KAKR Moderamen GBKP

KAKR Moderamen GBKP

Ikuti Kami di Sosial Media
Tentang Unit
Sejarah
Setelah orang Karo menerima Injil di Tanah Karo (Buluh Awar), maka mulailah diadakan kebaktian setiap hari Minggu. Kehadiran anak-anak pada kebaktian dewasa dirasakan mengganggu ibadah. Karena itu, mereka dikumpulkan dan diajari bernyanyi setiap Minggu pagi sebelum kebaktian dewasa. Setelah letih bernyanyi, mereka disuruh pulang, lalu mulailah kebaktian orang dewasa. Akhirnya, perkumpulan anak-anak tersebut juga digunakan untuk memberikan pelajaran-pelajaran lain, misalnya etika, moral, ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Sehingga setiap anak yang hadir diperkumpulan semakin baik, beretika dan pintar. Karena itu, perkumpulan ini dinamai Sekolah Minggu dengan pengertian bahwa anak-anak sekolah diajari pada hari Minggu. Selanjutnya, perkumpulan ini mendapat perhatian lebih serius, tidak hanya diajari bernyanyi. Disadari bahwa anak-anak juga perlu mendengarkan firman Tuhan sebagaimana halnya orang dewasa. Demikian juga disadari bahwa penyampaian Firman Tuhan sebaiknya lebih dominan unsur kebaktiannya daripada unsur sekolahnya.

Pengorganisasian
Pada tahap awal berdirinya, sekolah minggu di setiap jemaat masih berdiri sendiri-sendiri. Hampir tidak ada hubungannya dengan Sekolah Minggu jemaat lain. Tidak ada kurikulum terprogram untuk setiap Sekolah Minggu, masing-masing membuat program dan kegiatannya sendiri-sendiri. Akibatnya, ada Sekolah Minggu yang maju dan ada juga yang tidak. Melihat kondisi ini, GBKP mengorganisasi Sekolah Minggu secara sinodal. Maka pada tahun 1968 Moderamen mengangkat Pdt. Marie Roeroe (Nr. Pdt.Musa Sinulingga) sebagai tenaga honorer untuk memperhatikan dan mengoordinir perkembangan Sekolah Minggu di seluruh Runggun dan Klasis. Maka  oleh tenaga honorer ini dibuatlah kursus-kursus kepada calon-calon guru Sekolah Minggu yang disebut kursus dasar. Calon guru Sekolah minggu ini diundang ke PPWG Zentrum untuk mengikuti kursus secara bersama-sama. Di dalam kursus ini juga dimuat materi tentang organisasi yang bertujuan untuk mensosialisasikan pentingnya organisasi di Sekolah Minggu di Klasis dan di Runggun. Maka selanjutnya di beberapa klasis terbentuklah seksi Sekolah Minggu. Melihat perkembangan Sekolah Minggu ini, maka pada tanggal 23 Maret 1983, Moderamen mengeluarkan surat himbauan kepada Klasis-klasis untuk mengangkat pengurus KAKR Klasis. Maka pada tahun yang sama ada 3 Klasis yang  telah mengangkat pengurus KAKR Klasisnya, yaitu :

  1. Klasis Medan Delitua pada tanggal 10 Juni 1983
  2. Klasis Kabanjahe pada tanggal 30 Mei 1983
  3. Klasis Medan Kampung Lalang pada tanggal 18 Mei 1983

Karena masih 3 Klasis yang membentuk pengurus KAKR Klasisnya, maka Moderamen kembali menghimbau Klasis melalui surat Moderamen tertanggal 30 Mei 1983 supaya mengangkat Pengurus KAKR Klasisnya.
Perkembangan Sekolah Minggu selanjutnya menuntut tenaga honorer untuk memilih beberapa tim kerja. Bersama tim kerja ini Pdt. Marie membuat program dan kurikulum pengajaran Sekolah Minggu. Team kerja ini antara lain :

  1. Mikael dun dari inggris, OMF
  2. Nr. Pdt. Macqueen dari Inggris, OMF
  3. Pdt. Benyamin Sitepu
  4. Pdt. Musa Sinulingga.

Melihat perkembangan selanjutnya, maka oleh Pdt. Marie diusulkan supaya Moderamen mengangkat kepengurusan Sekolah Minggu di tingkat Moderamen. Pada saat ini kepengurusan ini disebut Seksi Sekolah Minggu. Akhirnya, Sekolah Minggu menjadi satu lembaga (Sekarang disebut Persekutuan Kategorial) di GBKP. Pengorganisasian secara sinodal ini diputuskan pada BP Sinode GBKP periode 1979-1984.

Peralihan Nama
Sepertinya nama Sekolah Minggu dirasakan terlalu sekuler, maka nama Sekolah Minggu dialihkan menjadi Kebaktian Anak dan Kebaktian Remaja. Nama ini  diputuskan oleh BP Synode GBKP periode 1974-1984 dengan alasan :

  1. Dalam wilayah pelayanan GBKP, masih banyak Sekolah Minggu terbengkalai karena Runggun kurang memperhatikan mereka.
  2. Sekolah Minggu dipandang sebagai tambahan pelayanan.
  3. Yang bertanggung jawab terhadap pelayanan Sekolah Minggu adalah Guru Sekolah Minggu, bukan Runggun.

Atas dasar tersebut, Sekolah Minggu dijadikan kebaktian bagi anak dan remaja. Peralihan nama ini tidak dimaksudkan untuk mengambil alih peranan Runggun bagi pelayanan kepada anak dan remaja. Memang pengorganisasian dilakukan oleh KAKR Moderamen, tetapi perjalanan program dan pelayanan terhadap anak merupakan tanggung jawab jemaat  (Runggun Gereja).

Perkembangan Selanjutnya
Pada mulanya pelayanan terhadap anak dan remaja disatukan dalam satu tempat ibadah. Tapi pada tahap perkembangan selanjutnya, hal ini dianggap tidak lagi maksimal. Karena secara psikologis anak dan remaja berbeda dalam menerima firman Tuhan. Umumnya, gaya bercerita pasti berbeda bagi setiap umur anak. Karena itu pada MUPEL 2000 (Pedoman 2001) anak dan remaja dibagi menjadi 4 kelas :

  1. Balita
  2. Anak kecil
  3. Anak Tanggung
  4. Remaja

Pembagian kelas ini kemudian dikembangkan dibeberapa Runggun menjadi 6 kelas (sesuai kebutuhannya) yakni :

  1. Batita
  2. Balita
  3. Anak Kecil
  4. Anak Tanggung
  5. Pra Remaja
  6. Remaja