BIRO PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GBKP (LITBANG GBKP) Inilah kami “Bekerja dari belakang layar”

Ketika globalisasi menyerang begitu hebatnya, gereja tidak ada pengecualian dapat diguncang sampai ke intinya. Kebutuhan untuk mengatasi dengan cara cepat dan perubahan-perubahan yang tidak dapat diatasi dan peluang membawa tentang modernisasi ini dilakukan oleh Biro Penelitian dan Pengembangan GBKP (Biro Litbang). Dapatkah ini menjadi penggerak utama yang menawarkan solusi yang relevan sebagai landasannya?

Diiniasi oleh Moderamen GBKP, Biro Penelitian dan Pengembangan dimulai pada tahun 2005. Dan setiap tahunnya mengalami perkembangan yang semakin baik. Biro Litbang berada dibawah Bidang Umum (Sekretaris Umum), bersama dengan Pengurus Litbang periode 2016-2020, yaitu Pt.Drs.Robinson Sembiring, Msi (Ketua), Pt.Julius Ketaren (Sekretaris), Pt.Harun Tambun, DR.Linda Sitepu, Dk.Veronika Tarigan, Pdt.Magda Sinukaban, Joppy Sinulingga dan Pdt.Tetty Hanna S.Sinulingga sebagai pendeta tugas khusus yang melayani di Biro Litbang. Nama-nama inilah yang melakukan tugas-tugas untuk mengambil tindakan tegas untuk mengimbangi keseimbangan dampak era modern di GBKP.

Penelitian sangat penting karena gereja selalu merenovasi dirinya sendiri. Tidak pernah pasif merespon situasi yang sulit yang menuntut resolusi yang akurat yang terjadi sekarang ini. Hal ini diyakini bahwa gereja hanya akan terus ada jika berkompeten untuk menempatkan dirinya pada arus pergeseran tantangan milenium ini. Bahkan sudah 501 tahun gereja reformasi Kristen Protestan yang terus ditantang menginovasi perubahannya untuk benar menangani dengan kemajuan yang berkembang secara cepat. Jadi, biro penelitian dan pengembangan kemudian menolong gereja untuk meluncurkan program-program yang akan mengurangi masalah kebutuhan mendasar dan masalah-masalah gereja berdasarkan hasil penelitian yang akurat. Ini harus sesuai dengan konteks jemaat dan kebutuan nyata mereka. Dan dari data utama dan data kedua yang dikumpulkan oleh tim Litbang GBKP bersama dengan literatur yang ditinjau mengenai kajian ini  akan menarik sebuah kesimpulan yang akan menjadi dasar yang tepat yang harus diperhitungkan supaya gereja menghasilkan program-program yang meneyentuh kebutuhan jemaat.

Setiap tahunnya, Biro Litbang GBKP mempunyai program 2 penelitian, mengevaluasi hasil laporan BPMK di sidang klasis dan melalukan pelatihan/pembinaan terhadap Litbang Klasis dan Runggun. Sebagai contoh program Biro Litbang pada tahun 2017 adalah RESOLUSI KONFLIK “Kemampuan Pemimpin Meresolusi Konflik di GBKP”. Kesimpulan hasil penelitian yang telah didapat (data-data lengkap pada tim Litbang GBKP):

  1. Adanya Konflik

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan  terlihat bahwa kecenderungannya, para responden penelitian ini lebih cenderung menganggap konflik dalam tubuh GBKP tidak bersifat nyata. Ini tergambar berdasarkan data yang diperoleh dari persepsi responden tentang keberadaan konflik pada individu dan kelembagaan Majelis, Mamre, Moria, Permata, KA/KR, dan Lansia.

Hal ini menunjukkan bahwa adanya konflik pada kelembagaan di tubuh GBKP tidak bersifat nyata. Dalam ungkapan lain, boleh dinyatakan bahwa secara menyeluruh jika pun terdapat konflik, namun konflik tersebut tidak secara signifikan menggambarkan adanya konflik dalam tubuh kelembagaan GBKP.

