Masih terekam jelas dalam ingatan bagaimana awan hitam dan curah hujan ekstrem
memicu bencana hidrometeorologi pada 25 November 2025 yang lalu di wilayah Klasis Binjai –
Langkat. Aliran air yang tak terkendali tidak hanya merusak infrastruktur dan lahan pertanian, tetapi
juga meninggalkan luka batin yang mendalam bagi warga jemaat. Menyadari bahwa pemulihan fisik
harus berjalan beriringan dengan pemulihan jiwa, Moderamen GBKP melalui Komisi Penanggulangan
Bencana (KPB) dan Biro Pastoral GBKP beserta Yayasan Kesehatan GBKP melaksanakan pelayanan
terpadu pada Minggu, 11 Januari 2026.
Bertempat di GBKP Runggun Securai, suasana haru sekaligus penuh syukur mewarnai kehadiran 120
orang warga jemaat. Mereka datang dari berbagai titik pelayanan yang terdampak cukup parah,
antara lain Runggun Pangkalan Susu – Besitang, Securai, Damar Seratus, Sawit Seberang, hingga
Tanjung Pura – Gebang. Kehadiran 120 warga jemaat ini menjadi simbol beban yang dihadapi jemaat
dalam menghadapi cobaan alam.
Transformasi Paradigma Melalui Firman
Agenda pelayanan diawali dengan ibadah penguatan yang dipimpin oleh Ketua Biro Pastoral GBKP,
Pdt. Marta Jadiate Br. Ginting, M.Psi. Menggunakan pendekatan teologis yang berpadu dengan
disiplin ilmu psikologi, Pdt. Marta menyampaikan khotbah yang menyentuh akar ketakutan jemaat.
Dia menekankan pentingnya bagi warga jemaat yang mengalami trauma untuk secara perlahan
dan bertahap mengubah paradigma mereka terhadap situasi alam.
"Trauma seringkali menjadi belenggu yang mengikat perasaan kita pada ketakutan yang stagnan.
Setiap kali mendung datang, rasa cemas itu muncul kembali. Namun, firman Tuhan mengajarkan kita
untuk tidak dikuasai oleh ketakutan tersebut. Kita perlu mengubah cara pandang kita, melihat alam
bukan sebagai musuh, tetapi sebagai bagian dari ciptaan yang dinamis, sembari tetap bersandar
pada perlindungan Tuhan," tegas Pdt. Marta dalam pesan pastoralnya.
Gereja Hadir: Dukungan Moderamen dan Klasis
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh seluruh jajaran BP Majelis Klasis Binjai Langkat. Ketua Klasis Binjai
Langkat, Pdt. Rena Tetty Br. Ginting, M. Th. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa
terima kasih yang mendalam kepada Moderamen GBKP. Menurutnya, dukungan berkelanjutan dari
pusat sangat krusial dalam memastikan masa pemulihan di wilayah Binjai Langkat berjalan efektif.
Hadir pula memberikan penguatan, Ketua Bidang Diakonia Moderamen GBKP,
Pdt. Seth Peranginangin, M.Th. Dengan nada yang penuh semangat, dia
membakar motivasi jemaat agar tidak
terlarut dalam kesedihan pasca bencana. "Gereja dan jemaat harus tetap tangguh. Badai yang telah
berlalu jangan sampai menjadi ‘penjara’ yang menghalangi kita untuk bangkit kembali membangun
masa depan. Hidup berpengharapan kepada Tuhan adalah kunci agar kita dikuatkan sekaligus tetap
waspada," ujar Pdt. Seth.
Pelayanan Medis dan Konseling Intensif
Salah satu pilar penting dalam kunjungan ini adalah kehadiran Yayasan Kesehatan (YaKes) GBKP.
Dipimpin oleh Pdt. Marheni Br. Sinuraya dan drg. Ita Br. Bangun bersama tim medis yang terdiri dari
14 dokter, YaKes GBKP melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan pengobatan bagi 100
warga jemaat. Pelayanan medis ini sangat dirasakan manfaatnya mengingat pascabencana
hidrometeorologi, jemaat rentan terhadap berbagai penyakit lingkungan.
Sementara itu, di ruang lain yang telah disiapkan secara khusus oleh Sekretaris Klasis Binjai Langkat,
Pdt. Demar Ginting, S.Th., pelayanan trauma healing dan konseling berlangsung lebih personal. Pdt.
Marta Jadiate Br. Ginting, M.Psi., didampingi oleh Pdt. Elly Enjelita Br. Ketaren, S.Th., dan Pdt. Anwar
Tarigan, S.Th., memberikan ruang bagi warga untuk mencurahkan isi hati dan ketakutan mereka.
