Motivasi & Inspirasi

SIAPKAH PEMUDA JADI PELOPOR ? – Sintuwu Maroso, Oleh: FHILLIO AGIKA GINTING, S.AGR – BPP PERMATA GBKP

Tanggal : Kamis, 20 Agustus 2026 , 40


Pelopor Sintuwu Maroso dalam Merawat Keberagaman

Live-in Interfaith mempertemukan pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang suku, budaya, agama, dan lintas iman dalam satu tanah air yang Bhinneka. Perjumpaan tersebut menjadi ruang belajar bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpisah, melainkan kekuatan untuk membangun persaudaraan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemuda Indonesia mencapai sekitar 64,22 juta jiwa. Pemuda bukan hanya kelompok usia produktif, tetapi juga merupakan kekuatan sosial yang memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor keberagaman. Pemuda dapat mengambil peran melalui organisasi, kegiatan sosial, pelayanan, pendidikan, pemanfaatan media digital, serta berbagai gerakan yang mempertemukan masyarakat dari latar belakang yang berbeda. 

“Kita adalah pemuda” berarti kita adalah penerus. Kita menerima nilai-nilai baik dari generasi sebelumnya dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Kita adalah jembatan, yang mempertemukan perbedaan dan membangun ruang dialog antarsuku, antaragama, dan antarkelompok.
Kita adalah penjaga perdamaian, yang menolak kebencian dan kekerasan serta memilih persaudaraan dan dialog.
Kita adalah penggerak masyarakat, yang hadir melalui kegiatan sosial, pendidikan, budaya, lingkungan, dan pelayanan kepada masyarakat.

Pemuda harus mampu menjadi inisiator, bukan sekadar pengikut arus. Pemuda adalah pembuka jalan bagi sesuatu yang belum pernah dilakukan. Kepeloporan membutuhkan konsistensi dan kemampuan untuk mentransformasikan kegelisahan menjadi tindakan nyata yang bermakna.

PELOPOR PEMUDA ; Sintuwu Maroso
Sintuwu Maroso merupakan nilai kehidupan yang menekankan semangat persatuan, kebersamaan, saling menghargai, dan kekuatan untuk bersatu. Nilai adat ini terus dihidupkan dan diwariskan kembali oleh generasi muda Poso dalam kehidupan masyarakat.

Poso merupakan salah satu gambaran nyata keberagaman Indonesia. Masyarakatnya hidup dalam keberagaman budaya, suku, dan agama. Namun, perjalanan kehidupan masyarakat Poso juga pernah mengalami masa kelam akibat konflik sosial yang berlangsung sejak 1998. Perbedaan identitas, khususnya agama, kemudian menjadi salah satu aspek yang memperuncing konflik dan dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan. Berbagai upaya dilakukan oleh masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat untuk menghentikan konflik dan membangun kembali kehidupan bersama. Salah satu tonggak penting dalam proses tersebut adalah Deklarasi Malino pada tahun 2001, yang menjadi bagian penting dari upaya perdamaian dan rekonsiliasi antara pihak-pihak yang bertikai. Dalam proses pemulihan tersebut, pemuda memiliki peran yang sangat penting. Pemuda tidak hanya menjadi generasi yang mewarisi ingatan tentang konflik, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengubah ingatan tersebut menjadi energi bagi perdamaian.

Pemuda Poso mengambil bagian dalam berbagai upaya merajut perdamaian dan menjaga kehidupan bersama. Perdamaian dimulai dari dalam diri dengan menghidupkan nilai Sintuwu Maroso. Dalam konteks pemuda Poso, Sintuwu Maroso dapat dimaknai sebagai panggilan bagi generasi muda untuk menjadi pelopor perdamaian, persaudaraan, dan keberagaman.

Pemuda tidak hanya menjadi penerima warisan budaya, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk nyata dari upaya tersebut adalah kegiatan Kemah Kampung Damai, yang mempertemukan pelajar SMA dan mahasiswa lintas iman untuk tinggal bersama dalam satu ruang perjumpaan. Melalui pengalaman hidup bersama, prasangka yang telah terbentuk selama bertahun-tahun perlahan dapat runtuh. Perjumpaan menjadi ruang untuk mengenal, mendengar, memahami, dan menghargai satu sama lain.

Di dalam kegiatan seperti inilah upaya membangun Indonesia yang bersatu diwujudkan. Keanekaragaman, kebinekaan, dan pluralitas tidak lagi dipandang sebagai alat pemecah belah, tetapi dijahit bersama menjadi kekuatan bangsa. Menjadi pelopor Sintuwu Maroso berarti berani mengambil peran untuk membangun persaudaraan di tengah keberagaman. Pemuda dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok, generasi, dan latar belakang. Di tengah munculnya individualisme, persaingan, serta berbagai perbedaan dalam masyarakat, pemuda dipanggil untuk menghadirkan sikap saling menghormati, kepedulian, dan solidaritas. Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana. Pemuda dapat menginisiasi kegiatan sosial, membantu masyarakat yang membutuhkan, menjaga lingkungan, mengembangkan kegiatan kreatif, serta membangun ruang dialog yang sehat.

Dalam kehidupan bergereja, pemuda juga dapat menjadi penggerak pelayanan yang melibatkan berbagai pihak dan menjadikan gereja sebagai ruang yang terbuka, ramah, dan mampu membangun relasi dengan masyarakat yang beragam. Pemuda sebagai pelopor juga harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara positif. Media sosial tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menyebarkan pesan persatuan, memperkenalkan kegiatan positif, mengedukasi masyarakat, dan menggerakkan orang lain untuk melakukan kebaikan.