Penjelasan lain yang bisa diperoleh atas kecenderungan ini merujuk pada kebiasaan/kultur Karo yang tidak begitu bersikap terbuka atas konflik yang mengenainya. Berbeda dengan kultur masyarakat Batak yang lebih terbuka sehingga konflik yang terjadi pada diri mereka segera dapat diketahui oleh orang lain. Maka jika pada beberapa runggun ditemukan adanya konflik, tidak berarti bahwa adanya konflik tersebut sekaligus menggambarkan kondisi keretakan pada kelembagaan yang ada di tubuh GBKP sebagai suatu keseluruhan.

  1. Intensitas Konflik

Berdasarkan data yang ditampilkan menyangkut intensitas konflik pada tubuh kelembagaan GBKP, informasi utama yang diperoleh bahwa adalah bahwa jika pun konflik ditemukan maka itu masih sebatas kesalahpahaman biasa dan ketidaksepakatan. Ini merupakan sesuatu yang sangat biasa dan wajar terjadi, mengingat bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan sama persis dalam hal cara berfikir. Dengan demikian, hasil yang diperoleh melalui penelitian ini menggambarkan bahwa tidak ditemukan intensitas konflik yang berarti, dan mempengaruhi gerak jalan kelembagaan dalam GBKP.

Tetapi yang menjadi perhatian kita adalah meski dikatakan rendahnya intensitas konflik, namun yang membuat kita perihatin adanya pembentukan klasis  baru dimasa lalu, adanya pembentukan runggun yang ganda dalam satu gedung gereja, adanya pemekaran sektor yang dipaksakan, jemaat yang ibadah di geraja lain.

  1. Type Konflik

Dalam penelitian ini, dicoba untuk melihat tipe konflik yang muncul dalam tubuh GBKP. Tipe yang dimaksud disini adalah tipe berdasarkan: Jumlah orang yang terlibat, Kepatuhan terhadap aturan main dan Penggunaan kekerasan.

Berdasarkan data yang diperoleh ternyata dalam responden cenderung melihat tipe konflik berdasarkan jumlah orang yang terlibat. Tipe konflik yang paling menonjol pada konflik ini adalah konflik antarindividu, dan menyusul adalah konflik antara individu dengan kelompok.

Selanjutnya adalah tipe konflik berdasarkan kepatuhan terhadap peraturan, dan konflik berdasarkan penggunaan kekerasan yang relatif kecil. Terlihat positif adalah bahwa dimata responden, pihak berkonflik relatif masih mematuhi peraturan, dan sangat kecil konflik yang menggunakan kekerasan. Namun, perlu dicatat bahwa potensi penggunaan kekerasan terlihat pada konflik dalam tubuh lembaga Mamre.

  1. Sikap Terhadap Konflik

Hasil yang ditemukan melalui penelitian ini, ketika diolah lebih lanjut menghasil gambaran, dalam pandangan jemaat GBKP, konflik tidak meningkatkan kreatifitas, tidak meningkatkan kekompakan, menunjukkan adanya persaingan, menyebabkan ketidakteraturan, menimbulkan kekerasan, memperlambat pengambilan keputusan, tidak mendorong terhindarinya konflik pada masa yang akan datang.

Sikap terhadap sesuatu akan mempengaruhi kecenderungan aksi yang dilakukan terhadapnya. Maka sikap terhadap konflik akan mempengaruhi kecenderungan aksi dalam menghadapi konflik. Berdasarkan hasil penelitian ini tampak bahwa kecenderungannya jemaat GBKP bersikap negatif dalam menghadapi konflik, dalam arti cenderung menghindar terhadap konflik. Dalam anggapan mereka konflik menggambarkan adanya persaingan,      menyebabkan ketidakteraturan, menimbulkan kekerasan, memperlambat pengambilan keputusan,       dan konflik tidak meningkatkan kreatifitas serta tidak meningkatkan kekompakan.

