Komisi Penanggulangan Bencana (KPB) GBKP

Komisi Penanggulangan Bencana (KPB) GBKP

Ikuti Kami di Sosial Media
Tentang Unit

Latar Belakang
Komisi Penanggulangan Bencana (KPB) Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) merupakan wadah pelayanan di bidang kemanusiaan yang bertugas merespons berbagai situasi bencana secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan. Pelayanan ini merupakan bagian dari panggilan gereja dalam mewujudkan kasih Kristus melalui tindakan nyata bagi jemaat dan masyarakat luas.

KPB GBKP hadir untuk memastikan bahwa gereja tidak hanya bersifat reaktif terhadap bencana, tetapi juga proaktif dalam upaya mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, serta pemulihan pascabencana.

Visi
Terwujudnya pelayanan gereja yang tangguh, responsif, dan berdaya dalam menghadapi serta menanggulangi bencana demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama.

Misi
1Mengembangkan sistem pelayanan penanggulangan bencana yang profesional, transparan, dan akuntabel.
2Meningkatkan kapasitas jemaat dalam mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
3Menggerakkan solidaritas gereja dalam pelayanan tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.
4Membangun kerja sama strategis dengan pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan mitra oikumenis.
5Mengelola sumber daya manusia, logistik, dan keuangan secara efektif.
6Mengupayakan pelestarian lingkungan hidup sebagai bagian dari pencegahan bencana jangka panjang.

Logo

Berikut adalah arti dan makna logo Komisi Penanggulangan Bencana GBKP (Disaster Emergency Response) berdasarkan elemen visual yang tampak:
1. Lingkaran Utama (Bingkai Logo)
Bentuk lingkaran melambangkan:
oKesatuan, keutuhan, dan kebersamaan dalam pelayanan.
oKomitmen yang tidak terputus dalam tugas kemanusiaan.
Warna kuning emas:
oHarapan, kemuliaan, dan nilai pelayanan yang luhur.
Tulisan “Komisi Penanggulangan Bencana” dan “Disaster Emergency Response”:
oMenegaskan identitas lembaga sebagai unit resmi gereja yang bergerak dalam respon darurat bencana, baik lokal maupun global.
2. Salib di Tengah
Simbol utama iman Kristen.
Makna:
oKristus sebagai pusat pelayanan.
oPelayanan kemanusiaan didasarkan pada kasih dan pengorbanan.
oMenggambarkan bahwa setiap respon bencana adalah bagian dari panggilan iman (diakonia).
3. Bangunan Gereja (Rumah Adat GBKP)
Representasi gereja GBKP (dengan arsitektur khas Karo).
Makna:
oGereja sebagai tempat perlindungan dan pengharapan.
oGereja hadir di tengah masyarakat, bukan terpisah dari penderitaan umat.
oIdentitas kontekstual (budaya Karo dan pelayanan gereja lokal).
4. Tangan Berdoa
Simbol spiritualitas.
Makna:
oKetergantungan kepada Tuhan dalam setiap situasi bencana.
oDoa sebagai kekuatan utama sebelum, saat, dan setelah respon bencana.
oSikap rendah hati dan pengharapan.
5. Gelombang Tsunami
Melambangkan bencana air (tsunami, banjir).
Makna:
oKesadaran akan ancaman bencana alam besar.
oKesiapsiagaan terhadap risiko wilayah Indonesia yang rawan.
6. Gunung Meletus
Simbol bencana geologi.
Makna:
oRealitas ancaman letusan gunung berapi.
oPentingnya mitigasi dan edukasi masyarakat.
7. Api (Kebakaran)
Melambangkan bencana kebakaran.
Makna:
oRespon terhadap bencana yang disebabkan alam maupun manusia.
oKesiapan dalam menghadapi berbagai jenis krisis.
8. Tanah Retak (Kekeringan / Gempa)
Makna:
oKekeringan, krisis air, dan juga gempa bumi.
oMenggambarkan penderitaan ekologis dan dampaknya bagi manusia.
9. Pelampung dan Salib Merah
Pelampung (lifebuoy):
oSimbol pertolongan, keselamatan, dan evakuasi.
Salib merah:
oPelayanan medis dan kemanusiaan.
Makna gabungan:
oTindakan nyata dalam menyelamatkan korban.
oPelayanan tanggap darurat yang profesional dan cepat.
10. Ornamen Motif Karo
Terlihat pada bagian samping logo.
Makna:
oIdentitas budaya lokal.
oPelayanan yang kontekstual dan berakar pada budaya.

