Pasca bencana alam yang melanda wilayah Sibolga dan sekitarnya
beberapa bulan lalu, Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) bersama
gereja-gereja dan lembaga mitra melaksanakan pelayanan trauma healing
bagi anak-anak penyintas bencana. Pelayanan ini didasari atas kesadaran
bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan mengalami trauma dan
bertujuan untuk membantu pemulihan psikososial anak-anak agar mereka
kembali merasakan rasa aman, sukacita, dan harapan di tengah situasi
pascabencana sebagai wujud pelukan kasih dan perhatian gereja bagi
anak-anak penyintas bencana.
Pelayanan trauma healing ini merupakan hasil kolaborasi lintas lembaga, yang melibatkan:
- Tim Sinode GBKP, yang diwakili oleh Pdt. Benny Kaban (Ketua (Komisi
Penanggulangan Bencana (KPB) GBKP), Pdt. Oklin Yovalina Br Tarigan
(Pendeta Tugas Khusus Yayasan Pendidikan (YPK) dan Yayasan Perguruan
Tinggi Neumann Indonesia (YPTNI) GBKP), Pdt. Iswan Ginting (Pendeta
Tugas Khusus Sumber Daya Manusia), Pdt. Bangun Firdaus Sembiring (KAKR
Moderamen), Pdt. Karvintaria Br Ginting (Pendeta GBKP Rg. Tiga Panah),
Pdt. Bertha Wandasari Sinukaban (Pendeta Tugas Khusus Humas-IT &
WGM), Pt. Serasi Nefo Sitepu (Ketua BPMR GBKP Rg. Jl. Nias), serta Nora
Magda Parasian Br Hutagalung (Pengurus KAKR Klasis Pematang Siantar).
- Tim Ceria Indonesia, diwakili oleh Melda Yuliana Br Simbolon
- Tim Sinode GKPS, Pdt. Jenny Purba (Kadep Pelayanan), Pdt. Hotmaida
(Departemen Pelayanan), Pdt. Sarmen Girsang (Departemen Pelayanan), Pdt.
Agnes Niptry Saragih (Koordinator WCC Sopou Dame), Pdt. Uli Sinaga
(Pendeta Resort Parapat), Pdt. Jonepko Saragih (Pendeta Resort Bahapal),
Wira Saragih (Pegawai), Yan Munthe (Pegawai).
- Tim Bala Keselamatan, diwakili oleh Kapten Damar Harymukti dan
Kapten Dian Harymukti serta beberapa prajurit dari Bala Keselamatan.
- Creative Play Room Medan
- Khalilah Academy Medan
Pelayanan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa–Kamis, 27–29
Januari 2026, di sejumlah sekolah dan gereja di wilayah Sibolga dan
Tukka dengan fokus pada pemulihan kondisi psikologis anak-anak yang
terdampak bencana, melalui pendekatan edukatif, permainan kreatif,
pendampingan emosional, serta penguatan spiritual yang ramah anak.
Hari pertama: Selasa, 27 Januari 2026
Pelayanan dilaksanakan di beberapa lokasi, yaitu:
- SDN Tukka 1A dengan jumlah peserta 114 anak
- SDN Tukka 1B dengan 119 anak
- GKPS Kota Sibolga dengan 50 anak
- GBKP Runggun Sibolga dengan 68 anak
Pelayanan di SDN Tukka 1A dan SDN Tukka 1B berlangsung pukul 08.00 -
10.00 WIB di dua ruangan kelas yang berbeda dalam satu lingkungan
sekolah. Kegiatan diawali dengan story telling kisah tentang
Ibu Peri yang diperankan oleh Melda Br Simbolon dan BeeCan (lebah) yang
diperankan oleh Pdt. Oklin Y. Br Tarigan, yang saling menghibur dan
menguatkan dalam situasi sulit. Kisah ini mengedukasi anak-anak bahwa
emosi yang mereka rasakan saat itu adalah valid dan selalu ada
orang-orang sekitar yang dapat mendengarkan dan menolong mereka dalam
mengatasi kesulitan.
