MENJADI PENGGIAT DIAKONIA DI JAMAN MILENEAL

Oleh Pdt.Petros A.Sitepu (Pendeta Khusus C.U.M GBKP)  

Apa yang anda bayangkan jikalau kita ditanya tentang berdiakonia. Bisa saja kita menyebut diakonia adalah kegiatan yang selalu berkaitan dengan orang sakit. Mungkin tentang menghibur keluarga orang yang telah meninggal dunia. Atau bisa saja diakonia selalu berkaitan dengan memberikan bantuan kepada orang susah atau terkena bencana. Ini merupakan gambaran umum yang sudah kita lihat dalam kehidupan orang Kristen. Jemaat gereja menekankan pentingnya berdiakonia sebagai wujud nyata perbuatan iman namun orientasinya adalah menolong orang lain.

Namun seiring perkembangan situasi dan kondisi baik jemaat maupun lingkungannya, diakonia itu sendiri sudah tentu akan semakin berkembang. Jikalau kita katakan diakonia itu sebagai wujud nyata iman jemaat tentu saja apa apa saj yang menjadi kebutuhan jemaat itu sendiri perlu di cermati dengan seksama. Iman menjawab persoalan yang dihadapi jemaat maka apa apa saja persoalan jemaat itu? Tentu semakin kompleks dan dinamis.

Apakah semua gereja sudah menyadari hal itu? Ini merupakan hal yang urgen untuk dijawab. Sikap jemaat dalam imannya bisa saja stagnan atau dalam status quo. Dalam program dan target pelayanan mungkin program yang Nampak justru sebatas copy paste dengan alasan alasan klasik. Tidak hanya jemaat bisa saja para Hamba Tuhan beserta pengurus gereja lainnya juga memiliki situasi yang sama. Jikalu demikian tentu saja sangat berbahaya dalam menyatakan iman sebagai jawaban atas persoalan hidup seseorang.

Dalam hal ini diakonia menjadi sangat menarik untuk didiskusikan, walaupun tidak semua gereja memiliki institusi atau kelembagaan yang concern untuk menyikapinya. GBKP Misalnya dengan berbagai kemajuan diakonia belum memiliki wadah diakonia yang menekankan gambaran diakonia yang dinamis. Jika disebut mungkin hanya ibadah yang lebih condong selalu berimprovisasi dengan kelembagaan koninoianya. Seolah-olah sentuhan Kristus dalam ibadah diyakini menjawab persoalan rohani. Kualitas iman ditentukan dari kekusyukan jemaat dalam beribadah sehingga tergerak hatinya bertobat dan bertransformasi secara hakiki.

Apakah itu cukup? Apakah sudah benar menjadi kesejatian iman jemaat itu sendiri? Jika Alkitab berbicara tentu saja belum. Ibadah Isarel dalam masa nabi-nabi pernah disebut gambaran kemunafikan dan dibenci oleh Allah. Intropeksi dan kemurnian hati harus menjadi target dalam iman Kristen.

Komunitas Diakonia Transformatif yang dikenal dengan istilah Credo Union Modifikasi (C.U.M) merupakan wadah dalam mengupayakan adanya percepatan dalam peningkatan pemahaman jemaat khususnya GBKP untuk mengenal lebih dalam tentang diakonia. Jemaat yang menerima panggilan Tuhan Yesus untuk menyelami diakonia. Karena jemaat itu sendiri merupakan diaken-diaken informal yang telah lebih dahulu menerima diakonia Tuhan Yesus yakni keselamatan atas keberdosaannya.

C.U.M sebagai salah satu unit diakonia GBKP mengupayakan topic topic pendalaman diakonia melalui unit-unit ditingkat Klasis dan perwakilan ditingkat runggun. Hal ini sesuai jenjang struktur yanga da di GBKP. Ada beberapa hal yang telah dilakukan melalui Badan Pusat C.U.M yakni

1. Mengorganisasikan unit dan perwakilan C.U.M di tingkat Klasis dan runggun se-GBKP. Hal ini tentu saja berkoordinasi dengan BPMK/BPMR setempat dan menjadikannya sebagai Pembina dan pengawas Unit/ perwakilan  C.U.M

2. Melakukan operasional yang berkaitan dengan tupoksi C.U.M yakni AD/ART serta ketentuan khusus yang disepakati dalam rapat baik anggota maupn kepengurusan. Kesepakatan yang diambil ini juga tidak terlepas dari kerjasama dengan BPMK/BPMR setempat. Tupoksi ini sejalan dengan Tata Gereja dan GBP GBKP. 