Dua sikap yang secara menyolok mereka tampilkan untuk menggambarkan bahwa konflik merupakan sesuatu yang negatif adalah bahwa konflik menyebabkan ketidakteraturan dan konflik memperlambat pengambilan keputusan.

Dari 10 (sepuluh) statemen yang diajukan untuk ditanggapi oleh responden hanya satu  yang ditanggapi positif yakni: konflik dapat dihindari dengan konflik. Sikap ini menunjukkan bahwa mereka kebanyakan memiliki sikap “untuk tidak terperosok pada lobang yang sama” sehubungan dalam hal pengalaman berkonflik.

  1. Penyebab Konflik

Berdasarkan data yang diperoleh ternyata penyebab konflik yang dianggap paling menonjol adalah kesalahpahaman. Biasanya kesalahpahaman menyangkut ketidaksamaan makna atau nilai sesuatu hal dalam anggapan pihak-pihak yang berkonflik. Ketidaksamaan ini dapat terjadi karena faktor komunikasi yang tidak berjalan dengan lancar dan syak wasangka yang muncul sebelum dan ketika komunikasi berlangsung. Penyebab selanjutnya adalah ketidaktegasan pimpinan dan keputusan gereja. Sikap tidak tegas yang diperlihatkan oleh pimpinan dalam banyak kasus juga menyebabkan proses penyelesaian konflik membutuhkan waktu yang lama, bahkan tidak dapat diselesaikan sama sekali. Mungkin saja ini terjdi karena perebutan kepentingan. Perebutan kepentingan ini bisa terjadi karena ada yang menganggap jabatan gereja bukan sepenuhnya panggilan.

Anggapan bahwa keputusan gereja sebagai penyebab konflik, memunculkan dua kemungkinan yakni: rendahnya wibawa gereja di mata jemaat karena kelemahan-kelemahan pejabat/pengurus gereja rendahnya kepatuhan jemaat sebagai wujud ketidakdewasaan jemaat.

  • Resolusi/Penyelesaian Konflik

Berdasarkan data yang diperoleh melalui penelitian ini, ternyata Pendeta dipandang memiliki peran penting dalam hal penyelesaian konflik dalam tubuh jemaat dan kelembagaan gereja. Wibawa Pendeta sebagai “ingan penungkunen kerna Kata Dibata ras pendalankenna” masih berakar di mata jemaat. Pengalaman menunjukkan sikap tegas dan konsisten serta integritas yang ditampilkan para pendeta berhadapan dengan masalah-masalah yang muncul di tengah jemaat, menjadikan pendeta sebagai rujukan utama dalam pengambilan keputusan, dan bahkan Pendeta hadir sebagai juru damai. Secara spesifik ungkapan “uga nina pendeta bage ningkami” masih sering muncul di tengah jemaat.

Disamping Pendeta, Badan Pekerja Majelis Runggun (BPMR) juga dipandang berperan penting dalam penyelesaian konflik di dalam tubuh jemaat. Kebersamaan atau kolegialitas beberapa orang dalam BPMR menjadikan lembaga ini dipercayai dapat mengambil keputusan yang lebih “fair”.

Jadi kesimpulan yang didapat bahwa pihak yang dipandang terpenting dan berperan dalam penyelesaian konflik dalam tubuh GBKP adalah Pendeta, disamping Pendeta adalah juga Badan Pekerja Majelis Runggun (BPMR), Pertua dan Diaken.

 Oleh karena itu, dalam penelitian ini Tim litbang GBKP juga meneliti bagaimana kecenderungan Kemampuan Pemimpin Meresolusi Konflik di GBKP dan mengetahui indikator yang paling dominan membentuk Kemampuan Pemimpin Meresolusi Konflik menurut Kisah Para Rasul 6:1-6 di GBKP.