Proses ini turut didukung oleh Pdt. Surya Surbakti, S.Th. (Ketua DiaKaRo GBKP), Kabid Diakonia, dan
Ketua Klasis Binjai Langkat. Melalui metode konseling yang terukur, diharapkan beban psikis jemaat
dapat terurai sedikit demi sedikit.
Langkah Preventif: Strategi Mitigasi Masa Depan
Sambil pelayanan pemulihan berjalan, Ketua KPB GBKP, Pdt. Benny A. Kaban, S.Th., MA, MMB.,
melakukan diskusi strategis bersama Tim Mitigasi Bencana Klasis Binjai Langkat. Didampingi Wakil
Ketua BP Majelis Klasis, Pt. Krista Ginting, diskusi ini membahas langkah-langkah konkret agar
bencana serupa di masa depan tidak menimbulkan dampak yang lebih besar.
Pdt. Benny menekankan pentingnya percepatan pemetaan risiko bencana di seluruh wilayah Klasis
Binjai Langkat. Dia juga mendorong pengadaan "Dana Tanggul Bencana Klasis" sebagai sumber
pendanaan mandiri yang siap digunakan untuk melengkapi alat-alat mitigasi dan penanganan
darurat.
Merespons arahan tersebut, Pt. Krista Ginting bersama Tim Mitigasi Klasis memberikan komitmen
yang kuat. Mereka berjanji akan segera menginisiasi pembentukan Tim Mitigasi Bencana di tingkat
Runggun di seluruh Klasis Binjai Langkat sebagai langkah pertahanan terdepan dalam pelayanan
GBKP yang bersifat preventif dan berkelanjutan.
Perhatian Khusus Bagi Generasi Penerus
Dalam kunjungan pelayanan kali ini, KPB GBKP juga menunjukkan perhatian khusus bagi anak-anak
KAKR (Sekolah Minggu). Pdt. Seth Perangin-angin, dr. Eni Suriati Br. Ginting (Kepala Biro SDM KPB
GBKP), dan Nora KaBid Diakonia GBKP, Nr. Pdt. Seth Br. Sinulingga, secara simbolis menyerahkan
makanan ringan kepada anak-anak dan Guru KAKR yang hadir. Bantuan ini, meski sederhana,
membawa pesan bahwa gereja tidak melupakan kebutuhan psikologis dan nutrisi bagi generasi
penerus di masa pemulihan ini.
Kesaksian dan Harapan Jemaat
Masih terekam jelas dalam ingatan bagaimana awan hitam dan curah hujan ekstrem
memicu bencana hidrometeorologi pada 25 November 2025 yang lalu di wilayah Klasis Binjai –
Langkat. Aliran air yang tak terkendali tidak hanya merusak infrastruktur dan lahan pertanian, tetapi
juga meninggalkan luka batin yang mendalam bagi warga jemaat. Menyadari bahwa pemulihan fisik
harus berjalan beriringan dengan pemulihan jiwa, Moderamen GBKP melalui Komisi Penanggulangan
Bencana (KPB) dan Biro Pastoral GBKP beserta Yayasan Kesehatan GBKP melaksanakan pelayanan
terpadu pada Minggu, 11 Januari 2026.
Bertempat di GBKP Runggun Securai, suasana haru sekaligus penuh syukur mewarnai kehadiran 120
orang warga jemaat. Mereka datang dari berbagai titik pelayanan yang terdampak cukup parah,
antara lain Runggun Pangkalan Susu – Besitang, Securai, Damar Seratus, Sawit Seberang, hingga
Tanjung Pura – Gebang. Kehadiran 120 warga jemaat ini menjadi simbol beban yang dihadapi jemaat
dalam menghadapi cobaan alam.
Acara ditutup dengan penyampaian kesaksian dari perwakilan warga jemaat. Dengan suara bergetar,
mereka menceritakan perjuangan saat air mulai merendam permukiman pada November lalu.
Namun, di balik trauma itu, tersirat harapan besar kepada institusi gereja. Mereka sangat berharap
agar Klasis dan Moderamen GBKP tidak berhenti pada pelayanan satu hari ini saja, melainkan tetap
melakukan pendampingan selama masa pemulihan berlangsung.
Melalui pelayanan terpadu ini, GBKP menegaskan komitmennya untuk tidak hanya membangun
iman, tetapi juga menjaga keselamatan dan kesehatan jemaat sebagai satu tubuh Kristus yang
tangguh bencana (Pdt. Benny Antony Kaban, S.Th, MA, MMB - Ketua KPB GBKP).