Dengan kreativitas dan teknologi, nilai Sintuwu Maroso dapat diperkenalkan kepada generasi muda melalui cara-cara yang relevan dengan kehidupan mereka. Namun, menjadi pelopor bukan berarti harus selalu melakukan sesuatu yang besar. Kepeloporan dapat dimulai dari diri sendiri: berani menyapa, mau mendengarkan, menghargai perbedaan, membantu sesama, menjaga kepercayaan, dan hadir ketika orang lain membutuhkan. Keteladanan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan pengaruh besar bagi lingkungan. Pemuda juga perlu menyadari bahwa persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan. Justru dalam keberagaman, semangat Sintuwu Maroso menemukan maknanya. Perbedaan suku, budaya, karakter, kemampuan, dan pandangan dapat menjadi kekuatan apabila disatukan oleh semangat persaudaraan dan tujuan bersama.

Oleh karena itu, pemuda perlu mengambil posisi sebagai pelopor, bukan penonton; penggerak, bukan sekadar pengikut; dan pembangun, bukan hanya pengkritik. Pemuda yang memiliki semangat Sintuwu Maroso adalah pemuda yang mampu melihat kebutuhan di sekitarnya dan berani mengambil langkah nyata untuk menghadirkan perubahan. Pada akhirnya, Sintuwu Maroso bukan hanya sebuah semboyan, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pemuda mau bersatu, saling menopang, dan bekerja bersama, mereka dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun gereja, masyarakat, dan bangsa. Pemuda hari ini adalah pelopor masa depan.

Dengan semangat Sintuwu Maroso, mari berjalan bersama, bekerja bersama, dan membangun bersama demi terciptanya kehidupan yang penuh persaudaraan, kepedulian, dan harapan.

Tercipta…
Lima hari mengikuti kegiatan Tanah Air Itu Bhinneka (TAB) Angkatan VII – Goes to Poso menjadi pengalaman yang tidak mudah saya lupakan. Saya mendapat kesempatan untuk hidup bersama dalam keberagaman lintas iman di Lambomawo, Poso. Indah, hangat, dan penuh keramahan. Itulah suasana yang saya rasakan dan rindukan dari pengalaman tersebut.

Pada awalnya, saya merasa gelisah. Daerah yang saya tuju merupakan daerah yang dalam ingatan dan berbagai informasi yang saya temukan identik dengan sejarah konflik. Namun, di sisi lain, kegelisahan tersebut justru menjadi tantangan bagi saya untuk melihat secara langsung bagaimana kondisi Poso hari ini. Saya kemudian memilih untuk menjawab panggilan tersebut dan berani mengikutinya.

Pengalaman bersama 50 pemuda luar biasa dari berbagai latar belakang dan lintas iman memperlihatkan kepada saya bahwa pemuda memiliki kemampuan untuk menjadi pelopor dalam merajut perdamaian di tengah perbedaan. Melalui perjumpaan di Lambomawo, kami diajak menyaksikan secara langsung bagaimana kedamaian sejati dirawat secara konsisten oleh masyarakat. Kami belajar bahwa pemuda mampu mengubah kegelisahan menjadi tindakan nyata yang bermakna. Poso tidak lagi sekadar menjadi panggung konflik masa lalu. Poso telah menjelma menjadi ruang pembelajaran tentang rekonsiliasi, perdamaian, dan keberagaman bagi masyarakat Indonesia.

Kepeloporan bukanlah peristiwa yang hanya terjadi sekali dalam hidup, melainkan gaya hidup yang diwujudkan setiap hari. Pengalaman mengikuti Tanah Air Itu Bhinneka (TAB) tidak hanya menambah dan memperkaya pengetahuan saya tentang teori kebinekaan, tetapi juga memperkuat tekad dan komitmen untuk menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebagai pemuda Indonesia, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat keberagaman, menciptakan lingkungan yang inklusif, serta berkontribusi bagi perdamaian dan keharmonisan dalam masyarakat yang multikultural.

Dari pengalaman ini, semakin jelas bagi saya bahwa pemuda dapat menjadi pelopor untuk bersatu dalam kepelbagaian. Terima kasih kepada Sinode GBKP yang telah membuka peluang bagi saya PERMATA GBKP untuk memahami bahwa perbedaan tidak selalu menjadi alasan untuk berpisah, tetapi dapat menjadi jalan untuk menemukan persatuan.

Melalui perjumpaan di Poso, saya diperhadapkan secara langsung pada bagaimana kedamaian sejati dirawat secara konsisten oleh masyarakat yang berbeda iman, bahkan dalam kehidupan sehari-hari yang paling mendasar. Poso menjadi bukti nyata bahwa sebuah daerah yang pernah mengalami konflik dapat bangkit dan menjelma menjadi simbol serta ruang pembelajaran rekonsiliasi bagi masyarakat Indonesia.

Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan menyelenggarakan kegiatan ini, khususnya Mission 21, Kemitraan Emansipatoris PGI–PKN, GKST, serta teman-teman terkasih peserta Live-in Interfaith. Perjumpaan ini mengajarkan saya bahwa perdamaian tidak cukup hanya dibicarakan. Perdamaian harus dialami, dirawat, dan diwujudkan bersama.

Pemuda siap menjadi pelopor persatuan. Pemuda itu kita. 
Sintuwu Maroso—bersatu dalam kepelbagaian.
Salam Mejuah-juah.

Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Pemuda Indonesia 2024. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
UU No. 40/2009 tentang Kepemudaan: Pemuda adalah kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan.

Dokumentasi:



Bagikan :