Revolusi Mental SDM Pendeta dan Pegawai GBKP

Revolusi Mental

SDM Pendeta dan Pegawai GBKP

 

Pdt. Sarianto Purba, S.Th, M.Min

I.Pendahuluan.

Saat ini GBKP menghadapi dua tantangan besar yakni masalah lokal dan global baik yang sedang terjadi dan akan terjadi. Situasi erupsi Gunung Sinabung sampai saat ini masih terus terjadi dengan abu vulkanisnya yang “memiskinkan” masyarakat di Kabupaten Karo. Hal ini akan berdampak kedalam kehidupan bergereja, bukan hanya masalah ekonomi, pendidikan saja tetapi juga mempengaruhi iman percaya anggota jemaat. Dalam situasi ini tidak boleh tidak GBKP harus menunjukkan identitas dalam kehadirannya sebagai garam dan terang dunia.

Tantangan globalisasi yang  dihadapi oleh masyarakat kita adalah masalah kemiskinan dan radikalisme dengan pelanggaran hak azasi manusia (HAM) , pendidikan dan pasar bebas dengan bingkai Masyarakat Ekonomi ASEAN yang telah berjalan saat ini. Pertanyaan kepada kita, sejauh manakah kesiapan kita untuk menyikapinya? Seharusnya tentangan ini disikapi dengan mempersiapkan kuantitas SDM yang berkualitas  agar dapat memenangi kompetisi.

Menurut hasil Penelitian Litbang GBKP, tingkat spritualitas anggota jemaat GBKP belum memuaskan sehingga kehadiran jemaat pada persekutuan belum memuaskan. Situasi seperti ini, penyebabnya antara lain; peran para pendeta yang belum seperti yang seharusnya. Oleh karena itu, para presbiter khususnya Pendeta GBKP harus didudukkan kembali ditempat keterpanggilannya sebagai gembala, guru dan pemimpin, sehingga berdampak terhadap aktifitas jemaat di tri tugas gereja. Dari hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa masih banyak yang harus dilakukan oleh gereja untuk mentransformasi mental para presbiter khususnya para Pendeta di GBKP seperti perubahan pola pikir, pola ucap dan pola pelayanan. Dengan adanya  strategik pembinaan para pendeta diharapkan akan berdampak terhadap komitmen warga GBKP yang missioner untuk berpartisipasi dalam pelayanan.

II.Masalah Pokok di GBKP

Menurut hasil penelitian Litbang GBKP yang mengacu ke dalam Garis-Garis Besar Pelayanan GBKP tahun 2010-2015, tingkat spiritualitas anggota jemaat GBKP dan kehadiran jemaat pada persekutuan belum memuaskan; penyebabnya antara lain :

  1. Pendeta kurang memenuhi syarat sebagai Pemimpin, Guru dan gembala.
  2. Pembinaan spiritualitas pendeta kurang intensif dan efektif.
  3. Pendeta masih kurang mampu berkhotbah dengan baik dan menyentuh pergumulan, kehidupan anggota jemaat.
  4. Pendeta susah ditempatkan karena ada kecenderungan pendeta memilih bukan tujuan pelayanan jadi pertimbangan utama.
  5. Pendeta kurang berpikir teologis, berbicara teologis dan bertindak teologis sehingga pendeta tidak bisa jadi panutan.
  6. Pendeta kurang melaksanakan konseling dan perkunjungan rumah tangga karena komitmen, integritasnya dan etos kerja pelayanan rendah.
  7. Pendeta kurang loyal terhadap kesatuan organisasi.
  8. Pendeta sering menjadi sumber masalah karena leadership
  9. Ada kecenderungan motivasi studi bukan pelayanan tetapi mengejar posisi.
  10. Ada kecenderungan bahwa banyak pendeta telah materialistis.
  11. Proses rekruitmen pendeta tidak menjamin terpilihnya yang memiliki panggilan.

Untuk menyikapi sebab akibat masalah pokok GBKP seperti kondisi diatas maka perlu ada percepatan khusus dengan tahapan yang jelas dan terarah melalui  suatu pengembangan SDM, pembinaan, pelatihan-pelatihan keterampilan SDM para Pendeta GBKP. Dengan Pembinaan ini diharapkan untuk membangun karakter, meningkatkan spiritualitas pendeta dengan penghayatan panggilannya, terbentuk pendeta yang berkualitas dengan memiliki keterampilan dibidang pelayanan, meningkatkan mutu pelayanan dibidang sosial dan masyarakat dengan melihat konteks perubahan yang begitu cepat serta loyal terhadap kesatuan organisasi.

 III.Kondisi SDM Pendeta dan Pegawai GBKP Saat ini.

SDM (Sumber Daya Manusia) dalam organisasi GBKP adalah Presbiter (Pendeta, Pertua, Diaken), pegawai dan jemaat (Lansia, MAMRE, MORIA, PERMATA dan KAKR ). Sumber Daya Manusia tidak terbatas hanya pada fisik tetapi jauh lebih luas yaitu mencakup seluruh potensi (pengetahuan, keterampilan, kepemimpinan, pengalaman, kearifan, kejujuran, ketertiban dan keteraturan sistem Administrasi dan lain-lain) yang dapat menggerakkan GBKP mewujudkan visinya. Pendeta dan pegawai adalah sumber daya manusia yang patut di perhitungkan dalam organisasi GBKP. Para pendeta merupakan kelompok fungsional yang strategis di gereja sebagai gembala, guru dan pemimpin. Sedangkan para pegawai berperan penting terhadap kelancaran roda organisasi GBKP dalam menjalankan misinya karena para pegawai yang menjamin ketertiban dan keteraturan sistem-sistem administrasi GBKP.

