereja pada kebenaran dan keadilan menjadikaan gereja harus terus bersuara dan bertindak bukan untuk dirinya.

  1. Sebagian besar anggaran gereja baik dalam perencanaan maupun realisasinya digunakan untuk pelayanan kasih yang dilaksanakan bersama atau untuk pihak di luar gereja.

Keterlibatan umat berpartisipasi dalam pelayanan gereja pasti akan berdampak pada peningkatan pemasukan keuangan gereja. Keuangan gereja yang kuat bukan dimaksudkan untuk dinikmatinya sendiri melainkan kekuatan untuk melakukan Misi gereja yang lebih optimal lagi. Pelayanan kasih menjadi fokus dalam penggunaan anggaran gereja bukan untuk fasilitas dan urusan organisasi gereja. Gereja yang kuat secara keuangan sudah sepatutnya menggandeng gereja yang kurang mampu dari aspek keuangan dengan membangun “Sisters Church.

  1. Transparansi keuangan gereja terlihat dalam laporan keuangan yang disusun dengan standard yang dapat dipertanggungjawabkan dan dipublikasikan minimal satu kali sebulan.

Ketertiban dalam pengelolaan dan laporan keuangan menjadi kata kunci dalam membangun pelayanan yang terpercaya (Trust). Majelis membuat rencana pendapatan dan belanja secara transparan. Misalnya untuk biaya transportasi pengkhotbah seharusnya sudah di anggarkan dalam program tahunan bukan dipotong (istilah yang dipakai “potong atas”) dari kolekte Minggu baru setelah itu disetorkan.

  1. Gereja yang mampu mengelola konfliknya karena semua pihak yang berbeda pendapat tetap dipersatukan oleh ketaatan terhadap firman Allah, kepatuhan terhadap tata gereja GBKP dan penghargaan terhadap adat budaya.

Konflik tidak dapat dihindari dalam suatu komunitas, sebab konflik merupakan satu harapan yang belum terpenuhi dalam realitasnya. Namun konflik tidak menjadikan alasan terjadinya jemaat terpecah belah dan pertengkaran. Pembentukan sektor bahkan perminggun banyak terjadi karena konflik yang tidak dapat diselesaikan. Kedewasaan jemaat dalam mengatasi konflik menjadi hal yang utama.

  1. Gereja yang senantiasa terbuka terhadap kreatifitas bersekutu, bersaksi dan melayani berdasarkan firman Allah sehingga menunjukan pertumbuhan kualitas dan kuantitas.

Salah satu yang menyebabkan gereja lamban bahkan tidak lagi mengalami pertumbuhan karena gereja terjebak pada kegiatan rutinitas dan pengulangan program saja. Program kerja yang dikerjakan berulang-ulang akan menghasilkan sesuatu yang sama saja sedangkan program kerja yang berbeda akan menghasilkan yang berbeda pula. Dibutuhkan terobosan dalam tritugas gereja kesaksian, persekutuan dan pelayanan. Karena itu majelis dan jemaat perlu duduk bersama untuk membicarakannya.

 

  1. Tahun Pelayanan 2016 “Meningkatkan Komitmen Warga GBKP Yang Missioner Untuk Berpartisipasi Dalam Pelayanan”

 

  • Komitmen dalam Bahasa latin “ Commiter” yang bermakna menggabungkan, menyatukan, mempercayai dan mengerjakan. Komitmen merupakan suatu pengakuan menunjukan watak yang keluar dari dalam diri seseorang. Komitmen merupakan janji pada diri sendiri atau orang lain yang tercermin di dalam tindakan. Adanya komitmen mendorong seseorang untuk percaya diri, semangat kerja, menjalankan tugas dan perubahan yang lebih baik.

.