Selanjutnya, anak-anak dibagi ke dalam kelompok yang terdiri dari 10
orang untuk melakukan aktivitas terapi kreatif. Aktivitas ini dirancang
untuk membantu mereka mengenali serta mengelola trauma yang dialami
dengan cara menggambar telapak tangan mereka di atas kertas HVS yang
dibagikan kepada mereka dan mewarnainya sesuai dengan perasaan mereka.
Jari jempol mewakili perasaan kuatir (KA), jari telunjuk mewakili
perasaan takut (TU), jari tengah mewakili perasaan marah (MA), jari
manis mewakili perasaan sedih (SE) dan jari telunjuk mewakili perasaan ngotot (memaksakan
sesuatu atau bersikeras) (TO) atau yang disingkat teknik terapi
KATUMASETO. Kemudian anak diminta untuk menceritakan yang dirasakannya
sesuai dengan jari yang diwarnainya. Kegiatan berlangsung dalam suasana
hangat dan penuh keceriaan. Anak-anak diajak untuk mengekspresikan
perasaan mereka melalui permainan, cerita, dan aktivitas kelompok. Setelah semua kegiatan selesai anak-anak diberikan bingkisan berupa snack untuk anak-anak yang dikemas apik dalam goddie bag. Pelayanan ini diberikan kepada seluruh siswa tanpa membedakan latar belakang agama.
Pada sore hari, pukul 15.00-17.00 WIB, pelayanan dilanjutkan di GKPS
Kota Sibolga. Kegiatan diawali dengan bernyanyi bersama anak-anak
Sekolah Minggu dengan lagu-lagu pujian yang memiliki gerakan dipimpin
oleh Pdt. Bangun Firdaus Sembiring dan Pdt. Uli Sinaga, disertai ice breaking
oleh Melda Br Simbolon. Pelayanan firman disampaikan oleh Pdt. Jonepko
Saragih melalui metode pantonim, yang menegaskan bahwa Yesus mengasihi
dan memeluk anak-anak dalam setiap situasi kehidupan, termasuk saat
menghadapi ketakutan. Anak-anak Sekolah Minggu juga mengikuti kegiatan
mewarnai gambar dengan tema “Yesus memeluk anak-anak” dan kuis
interaktif yang mengedukasi anak-anak untuk percaya diri dan konsentrasi
dalam kegiatan. Pada akhir kegiatan anak-anak menerima bingkisan dan goddie bag.
Malam harinya, pelayanan trauma healing bagi anak-anak (KAKR)
dilakukan di GBKP Rg. Sibolga dimulai pukul 19.00-21.00 WIB. Kegiatan
diawali dengan nyanyian pujian yang dipimpin oleh Pdt. Bangun Firdaus
Sembiring dan Pdt. Uli Sinaga. Kemudian Pdt. Jonepko Saragih
menyampaikan firman Tuhan dari teks Alkitab Yesaya 54:10 “Sebab biarpun
gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku
tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan
bergoyang”. Pdt. Jonepko menegaskan bahwa dalam situasi apapun kasih
Tuhan tidak akan pernah beranjak dari kehidupan manusia. Rangkaian
kegiatan hampir sama dengan yang dilakukan di GKPS Kota Sibolga. Setelah
pelayanan berakhir, tim melanjutkan briefing untuk mengevaluasi
kegiatan yang telah dilaksanakan dan mempersiapkan kegiatan esok hari.
Hari Kedua – Rabu, 28 Januari 2026
Pelayanan hari kedua menjangkau peserta yang lebih luas. Pada pagi
hari, pukul 08.00–10.00 WIB di SD Tukka Pasar, diikuti oleh 150 anak,
pelayanan di tempat ini dilaksanakan di tiga kelas berbeda, yaitu kelas 1
dan 2, kelas 3 dan 4, kelas 5 dan 6. Pelayan juga dibagi menjadi tiga
tim, yaitu Tim GBKP dan TCI, Tim GKPS serta Tim Bala Keselamatan.