Kami mengambil nats Alkitab Kemampuan Pemimpin Meresolusi Konflik menurut Kisah Para Rasul 6: 1-6 di GBKP, yaitu keahlian para gembala sidang / majelis dalam menganalisa dan mengambil tindakan pada suatu permasalahan serta dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di organisasi yang dikelolanya, adapun ciri-ciri yang dihasilkan dari kajian teori adalah: kemampuan mengimplementasikan fungsi jabatan dalam organisasi; kemampuan menanggapi perubahan situasi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan membuat strategi resolusi konflik, kemampuan memberi solusi konflik dan kemampuan mengeksekusi solusi konflik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka kesimpulan dalam penelitian ini menyatakan Pertama, kecenderungan Kemampuan Pemimpin Meresolusi Konflik di GBKP se Indonesia (Y) adalah cenderung cukup memiliki kemampuan menurut Kis. 6 : 1-6 secara signifikan pada a<0,05.

Kedua indikator Kemampuan Berkomunikasi (y3) adalah indikator yang paling dominan yang membentuk variabel Kemampuan Pemimipin Meresolusi Konflik di GBKP se Indonesia menurut Kis. 6 : 1-6 (Y).

Melihat hasil penelitian, maka tim Litbang GBKP  memberikan masukan-masukan sebagai strategi dari Kemampuan Pemimpin Meresolusi Konflik di GBKP.

Pertama, mengelola komunikasi sebagai syarat dasar penguasaan konflik, agar tercipta swakelola teknik berkomunikasi

Kedua, membentuk dan menciptakan pemimpin yang visioner meramu strategi, sehingga pemimpin cerdas meramu strategi.

Ketiga, Menjalankan eksekusi solusi konflik sesuai dengan mandat resolusi di tengah konflik pelayanan. Sehingga pemimpin : a) Piawai menentukan prioritas dalam mengeksekusi penuntasan resolusi konflik; b) Sanggup mengaktualisasi eksekusi solusi konflik sesuai mandate keputusan yang mengaju pada proyeksi ke masa depan GBKP; c) Berani mengemban eksekutor yang menjalankan titah konstitusi bagi pelayanan; d) tegas meyakini pemberian kepercayaan jemaat bagi terselenggaranya keberpihakan kepada peradaban kebersamaan GBKP.

Strategi dari Kemampuan Berkomunikasi.

Pertama, Pelatihan dasar aplikatif tentang teknik berkomunikasi melalui tuntunan keahlian inter dan intrapersonal, meliputi : a). Pencermatan dan pemilihan mendalam perilaku pelayanan yang dimampukan ditembus oleh teknik ketrampilan berkomunikasi, b) pendaratan ketrampilan berkomunikasi ditengah konflik actual pelayanan jemaat.

Kedua, Perujukan dan persenyawaan bersama pengendalian teknik berkomunikasi antar jemaat dalam aras terstruktur, seperti: 1) Perhimpunan penentuan pola, model dan sajian komunikasi intra dan inter runggun, intra dan inter klasis, 2) Perhimpunan penentuan pola, model dan sajian komunikasi intramoderamen.

Ketiga, Penguasaan konflik dan penemuan solusinya yang didaratkan dengan teknik berkomunikasi dengan tahapan sistemik dan sistematik dalam aras terstruktur

Penelitian Biro Litbang terbaru pada tahun 2019 adalah Efektivitas Garis-garis Besar Pelayanan di Gereja Batak Karo Protestan. Penelitian ini dikerjakan karena tim penulis buku GBP GBKP sedang bekerja untuk menghasilkan buku GBP tahun 2021-2025. Hasil penelitian yang telah didapat (data-data lengkap pada tim Litbang GBKP):