Makna Keseluruhan Logo
Logo ini menggambarkan bahwa:
Komisi Penanggulangan Bencana GBKP adalah pelayanan gereja yang berlandaskan iman kepada Kristus, hadir secara nyata dalam berbagai situasi bencana (alam maupun non-alam), dengan semangat kasih, kesiapsiagaan, dan tindakan kemanusiaan yang holistik—menggabungkan doa, pertolongan, dan solidaritas.

Motto
Motto "Tanggap Melayani, Tangguh Berbagi" (Ready to Serve, Resilient to Give)
Latar belakang motto Komisi Penanggulanan Bencana GBKP adalah:
1. Tanggap Melayani (Responsiveness in Service)
Bagian ini berfokus pada Gerakan Allah yang Cepat dalam merespons penderitaan manusia (Kerygma dan Diakonia).
Imitatio Christi (Meneladani Kristus): Yesus selalu "tergerak hati-Nya oleh belas kasihan" ketika melihat orang yang menderita (Matius 9:36). "Tanggap" berarti gereja tidak boleh menunda bantuan ketika bencana terjadi, karena Kristus pun segera bertindak.
Mandat Penatalayanan: Dalam tradisi teologi Reformed, manusia dipanggil untuk menjaga ciptaan. Menjadi tanggap berarti menjalankan peran sebagai penatalayan yang waspada terhadap kerusakan alam dan penderitaan sesama.
Kehadiran Allah yang Nyata: KPB GBKP memandang bahwa melalui pelayanan yang cepat, kehadiran Allah yang menghibur menjadi nyata di tengah reruntuhan bencana.
2. Tangguh Berbagi (Resilience in Sharing)
Bagian ini menekankan pada Kekuatan Iman dan Keadilan Sosial.
Resiliensi Teologis (Ketangguhan): Alkitab mengajarkan bahwa umat Tuhan tidak akan hancur oleh kesesakan (2 Korintus 4:8-9). Tangguh berarti memiliki daya tahan yang bersumber dari iman kepada Tuhan, bukan sekadar kekuatan fisik atau materi.
Teologi Persekutuan (Koinonia): Berbagi dalam konteks GBKP sering dikaitkan dengan konsep Aron (gotong royong). Secara alkitabiah, ini adalah praktik jemaat mula-mula yang berbagi harta benda agar tidak ada yang berkekurangan (Kisah Para Rasul 2:44-45).
Berbagi dari Kekurangan: Ketangguhan diuji saat gereja atau individu tetap mampu berbagi meskipun mereka sendiri terdampak. Ini mencerminkan teladan jemaat Makedonia yang memberi dalam kemiskinan mereka (2 Korintus 8:2).

Secara teologis, motto ini merupakan perwujudan dari tugas Diakonia Karitatif (bantuan cepat/tanggap) yang diintegrasikan dengan Diakonia Transformatif (membangun ketangguhan komunitas). KPB GBKP memposisikan dirinya sebagai perpanjangan tangan Tuhan melalui MODERAMEN GBKP yang memulihkan martabat manusia yang terluka akibat bencana.

Tujuan Pelayanan
1.Meningkatkan kesiapsiagaan jemaat.
2.Mengurangi dampak risiko bencana.
3.Memberikan respon cepat dan tepat saat bencana.
4.Memulihkan kondisi pascabencana.
5.Membangun sistem koordinasi efektif.
6.Mengoptimalkan peran gereja sebagai agen kemanusiaan.

Struktur Pengurus KPB GBKP 2025 - 2030
Ketua           : Pdt. Benny A. Kaban, S.Th, MA, MMB
Sekretaris    : Wahyudi Mangara Tarigan
Bendahara   : Dk. Heppy Riana Br. Surbakti
Biro Pengurangan Resiko Bencana :
1. Pdt. Edward B. Sembiring, S.Th., MM
2. Pdt. Bayakta Purba, S.Th.
3. Pdt. Maria Veronika Br. Perangin-angin, S.Si (Teol)
Biro Sumber Daya Manusia :
1.dr. Eni Suriati br Ginting, M.Kes
2.Gayus Ginting
Biro Logistik & Shelter :
1. Amda Rose Tarigan
2. Sagi Ginting


Struktur Pengurus KPB GBKP 2025 - 2030
Jl. Meriam Ginting No. 5 Kabanjahe (Komplek Posko Diakonia GBKP)

Penutup
Komisi Penanggulangan Bencana GBKP merupakan wujud nyata pelayanan gereja yang holistik—menyentuh aspek spiritual, sosial, dan kemanusiaan. Diharapkan menjadi garda terdepan dalam menghadirkan gereja yang tangguh terhadap bencana.