Sore hari, pukul 15.00–17.00 WIB, pelayanan dilakukan dalam waktu
bersamaan namun di tempat yang berbeda, yaitu: di GKPI Hutanabolon dan
HKI Hutanabolon sebanyak 380 anak, serta SMA Negeri Tukka dengan 150
siswa. Oleh karena itu, tim pelayanan dibagi menjadi tiga, yaitu: di
GKPI Hutanolon yang dilayani oleh Tim GKPS, di HKI Hutanabolon yang
dilayani oleh Tim GBKP dan TCI serta di SMA Negeri Tukka dilayani oleh
Tim Bala Keselamatan. Pada hari ini, metode trauma healing disesuaikan
dengan usia peserta, khususnya bagi remaja, dengan penekanan pada
penguatan mental, pemulihan rasa aman, dan harapan akan masa depan.
Malam hari, pukul 19.00–21.00 WIB di GKPI Sibolga Kota dengan peserta
sebanyak 70 anak, dilayani oleh Tim GBKP, TCI dan Bala Keselamatan.
Pelayanan diawali dengan bernyanyi lagu pujian yang dipimpin oleh Pdt.
Oklin Br Tarigan dan Melda Br. Simbolon kemudian dilanjutkan dengan
permainan yang membuat anak-anak ceria. Pelayanan firman disampaikan
oleh Kapten Dian Harymukti dari Bala Keselamatan dari Matius 21:22 “Dan
apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan
menerimanya”. Kapten Dian mengawali renungan ini dengan menyampaikan
perbedaan antara lalat dan lebah. Lalat adalah hewan yang menyukai
tempat yang kotor dan dapat membawa dampak yang buruk yaitu menyebarkan
penyakit sedangkan lebah adalah hewan yang menyukai bunga, tempat-tempat
yang indah dan wangi serta membawa dampak yang baik yaitu menghasilkan
madu yang dapat berguna bagi kesehatan. Kapten Dian mengajak anak-anak
agar hidup membawa dampak yang baik bagi lingkungan sekitar dan menyukai
yang baik. Ia juga menyampaikan agar anak-anak tetap percaya dan berdoa
kepada Tuhan.
Hari Ketiga – Kamis, 29 Januari 2026
Pada hari terakhir, pelayanan trauma healing dilaksanakan di GKPI
Dolok Nauli dengan 97 anak dilayani oleh Tim GBKP dan TCI dan di HKI
Parsingkaman dengan 50 anak dilayani oleh GKPS. Meskipun merupakan hari
terakhir, antusiasme peserta tetap tinggi. Anak-anak menunjukkan respons
positif dan keterlibatan aktif selama kegiatan berlangsung. Selain itu,
rombongan tim pelayan juga membagikan goodie bag terhadap
anak-anak yang dijumpai sepanjang perjalanan pulang. Melalui pelayanan
ini, GBKP menegaskan komitmennya untuk hadir secara nyata di tengah
masyarakat, khususnya bagi anak-anak sebagai kelompok rentan pasca
bencana. Trauma healing tidak hanya menjadi sarana pemulihan psikologis,
tetapi juga bentuk pendampingan pastoral yang meneguhkan harapan dan
memulihkan semangat hidup anak-anak penyintas bencana. Hal yang
membahagiakan disampaikan oleh Pdt. Benny Kaban dalam evaluasi tim
pelayan “Reaksi anak-anak yang bahagia sambil melambaikan tangan dan
mengucapkan goodbye ketika tim meninggalkan tempat pelayanan
adalah konfirmasi bahwa pelayanan tim dapat diterima dengan baik”.
Semoga melalui pelayanan ini anak-anak di Tapanuli bangkit kembali dan
berpulih dengan lebih indah di dalam kasih Tuhan (Pdt. Bertha Wandasari
Sinukaban, M. Th).