  1. Efektivitas Garis – Garis Besar Pelayanan di GBKP  adalah dalam kondisi  menuju  efektif  secara signifikan pada α<0,05.
  2. Pengenalan Garis-Garis besar Pelayanan di GBKP adalah dalam kondisi menuju Kenal secara signifikan pada  α<0,05
  3. Pemahaman Fungsi Garis-Garis Besar Pelayanan di GBKP adalah dalam kondisi menuju Paham secara signifikan pada α<0,05
  4. Pengimplementasian Garis-Garis Besar Pelayanan di GBKP adalah berada dalam kondisi  menuju diimplementasikan secara signifikan pada α<0,05
  5. Dampak Implementasi Garis-Garis Besar Pelayanan di GBKP adalah berada dalam kondisi menuju berdampak secara signifikan pada α<0,05.
  1. Indikator yang paling dominan membentuk Efektivitas Garis – Garis Besar Pelayanan di GBKP  baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama   adalah Pengimplementasian Garis – Garis Besar Pelayanan (y3). Dan Efektivitas ini sangat didukung oleh indikator Pemahaman Garis-Garis Besar Pelayanan (y2)
  2. Indikator moderator yang paling dominan membentuk Efektivitas Garis-Garis Besar Pelayanan di GBKP adalah Status di Gereja (y8).

Analisis Tabel Data:

  1. Pengenalan GBP

Berdasarkan data-data yang telah diperoleh, terlihat bahwa sebagian besar responden yaitu 88,6% memiliki memiliki buku GBP GBKP, tetapi ternyata masih ada 11,4% pekerja gereja tidak memiliki buku GBP. Dan 71,9% mengatakan bahrwa buku GBP tersebut diberikan oleh runggun pelayan di runggun, pengurus klasis diberikan oleh klasis, pengurus Moderamen diberikan oleh Moderamen. Walaupun ada berkisar 18,2% yang mengatakan tidak disediakan oleh gereja, sehingga harus membeli sendiri dan meminjam. Ketika ditanya mengenai kelengkapan membaca GBP hanya 15,6% yang membaca selengkapnya, responden ini kemungkinan adalah dari Modramen dan BPMK. Karena 73% responden membaca tapi tidak selengkapnya. Ketika dilakukan wawancara dengan beberapa orang pengguna buku GBP dari runggun dan unit, mereka mengatakan bahwa mereka hanya membaca yang menjadi bahagian dari pelayanan mereka atau membaca yang mereka butuh saja. Mirisnya, ada 11,4% yang tidak membaca buku GBP. Jika dilihat dengan data dari pertanyaan No.1 sama jumlahnya dengan yang tidak memiliki buku GBP.

Para responden yang berjumlah 90,3% mengatakan bahwa bukan hanya pekerja gereja saja yang harus memiliki buku GBP tetapi semua jemaat sebaiknya memiliki buku GBP. Ketika dilakukan wawancara dengan salah seorang yang setuju bahwa semua jemaat harus memiliki buku GBP, dia mengatakan supaya jemaat pun mengetahui pedoman pelayanan GBKP sehingga satu pandangan tentang acuan dalam menyusun program di runggun. Tetapi, kami melakukan wawancara dengan jemaat di beberapa runggun, semuanya mengatakan mereka tidak mengenal dan tidak memiliki GBP karena berpikir tidak perlu mengetahui GBP.

  • Memahami Fungsi (output) GBP

Berdasarkan data-data yang telah diperoleh, terlihat bahwa hanya 7,4% yang memahami selengkapnya isi dari buku GBP. Kemungkinan sebagian dari 26 responden ini adalah pengurus moderamen. Dalam tingkat belum memahami selengkapnya sangat besar, 83,5%. Dan tidak memahami sama sekali berjumlah 9,1%. Lebih besar jumlah yang tidak memahami dari pada memahami selengkapnya.

 Dalam Unit Kerja/Kategorial responden mengatakan bahwa sudah mengacu/merujuk pada arahan yang dimuat pada buku Garis-garis Besar Pelayanan (GBP) GBKP dalam rangka penyusunan program/kegiatan. Tetapi yang menjawab merujuk selengkapnya adalah hanya 8%. Merujuk sebagian besar ada 41,2%, Merujuk Seperlunya 27,6%, Merujuk Sebagian 18,2%. Dan yang tidak sama sekali merujuk kepada GBP 5,1%. Artinya, unit/kategorial sudah membaca dan melaksanakan GBP walaupun sebagian besar belum selengkapnya melaksanakan GBP. Ketika kami melakukan Wawancara dengan pengurus unit kerja/kategorial alasan mereka supaya lebih praktis saja.

