Refleksi Memasuki Tahun Peningkatan Komitmen Warga GBKP yang Missioner untuk Berpartisipasi dalam Pelayanan

Refleksi

Memasuki Tahun Peningkatan Komitmen Warga GBKP yang Missioner untuk Berpartisipasi dalam Pelayanan 

Pdt. Agustinus P. Purba,S.Th,MA

Pengantar

Dunia saat ini  sangat dipengaruhi oleh individualisme, sekularisme dan materialisme, dan ideologi lain yang menantang nilai-nilai Kerajaan Allah. Untuk itu dibutuhkan konsistensi penegasan misi Allah yang menunjuk pada kepercayaan kepada Allah sebagai Dia yang bertindak dalam sejarah dan dalam penciptaan, dalam realitas konkret waktu dan konteks. Gereja dipanggil untuk membuat Allah hadir dalam praktik-praktik yang menantang nilai-nilai Kerajaan Allah yang  mengarah pada kehancuran masyarakat. Panggilan Gereja  adalah panggilan  untuk mengakui sifat berdosa dari segala bentuk diskriminasi dan mengubah struktur yang tidak adil.[1] Menjadi tanggung jawab gereja untuk memperlihatkan keberpihakan bagi kaum miskin dan tertindas khususnya yang terkena dampak  globalisasi dan modernisasi. Sejalan dengan itu gereja sendiri harus menjaga identitasnya ditengah-tengah perubahan karena konsekuensi modernisasi bagi Gereja yang jauh lebih luas dan sangat radikal. Pergumulan tersebut juga mencakup pemahaman orang percaya akan kehadiran Allah. Gambaran Allah yang telah disempurnakan dalam diri Yesus Kristus. Maka hakikat kemanusiaan kita di dalam Kristus adalah tugas untuk memelihara kehidupan. Tidak bisa tidak, tanggungjawab itu mesti dikembangkan oleh gereja. Seperti halnya yang ditetapkan dalam salah satu butir Proposal for a new WCC Affirmation on Mission and Evangelism bahwa semua orang Kristen, gereja-gereja dan jemaat dipanggil untuk menjadi utusan dinamis dari Injil Yesus Kristus, yang merupakan kabar baik keselamatan. [2]Dan misi yang disampaikan adalah berlangsung dari pusat ke pinggiran, dan dari istimewa kepada masyarakat terpinggirkan, ini menegaskan misi sebagai transformasi alkitabiah yang kuat (1 Korintus 1:18-31) untuk lebih merasakan misi Allah  dengan keadilan dan perdamaian sehingga kehidupan bisa berkembang.

Sebagai Gereja yang berkembang dan berjalan seiring dengan perubahan-perubahan,  maka GBKP tidak bisa tidak menentukan sikap dan tindakan strategis untuk menegaskan panggilannya sebagai tubuh Kristus.  Sikap dan tindakan strategis dirumuskan dalam tema-tema tahunan yang transformatif dan menuju sasaran visi 5 tahun ke depan; GBKP menjadi kawan sekerja Allah untuk menyatakan rahmat Allah kepada dunia. Untuk tema tahun 2016 ini : “Peningkatan komitmen warga GBKP yang missioner untuk berpartisipasi dalam pelayanan”.

Panggilan untuk meningkatkan komitmen warga GBKP yang missioner

Gereja ada sebab misi ada : missio sit ergo ecclesia sit. Oleh karena menurut defenisinya Gereja secara kolektif adalah missioner, semua anggota secara pribadi juga merupakan misionaris.[3]Gereja yang bermisi hadir  tidak pada “ruang hampa”, tetapi hadir pada suatu realitas hidup dan dalam konteks masyarakat yang majemuk. Karena itu, sebutan “Gereja Missioner” harus memperhitungkan realitas hidup dan konteks masyarakat dimana kita tinggal dan berada. Dalam komitmen misiologis gereja, prinsip utama yang harus dipegang tidak lain adalah Amanat Agung Yesus Kristus dalam Mat. 28: 19-20:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Prinsip ini adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam sebuah komitmen misiologis gereja. Ada dua hal yang menjadi penekanan dalam ayat tersebut, yaitu:

  1. “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus,” yang merupakan ajakan supaya gereja dan warganya bergerak ke luar dari lingkarannya, ke dalam dunia yang lebih luas untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus. Membawa jiwa-jiwa untuk mengenal Yesus.
  2. “Ajarlah mereka melakukan …” yang merupakan perintah untuk tidak hanya sibuk mencari jiwa, tetapi bagaimana membawa jiwa-jiwa yang mengenal Yesus itu untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Yesus, yang tak lain adalah seluruh karya Yesus di dunia, yang pada akhirnya membawa kepada Kasih Kristus.

Berbicara mengenai gereja yang missioner sebenarnya adalah berbicara mengenai  bagaimana gereja bersama seluruh anggota jemaat bisa memenuhi komitmen misiologis yang terkandung dalam Amanat Agung tersebut. Bagaimana prinsip yang terkandung dalam Amanat Agung itu sepenuhnya diwujudkan dengan metode yang kontekstual, metode yang menghargai keragaman konteks di mana Injil itu akan disebar. Setia pada prinsip (tekstual), berarti bahwa misi yang dilakukan harus berangkat dari pedoman yang terdapat dalam Alkitab, dan kontekstual merujuk pada budaya, kondisi sosial, politik, ekonomi, tradisi, sejarah yang terdapat di suatu tempat.

