MEMBERI DIRI, BERTUMBUH DAN BERKARYA DALAM PELAYANAN PERMATA GBKP (Motivasi Untuk Tetap Aktif Dalam Pelayanan PERMATA GBKP)

“Hiasan orang muda ialah kekuatannya” (Amsal 20:29b). Masa muda dikenal dengan masa-masa energik, punya semangat pantang menyerah, mau berusaha, tak kenal lelah, dengan kekuatan penuh dan militan. Masa muda adalah satu periode transisi seorang manusia dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Inilah waktu di mana seseorang memiliki perkembangan yang pesat akan pemikiran abstrak, penemuan identitas diri secara psikologis, dan keinginan untuk hidup mandiri. Masa di mana seseorang dipenuhi dengan kekuatan dan vitalitas yang tinggi, sekaligus dalam menghadapi badai, konflik sekalipun. Satu masa yang ditandai dalam hidup seseorang ketika kekuatan fisik menjadi begitu memuncak. Amsal 20:29b dengan jelas menyatakan bahwa kekuatan inilah yang menjadi keunikan dari orang muda. Sebenarnya inilah yang menjadi modal utama bagi pemuda/i untuk mengasah kemampuannya, berkreativitas, melakukan eksplorasi, mencoba hal-hal baru, hidup bergaul dengan orang-orang sekitarnya untuk membangun relasi dan menambah pengaaman hidup, tentu saja dalam aspek yang positif dan membangun. Sebab dari pergaulanlah yang menjadi salah satu sarana bagi pemuda/i untuk dapat semakin mengenal dirinya, termasuk seluruh potensi, talenta dan apa yang menjadi kelemahan dirinya. Namun perlu tetap ada batasan seperti “alaram” untuk tetap mengingatkan apakah pergaulan dan kelakuannya sudah keluar jalur.

            “Bersukarialah, hai pemuda dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!” (Pengkhotbah 11:9). Kitab Pengkhotbah mau memberikan peringatan bahwa hidup pemuda/i akan menghadapi gejolak keinginan hati dan pandangan mata. Ditambah keinginan kuat untuk hidup berdiri sendiri, berkarya sendiri, membuat orang muda cenderung meminta kekebasan, dan terkadang lepas kontrol yang keluar dari hati dan mulut pemuda/i. Inilah yang dilihat dan dirasakan oleh Pengkhotbah, sehingga ada harapan bagi Pengkhotbah agar orang muda harus sadar bahwa segala hal yang dilakukannya, akhirnya harus dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Allah. Kekuatan dan dorongan kebebasan yang begitu bergejolak dalam diri orang muda harus dikontrol dengan kesadaran akan adanya kemarahan Allah dan penghakiman di pengadilan yang pada masanya akan berlangsung.

            “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6). Menurut hemat saya, maka masa muda bukan saja harus cerdas secara ilmu pengetahuan (punya pendidikan yang baik sewaktu di bangku sekolah dan kuliah, bahkan sampai mencapai pendidikan S1, S2, S3), begitu juga cerdas dalam membangun jaringan (bersosial), punya banyak teman dan relasi, hidup dalam pergaulan yang membangun. Namun yang terutama dan paling utama, orang muda harus punya pondasi yang kuat, cerdas dalam spritual. Hidup kudus, hidup rohani, mengenal Tuhan dan dekat dengan Tuhan. Inilah yang digambarkan dalam Amsal 22:6, orang muda harus mendapat didikan menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Inilah “immunt” kekebalan bagi orang muda yaitu kedekatan dengan Tuhan. Ini merupakan pondasi dan pilar bagi orang muda, yang membuat orang muda kokoh, tidak mudah terjerumus dengan hal-hal negatif yang ditawarkan dunia ini. Oleh sebab itu, masa muda harus diisi dengan segala hal yang berharga, berbobot dan bermutu, menjadi berkat di mana dia berada. Maka dari itu, sangat penting bagi seorang muda untuk memperhatikan apa yang mengisi dan membentuk hidupnya, sebab berdampak dalam kehidupan yang menuju kekekalan.