  • Partisipasi Bahasa Inggris “Participation” pengambilan bagian atau pengikutsertaan. Menurut Keith Davis : keterlibatan mental dan emosi sesorang kepada pencapaian tujuan serta ikut bertanggungjawab di dalamnya. Partisipasi merupakan demokrasi di mana seseorang dilibatkan (respons) mulai dalam perencanaan (proses) dan pelaksanaannya (pencapaian) serta ikut bertanggungjawab sesuai tingkat kematangan dan kewajibannya. Di dalam partispasi ini sangat diutamakan akan keterlibatan semua pihak, adanya kesetaraan, transparansi, pembagian kewenangan/pendelegasian (sharing power), pembagian tanggung jawab (sharing responsibility), pemberdayaan serta kerjasama.

 

  • Missioner artinya bersifat Misi. Kata Misi Bahasa Latin “Missio” yang berarti perutusan. Misi tidak sama denga evangelisasi sekalipun di dalam misi mengandung evange Evangelisasi merupakan pemberitaan kabar baik sedangkan misi disamping pemberitaan kabar baik mengandung konsekuensi dari pemberitaan kabar baik tersebut yakni sikap hidup, pergaulan, pertolongan konkrit kepada yang membutuhkan. Misi mengandung unsur keluar dan kedalam. Jadi jikalau dikatakan missioner yakni orang yang melayani dan peka pada pergumulan sosial.

 

  • Untuk meningkatkan partisipasi umat di dalam pelayanan maka perlu dikembangkan karakteristik gereja yang hidup ( A.Schwarz), yakni :

 

  1. Kepemimpinan yang melakukan pemberdayaan
  2. Pelayanan yang berorientasi pada karunia
  3. Kerohanian yang haus dan antusiasme
  4. Struktur pelayanan yang tepat guna
  5. Ibadah yang membangkitkan inspirasi
  6. Kelompok kecil yang menjawab kebutuhan secara menyeluruh
  7. Penginjilan yang beroriantasi pada kebutuhan
  8. Hubungan yang penuh kasih

 

  • Untuk meningkatkan komitmen warga GBKP maka perlu dikembangkan 3 aspek yakni pembaharuan, pembangunan dan pemersatuan. Aspek pembaharuan terjadi pada perubahan pola pikir dan gaya hidup komunitas dan kelembagaan menuju pada nilai-nilai kristiani. Aspek pembangunan diarahkan kepada penguatan gereja sebagai tubuh Kristus melalui pemanfaatan nilai-nilai budaya, pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman hidup. Sedangkan aspek pemersatuan dinyatakan melalui cara hidup komunitas yang merupakan kesaksian bagi sekitarnya.

 

  • Peningkatkan komitmen warga GBKP dimulai dari peningkatan motivasi sumber daya gereja khususnya para Pendeta, Pertua dan Diaken dan professional dalam pelayanan jemaat. Sikap dan komitmen para Pendeta, Pertua serta Diaken sangat menentukan peningkatan kualitas pelayanan. Dampak dari peningkatan komitmen ini dapat dilihat dari indikator antara lain : meningkatnya kualitas khotbah yang baik, penyiapan pelayanan yang lebih baik, tingkat partisipasi umat yang aktif dan proaktif yang siknifikan dalam kegiatan-kegiatan gereja.

 

  1. Penutup

Umat adalah pelaku utama dalam menjalankan Missio Dei (perutusan dari/kepunyaan Allah). Umat sebagai  subjek bukan objek dalam pelayanan Gereja. Keterlibatan umat dalam seluruh aktifitas gereja harus di dorong. Perlu diberi ruang dan kesempatan yang lebih luas bagi umat untuk menunjukan perannya. Pendeta, Pertua dan Diaken berfungsi memperlengkapi umat untuk menjadi missioner. Keterlibatan umat dalam pelayanan dimulai dari proses (planning), pelaksanaan (monitor) serta tanggung jawab (Evaluasi). Untuk membangun dan mewujudkan komitmen umat dalam pelayanan maka perlu dibuat ruang untuk pembinaan, ruang untuk bereksperimen, dan ruang berinteraksi. Komitmen umat akan muncul ketika umat memiliki sense of belonging (rasa memiliki) persekutuan, kesaksian dan pelayanan.

Komentar

Mungkin Anda Menyukai