Gereja Missioner yang merupakan misi Allah merupakan inti dari rencana-Nya, sebagai bagian dari penyataan diri dan karya-Nya yang utuh kepada dan melalui umat-Nya (mission eccleiae) dan Gereja Missioner memiliki motif dan tujuan primer, yaitu membawa rahmat shalom (mission gratia), sehingga Gereja Missioner beroparasi dengan dinamika yang holistik dan mewujudkan shalom Allah dalam segala aspek dan bidang kehidupan.[4]

Pada waktu Yesus hadir secara jasmani, Ia mengerjakan misi-Nya, membangun Kerajaan Allah, menghadirkan shalom ditengah-tengah masyarakat yang terkucilkan, membebaskan mereka dari sakit penyakit dan membela ketidakadilan. Dan  Ketika Yesus hendak naik ke surga, Ia memberikan perintah yang terfokus pada penyelesaian misi Allah. Sebagai Bapa mengutus Yesus, sekarang Yesus mengutus para murid (Yoh 20:21). Ia memerintahkan para murid untuk pergi menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat 28:19-21). Ia menjanjikan Roh Kudus bagi orang percaya agar mereka mampu menjadi saksi (Kis 1:8). Sejarah perkembangan gereja di Kisah Rasul juga merupakan sejarah perkembangan misi. Intinya, misi Yesus tetap dilakukan oleh murid-murid-Nya.

Memahami panggilan  misi membutuhkan perubahan cara pandang klasik ke cara pandang transformatif, dimana tugas panggilan misi bukan hanya tugas pejabat-pejabat gereja. Membangun Kerajaan Allah, menghadirkan shalom adalah panggilan kemitraan dalam tubuh Kristus berdasarkan karunia-karunia (kharismathoi) yang diberikan Roh Kudus kepada setiap anggota tubuh Kristus. Semua karunia digunakan sesuai keperluan demi kesehatan dan kesejahteraan seluruh tubuh, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus sampai mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef.4 : 11-13).[5] Pelayanan disebuah jemaat tidak akan sepenuhnya berhasil apabila hanya mengandalkan peranan dari seorang pendeta saja dalam kapasitasnya sebagai pelayan jemaat.

Partisipasi Warga GBKP yang missioner dalam Pelayanan

Partisipasi merupakan prinsip penting dengan tujuan membuat setiap orang terlibat secara aktif dalam proses-proses dan kegiatan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Dengan demikian partisipasi merupakan suatu bagian penting untuk pengembangan jemaat missioner.

Menurut A. Dale Timpe, partisipasi akan memberikan hasil jangka panjang yang lebih menguntungkan, karena itu lebih mungkin menghasilkan keterlibatan mental dan emosional yang dapat meningkatkan motivasi dan komitmen.[6]  Dia mendefenisikan bahwa partisipasi adalah melakukan sesuatu oleh, dengan dan melalui orang lain menciptakan situasi dimana mereka terlibat secara mental dan emosional dalam situasi yang mendorong sumbangan yang positif kepada tujuan. [7]Partisipasi memiliki potensi untuk berkontribusi pada perubahan penting dalam aspek-aspek politik, budaya, ekonomi dan sosial dari jemaat dan dari kehidupan manusia. Barang siapa yang mengabaikan kontribusi orang lain berarti ia melumpuhkan “pelayanan setiap anggota”.

Kewajiban missioner jemaat-jemaat GBKP dalam pelayanan harus dimulai dari keluarga-keluarga. Keluarga merupakan basis dari Gereja. Keluarga disebut Gereja basis atau Gereja domestik. Keluarga GBKP  yang missioner akan memberikan kontribusi besar bagi terciptanya Gereja yang Missioner. Yang dimaksudkan dengan keluarga missioner dalam GBKP adalah keluarga GBKP yang hidup kekeluargaanya dijiwai semangat Injil Kristus, yang membuatnya memikat dan menggerakkan hati orang untuk datang kepada Kristus. Seluruh kehidupan jemaat GBKP yang utuh menjadi sebuah petunjuk kepada kasih Allah yang menyelamatkan. Yang ditunjukkan melalui pelayanan yang sudah ditetapkan dalam program maupun atas tindakan masing-masing warga melalui kehidupan dan pekerjaan sehari-hari berdasarkan panggilan imannya. Panggilan ini adalah proses dimana seluruh anggota GBKP berperan mewujudkan Gereja yang ideal dimana salah satu indikator yang dituliskan dalam Tata Gereja bahwa warga gereja adalah subjek dalam kehidupan bergereja. Anak, remaja dan pemuda berperan penting dalam kegiatan-kegiatan Gereja.[8] Seluruh pelayanan yang dilakukan oleh GBKP secara institusi dan oleh warga GBKP yang missioner adalah pengaruh corak kehidupan yang tergambar melalui peningkatan spritual atau kerohanian (spritual influence), peningkatan rekonstruksi intelektual (intellectual reconstruction), perubahan tingkah laku etis (modification of ethical conduct), pembentukan kehidupan bersama (establishment of corporate life) dan peningkatan persatuan didalam persekutuan (incorporation into the communion).

Selamat menjadi warga GBKP yang Missioner.

[1]WCC document, Together  Towards  Life : Mission and Evangelism in Changing landscapes, hal  9

[2]Ibid,   hal 15

[3]J. Andrew Kirk, Apa itu Misi, BPK Gunung Mulia, 2012, hal. 325

[4]Yakub Tomatala, Theologi Misi, BPK Gunung Mulia, 2003 , hal 25.

[5]J. Andrew Kirk, Apa itu Misi, BPK Gunung Mulia, 2012, hal 262

[6]A. Dale Timpe,The Art and Science of Business Management Leadership (Indonesia   version), Facts on File,Inc, New York,1987. p. 88

[7]Ibid, p 89

[8]Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP 2015-2025, Abdi Karya, 2015, hal. 26

Komentar

Mungkin Anda Menyukai