            Pertanyaan yang bisa menjadi perenungan bagi kita orang tua (Moria, Mamre, Saitun): “Enggo nge siajarken anakta PERMATA GBKP i rumah, rikutpe anakta PERMATA GBKP i Gereja uga kearusen nggeluh, maka ikutkenna asa umurna nggeluh?” Nina ibas Ulangen 6:7-9 “Ajarkenlah perentah Dibata e man anak-anakndu. Persingetilah rusur, subuk sanga kam i rumah, ntah sanga kam i bas perdalanen, subuk sanga kam ngadi-ngadi ntah pe sanga kam erdahin. Iketkenlah undang-undang e i bas pergelangen tanndu pakeken i bas perdempakenndu, gelah jadi persinget man banndu. Suratken e i bas binangun pintun rumahndu ras i babo pintu gerbangndu”. Ini artinya, tidak ada kata berhenti (la erngadi-ngadi) mendidik anak, orang  muda dalam kehidupannya.

Kalau saya berpikir selaku orang tua, selain pengajaran yang kita lakukan di rumah, maka salah satu hal yang perlu juga kita lakukan adalah, biarkan dan doronglah anak kita PERMATA GBKP untuk aktif di dalam kegiatan Gereja. Di sana anak kita akan semakin bertumbuh, berkarya, mengenal Tuhan dan menjalin persekutuan dengan sesama. Kita dorong anak kita PERMATA GBKP agar aktif dalam mengikuti Kebaktian Minggu (ikut terlibat dalam pelayanan Kebaktian Minggu), aktif dalam kepengurusan pelayanan di PERMATA GBKP, tingkat Sektor, Runggun, Klasis, Pusat (sesuai dengan jenjang pelayanannya). Sebab, pelayanan dalam kepengurusan PERMATA GBKP bukanlah menjadikan waktu belajar dan pekerjaan/usaha anak PERMATA GBKP kita tersita, terkuras, buang-buang waktu: tenaga, materi, pikiran. Tetapi melalui aktif dalam kepengurusan pelayanan PERMATA GBKP di Gereja, menjadikan anak PERMATA GBKP kita semakin mampu menciptakan waktu berkualitas, lebih mampu memanage waktu dengan baik antara sekolah/kuliah/pekerjaan/usaha. Memanfaatkan wadah organisasi rohani (PERMATA GBKP) sebagai ajang berkarya, mengerti organisasi, hidup berjejaring, bersosial, membangun persekutuan bersama dalam mengenal Tuhan. Serta mengenal dan mendapatkan teman hidup nantinya dalam wadah rohani (PERMATA GBKP). Kerinduan kita, anak kita PERMATA GBKP bukan hanya pintar dalam hal ilmu pengetahuan, berjejaring/bersosial (mengelola emosi/perasaan dalam kehidupan bersosial), tetapi yang paling utama mampu semakin mengenal dan semakin dekat dengan Tuhan, kehidupan rohani yang mantap. Hidup dalam persekutuan dengan saudara seiman dalam mengenal Tuhan, dan hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan. Ini menjadi modal utama di dunia dan menuju kekekalan hidup.

            Pertanyaan yang bisa menjadi perenungan kepada PERMATA GBKP, yang pertama: “sudahkah PERMATA GBKP memakai masa mudanya dengan hidup kudus dan menjaga hubungan yang baik dan semakin mengenal Tuhan?” Yang kedua: “sudahkah PERMATA GBKP memakai masa muda, masa yang penuh kekuatan, energik. Banyak ide, kemampuan dan karya untuk kemuliaan Tuhan?” (Itu artinya bukan hanya berguna untuk diri sendiri tapi menjadi berkat bagi orang lain). Yang ketiga: ”apa yang sudah kita berikan/kerjakan/lakukan dari apa yang kita mampu untuk kemajuan GBKP keseluruhan dan untuk kemajuan ketegorial PERMATA GBKP secara khusus?” (selagi ada waktu dan kesempatan, mari berikan diri terlibat dalam pelayanan PERMATA GBKP, bahkan dalam lingkup yang lebih luas lagi “go internasional” dalam pelayanan bagi kemuliaan Allah). Tuhan yang utus, maka Tuhan pulalah yang urus dan mampukan.

“Hidup ini adalah kesempatan, hudup ini untuk melayani Tuhan. Jangan sia-siakan apa yang Tuhan b’ri, hidup ini harus jadi berkat. O Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat. Bila saatnya nanti ku tak berdaya lagi, hidup ini sudah jadi berkat”

Pdt. Mira Mutianta Br. Sinulingga, S.Th

(Pendeta PERMATA GBKP)

Komentar

Mungkin Anda Menyukai