Tabel  I: Tingkat pendidikan para pendeta dan pegawai GBKP.

No Personalia Pendidikan
SMA D3 S1 S2 S3
1 Pdt dan Vicaris 1 341 66 4
2 Pegawai 31 5 11

 

Dengan kondisi tingkat pendidikan para pendeta dan pegawai GBKP saat ini, untuk menghadapi perubahan teknologi dan perkembangan zaman demikian cepat, para pendeta dan pegawai GBKP perlu secara periodik diberi kesempatan mengikuti program pengembangan sumber daya manusia dengan studi kejenjang yang lebih tinggi, latihan  keterampilan dan pertemuan-pertemuan penyegaran.

 IV.Strategi Pembinaan SDM Pendeta dan Pegawai GBKP

Dengan melihat kondisi SDM pendeta, pegawai dan masalah-masalah  pokok diatas jika dihubungkan dengan kemajuan jaman yang begitu cepat dan tantangan yang tidak sedikit,  maka sangat perlu revolusi mental Sumber daya manusia GBKP. Melaksanakan revolusi mental jelas tidak mudah. Mental pada hakekatnya adalah segala daya yang mempengaruhi cara berpikir, berbicara dan bertindak seseorang. Mental harus dibina agar dapat mendukung cara berpikir, cara berbicara dan bertindak yang baik dan benar. Dalam melaksanakan revolusi mental SDM pendeta dan pegawai GBKP, kita menggunakan konsep kelahiran kembali atau hidup baru. Salah satu ajaran dasar dari iman kristen adalah pembaharuan atau kelahiran kembali secara rohani. Tanpa kelahiran baru seseorang tidak mungkin berubah menjadi orang yang baik dan benar. Pembaharuan atau kelahiran kembali itu adalah sebuah penciptaan kembali sifat seseorang yang dikerjakan oleh roh kudus.( Johanes 3:6; Titus 3:5).

Dalam meningkatkan mutu pelayanan para pendeta diperlukan keterlibatan Tuhan untuk merevolusi mentalnya. Tanpa pembaharuan atau kelahiran kembali secara rohani seseorang tidak mungkin mampu mengubah perilakunya, mutu pelayanannya, tidak mampu memenuhi standar karakter Yesus. Kata Yesus: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak akan dapat melihat Kerajaan Allah (Yohanes 3:1-8). Pembaharuan meliputi peralihan dari cara hidup lama ke dalam cara hidup baru. Hidup yang takluk kepada Tuhan. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17). Perubahan mental harus dimulai dari hati karena perubahan mental itu tidak bisa dipaksakan tetapi harus dengan kesadaran sendiri.

Dengan doa  kita semakin disadarkan bahwa kita adalah pelayan Tuhan, bahwa kita sudah menjadi milik Tuhan. Menjadi gembala, guru dan pemimpin di tengah-tengah gereja Tuhan; apakah sudah menjadi milik Tuhan, orang yang mau tinggal di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam dia, mendengarkan suara Tuhan dan hidup di dalam firmanNya.” Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Johanes 15:5b).

Menjadi pelayan Tuhan di masa kini dan akan datang tidak cukup hanya menguasai untuk menjawab berbagai macam jawaban atas masalah-masalah konkrit anggota jemaat saja tetapi berakar pada hubungan yang tetap dan mendasar dengan Yesus. Dengan demikian kita akan intelektualitas menjadi pelayan yang sejati tanpa keserakahan. Yesus telah berfirman: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”( Matius 6:33). Sikap spiritualitas keugaharian atau ajaran etos hidup sederhana dan berkecukupan telah diserukan oleh persekutuan gereja-gereja di Indonesia kepada seluruh gereja di Indonesia untuk tidak mengumbar keserakahan.

Untuk mewujudnyatakan revolusi mental SDM pendeta dan pegawai GBKP tidak akan bisa dilakukan dalam setahun saja, oleh karena itu ada skala prioritas materi pembinaan dan pembinaan  secara berjenjang.Adapun materi yang akan diberikan antara lain :

  1. Pengenalan diri dan panggilannya.
  2. Meningkatkan spiritualitas
  3. Meningkatkan mutu pelayanan; berkhotbah dengan baik untuk mejawab pergumulan jemaat, Penggembalaan, Perkunjungan rumah tangga.
  4. Meningkatkan kompetensi umum dan kompetensi teologis
  5. Membangun karakter, komunikasi dan intergritas.

V.Kesimpulan.

Semangat revolusi mental Sumber Daya Manusia GBKP akan lebih efektif jika disertai doa dan sinergisitas dalam aksi seluruh jemaat, baik daya dan dana. Berpartisipasi dalam pelayanan berarti ikut serta dalam misiNya sebagai wujudnyata warga GBKP yang missioner. Jadilah agen perubahan dan milikilah hati yang melayani.

Komentar

Mungkin Anda Menyukai