3. Melakukan program pendidikan baik kepadan anggota maupun kepengurusan yang dipilih oleh anggota penuh baik unit  maupun perwakilan. Program pendidikan ini terkait dengan :

  • Pengenalan dasar-dasar diakonia
  • Pengetahuan akan peraturan yang sudah disepakati (AD/ART)
  • Pemanfaatan dan pengembangan potensi dan sumber daya yang ada (Empowering)
  • Memotivasi gerakan bersama dalam pengembangan diakonia GBKP

4. Mensosialisasikan hasil-hasil yang telah diperoleh beserta dengan pemanafaatannya demi dampak positif dalam kemajuan diakonia GBKP dan iman jemaat setempat.

            Dalam hal ini ada beberapa kendala yang kami dapati dilapangan yang antaralain yakni :

  1. Adanya kesan di jemaat terkait dengan lembaga CU. Koperasi dan lainnya. Hal ini dikarenakan adanya saham yang diberikan anggota sebagai wujud dukungan atas operasional CUM. Sekaligus di investasikan kepada anggota C.U.M yang membutuhkan sesuai perkiraan dan kesanggupannya.
  2. Adanya system Deviden atau SHOP (sisa hasil opersional pelayanan) yang diberikan kembali kepada anggota sebagai bagian dari kesepakatan dan meningkatkan promosi C.U.M. Namun seharusnya karena ini merupakan upaya diakonia maka deviden dan SHOP harus lebih diharapkam dapat menyokong pengembangan diakonia itu sendiri. Cth yang sudah ada mendukung rumah singgah komisi HIV/AIDS GBKP setiap tahun. 
  3. Kerjsama antar steakholders yang ada belum maksimal. Hal ini disebabkan adanya kurangnya pemahaman tentang tugas dan tanggung jawab penguatan jemaat melalui diakonia transformatif. Manfaat yang diharapkan baru sebatas keuntungan ekonomi dan mengenai simpan pinjam semata.
  4. SDM dalam pengembangan unit-unit dan pewakilan C.U.M kedepannya sangat menentukan. Hal ini sejalan dengan tuntutan kepercayaan jemaat dan anggota C.U.M itu sendiri. Ada beberapa unit yang terkendala di SDM sehingga diperlukan pengawasan yang lebih intens dan rutin. 

Adapun beberapa pencapaian yang dapat dijadikan ukuran keberhasilan C.U.M antaralain :

  • Jemaat berperan aktif dalam opersional C.U.M. Ada beberapa unit CUM yang memiliki asset 200juta dalam kurun waktu 1tahun. Ini merupakan anggota yang sewaktu waktu dapat diambil dan diinvestasikan kepada anggota C.U.M
  • Kepengurusan C.U.M dalam rutinitasnya bekerjasama dengan manager C.U.M telah mampu mengelola saham anggota. Hal ini membuat peran gereja menjadi ikatan penting dalam pengembangan diakonia transformative.
  • Jemaat semakin sadar pentingnya pengetahuan berdiakonia. Jemaat dan anggota C.U.M semakin bersemangat berperan dalam kegiatan gereja. Tingkat kepercayaan atar sesama semakin meningkat.
  • Pola opersional C.U.M yang berpotensi yakni wilayah kota dan semi kota. Dengan potensi ekonomi, social dan iman yang dinamis operasional unit C.U.M menjadi kesaksian perkembangan GBKP ditengah-tengah masyarakat. Jemaat tidak hanya dimotivasi untuk beribadah namun dibudayakan untuk bersiap dan bersikap dalam berdiakonia.    

Demikianlah pemaparan mengenai Diakonia, C.U.M dan situasi yang ada saat ini dalam kegiatan C.U.M GBKP melalui Badan Pusat C.U.M.       

Komentar

Mungkin Anda Menyukai