Mengenai penyusunan program-program di setiap unit kerja baik moderamen, klasis dan Runggun seharusnya mengacu kepada  tema tahun gereja yang tercantum dalam GBP senayak 93,7% memberikan respon positif. Sebaiknya memang moderamen, klasis. Runggun mengacu kepada tema tahun gereja yang tercantum dalam GBP untuk menyusun program-program kerja, sehingga benar-benar GBP menjadi acuan dalam menyusun program di semua tingkatan mulai dari runggun, klasis dan moderamen. Hal ini sejalan dengan ada sebanyak 96,1% responden yang setuju jika GBP berfungsi sebagai arah bagi Majelis Gereja untuk memahami tugas dan fungsinya sebagai  pelayan gereja.

Guna memahami GBP ini, menurut jawaban responden ada sebanyak 96,9 yang setuju bahwa perlu dilakukan sosialisasi kepada setiap majelis gereja. Ketika melakukan Wawancara dengan beberapa majelis gereja, mereka mengatakan moderamen dan tim penyusun GBP kurang maksimal untuk mensosialisasikan GBP secara berkelanjutan. GBP hanya disosialisasikan satu atau dua kali saja. Sosialisasi berkelanjutan kepada Majelis Gereja ini sangat penting, karena menurut 98,6% responden mengatakan Majelis gereja berkewajiban untuk menjelaskan mengenai GBP kepada pengurus kategorial, pengurus pjj dan jemaat. Apabila majelis gereja tidak memahami GBP dengan mendalam maka tidak mungkin majelis gereja mampu dan mau menjelaskan mengenai GBP kepada pengurus kategorial, pengurus pjj dan jemaat.

  • Mengimplementasikan ( outcome ) GBP

Berdasarkan data-data yang telah diperoleh, ada 66,7% responden yang melihat jemaat gereja sudah ikut berpartisipasi dalam kegiatan gerejawi setelah tahun tema partisipasi jemaat selama satu tahun dikumandangkan. Tetapi yang masih merespon negatif juga besar yaitu sebanyak 33,3% mengatakan kadang-kadang dan hampir tidak pernah. Hal ini mengatakan masih besar jumlah jemaat yang belum ikut sepenuhnya berpartisipasi dalam kegiatan gerejawi. Mengenai Majelis gereja memberdayakan jemaat gereja sesuai dengan talenta yang dimiliki sebanyak 82,7% mengatakan majelis jemaat sering memberdayakan jemaat sesuai talentanya. Dan 83,3% menjawab jemaat gereja dengan sukacita dan penuh komitmen melakukan tugas yang diberikan Majelis gereja. Begitu juga, responden secara positif melihat Majelis gereja bersama dengan jemaat bersemangat mendiskusikan bahan PJJ ataupun PA sebesar 86,6%. Mengenai Majelis gereja menganjurkan kepala keluarga menyediakan waktu untuk membaca Alkitab bersama-sama dengan anggota keluarga, responden menjawab majelis gereja sering menganjurkannya sebesar 88,9%.

Pada tahun 2019 sasaran program GBKP adalah tahun kewirausahaan, responden menjawab sebesar 75,9% Gereja mengajak jemaat agar berani memulai usaha sendiri (wirausaha) sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Meskipun ada 20,5% responden yang memberi respon negatif. Ada sebesar 88,3% menjawab Majelis gereja mendukung para pelayan Tuhan yang melakukan wirausaha. Gereja juga membantu dalam dana, Gereja melalui CUM memberikan pinjaman kepada jemaat yang mau memulai atau menambah modal dalam berwirausaha, sebesar 89,2% responden setuju. Dan responden sebesar 78,1% menjawab setuju kaum muda gereja sudah berani membuka usaha sendiri karena gereja memotivasi mereka untuk berani melakukannya.

