Moderamen Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) bersama unit-unit
pelayanan dan Pendeta Tugas Khusus menerima kunjungan dari Gereja Schuetorf dan
Nordhorn, Klasis Graftshaft Bentheim, Jerman, dalam sebuah pertemuan
persaudaraan yang berlangsung di Kantor Moderamen GBKP, Kabanjahe, Jumat,
24/4/2026, dimulai pukul 10.00 WIB. Pertemuan diawali dengan doa pembuka yang
dipimpin oleh Pdt. Yunus Bangun, M.Th. Dalam kesempatan tersebut Moderamen GBKP
yang hadir Pdt. Krismas Imanta Barus, M.
Th, LM (Ketua Umum), Pdt. Set Perangin-angin, M. Th (Ketua Bidang Diakonia),
Pdt. DR. Kalvinsius Jawak, M. Si (Ketua Bidang Marturia), Pdt. Yunus Bangun, M.
Th (Sekretaris Umum), Pt. Enriko Fenry Tarigan, S.Si.,MM (Wakil Sekretaris
Umum).
Dalam sambutannya, Pdt. Krismas Imanta Barus memperkenalkan
unit-unit pelayanan serta Pendeta Tugas Khusus yang hadir. Selanjutnya, delegasi
dari Jerman memperkenalkan diri yakni Pdt. Johannes De Vries, Pdt. Joerg
Dueselder, Pdt. Bodo, Tanja Remberg, dan Amelie Wensing. Mengawali
perkenalannya, Pdt. Johannes de Vries mengungkapkan rasa syukurnya atas
sambutan hangat GBKP dan kerjasama yang sudah terjalin sejak tahun 1998,
khususnya dengan GBKP Klasis Dairi.
Setelah saling memperkenalkan diri, Pdt. Krismas Imanta
Barus memaparkan tentang kondisi statistik GBKP, pertumbuhan jemaat, tantangan
yang dihadapi GBKP dalam pelayanannya, empat pilar pelayanan GBKP, potensi,
visi, misi, strategi, inovasi, kehidupan spiritual GBKP dan pelayanan yang
dilakukan GBKP dalam masyarakat.
Mewakili gereja Jerman, Pdt. Johannes de Vries menyampaikan
bahwa gereja di Jerman saat ini menghadapi berbagai tantangan, di antaranya
dominasi jemaat usia lanjut serta semakin sedikitnya jumlah anak-anak. Ia
menyebutkan bahwa pelayanan gereja kini lebih sering berkaitan dengan ibadah
penguburan dibandingkan pelayanan atas kelahiran. Selain itu, ia menyoroti
meningkatnya sekularisme dan individualisme dalam masyarakat Jerman yang
berdampak pada menurunnya keterlibatan jemaat dalam persekutuan gereja. Menurutnya,
kondisi tersebut mendorong gereja-gereja di Jerman untuk belajar dari konteks GBKP,
dalam mempertahankan kehidupan persekutuan di tengah situasi minoritas. “Itulah
salah satu tujuan kami datang ke sini untuk belajar dari GBKP, bagaimana
membangun dan memelihara kebersamaan dalam persekutuan di tengah tantangan
sebagai minoritas. Gereja Jerman ini belajar untuk menjawab tantangan khususnya
di tengah masyarakat yang semakin menjauh dari kehidupan spiritual,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa di tengah tantangan tersebut, gereja tetap memiliki
panggilan untuk menghadirkan kasih Kristus, terutama dalam menghadapi maraknya
ujaran kebencian.
Dalam kesempatan itu, Pdt. Johannes de Vries membacakan
surat dari rekan-rekan gereja di Jerman yang menyampaikan rasa syukur atas
sambutan hangat dari GBKP. Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa persekutuan
orang percaya terwujud dalam kebersamaan, baik melalui pertemuan maupun doa. Rombongan
dari Jerman juga menyampaikan apresiasi atas kehidupan persekutuan di GBKP yang
dinilai kuat dan menjadi inspirasi bagi gereja-gereja di Jerman. Surat tersebut
kemudian diserahkan secara langsung kepada Pdt. Krismas Imanta Barus.
Sebagai wujud persaudaraan, GBKP menyerahkan cenderamata
kepada rombongan tamu berupa beka buluh dan uis nipes yang dijadikan sebagai
syal. Sebaliknya, rombongan dari Jerman turut memberikan cenderamata berupa
pena dan pensil kepada seluruh peserta yang hadir. Pertemuan ditutup dengan doa
dan dilanjutkan dengan makan siang bersama dalam suasana keakraban dan
kebersamaan lintas gereja dan budaya (Pdt. Bertha Wandasari Sinukaban, M. Th –
Unit Humas IT & WGM).