Mengenai outcome dari Tahun Politik pada tahun 2018, responden juga melihat dengan positif bahwa sebesar 78,1% mengatakan jemaat GBKP berkomitmen untuk memberikan suaranya pada saat pemilu 2019. Hal ini selaras dengan pernyataan dari KPU Tanah Karo yang mengatkan pemilih tanah karo sudah berkurang golput pada pippres tahun 2019 dibanding dengan pilkada tahun-tahun sebelumnya. Dan, dapat kita katakan pendidikan politik yang terus diberikan oleh GBKP kepada jemaatnya sudah ada hasilnya.

Begitu juga dengan pelaksanaan pembinaan berkelanjutan terhadap  Pertua/Diaken yang selama ini berlangsung sebesar 85,8% responden melihat hal itu sangat baik. Karena itu pembinaan berkelanjutan kepada pertua diaken harus terus dilaksanakan supaya pertua diaken semakin mengerti tugas dan tanggung jawabnya. Dan dalam pembinaan berkelanjutan tersebut, sangat baik apabila memberikan materi GBP.

Dari data yang telah diperoleh pada dasarnya responden menilai dengan baik outcome dari GBP.

  • Dampak GBP

Berdasarkan data-data yang telah diperoleh menyangkut dampak GBP, reponden menjawab dengan bekerja secara bersinergi antar unit kerja di GBKP, maka visi GBKP akan terwujud., 95.1% meyakini hal ini. Keyakinan yang besar juga diungkapkan oleh responden dalam menjawab terwujudnya visi GBKP membuat jemaat berminat menjadi pelaku / subjek dalam kegiatan-kegiatan gereja, sebesar 88,9% meyakini hal ini. Begitu juga ada 97,1% mengatakan bahwa perkembangan GBKP akan menjadi menjadi lebih baik jika pelayan Tuhan melayani dengan penuh komitmen. Dan 98,3% mengatakan pelayan Tuhan haruslah memberdayakan jemaat sesuai dengan bakat atau talenta yang dimilikinya demi mewujudkan visi dan sasaran GBKP. Serta 94% menjawab bahwa pelayan Tuhan memperlakukan jemaat Tuhan sebagai subject, sehingga semua kegiatan mengarah untuk pemenuhan kebutuhan rohani jemaat.

Responden sebesar 72,8% juga menjawab Pelayan-pelayan  gereja telah melakukan tugas pelayanannya sesuai dengan job description nya. Meskipun ada 24,1% yang meragukannya dan hanya 3,1% tidak setuju jika Pelayan-pelayan  gereja telah melakukan tugas pelayanannya sesuai dengan job description nya.

Adapun kegiatan/program yang sedang dilaksanakan adalah meneliti Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi Jemaat Dalam Kegiatan Ibadah di GBKP. Kemudian penelitian Efektifitas Setialah GBKP tentang “Orat Nggeluh Aron Dibata” terhadap Pertua Diaken se GBKP dan penelitian Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Kehidupan Bergereja. Serta kegiatan Pembinaan Lanjutan LITBANG Moderamen di Jakarta, Medan, Kabanjahe dan Pekan Baru

(Lanjutan Pelatihan Penelitian Pengurus Litbang Klasis dan Runggun GBKP) dan Analisis Laporan BPMK Tahun 2019.

Sebagai peneliti-peneliti yang bekerja dari belakang layar, kami percaya bahwa rekomendasi yang ditawarkan oleh Biro Litbang GBKP akan membuka gerbang membuat gereja menjadi gereja multi inovatif. Pelayanan ini akan membuka sekat pemisah  orang yang percaya (gereja) dan dengan harapan membangun kerjasama dan kesatuan.

FGD Hasil Penelitian Litbang GBKP
TOT Litbang GBKP 26-28 September 2019
Penelitian PRA Politik
Komentar

Mungkin Anda Menyukai