Perayaan HUT ke-136 GBKP, (136 tahun sehna berita simeriah man kalak
Karo), Sabtu (18/4/2026) ditandai dengan ziarah ke makam penginjil di
Taman Marturia GBKP dan kebaktian bertempat di GBKP Runggun Sibolangit.
Sebelum ziarah, dibagikan air nira untuk diminum bersama dengan harapan,
kedepan semuanya semakin baik seperti rasa nira yang manis. Acara
ziarah yang dipandu Pdt Desen Surbakti, ditandai dengan peletakan bunga
oleh keluarga penginjil diikuti oleh pengurus Moderamen, Badan Pekerja
Majelis Klasis, unit pelayanan, kategorial dan hadirin lainnya. Makam
yang ada di Taman Marturia tersebut antara lain : Penginjil JH Neumann,
JC Wijngarden, Dr CJ Scholten, dua orang pendeta pertama orang Karo Pdt
Thomas Sibero dan Pdt Palem Sitepu, Tapin Br Tarigan ( Nora Pdt P
Sitepu), GMH Br Barus ( Nora Pdt Th Sibero), Pdt Dr Anggapen Ginting
Suka, J Kornelis, Karl However (Tongat) dan Prederich. Sebelumnya
bernyanyi bersama dengan lagu "Ulih Latih Simerdang" yang menceritakan
tentang perjuangan dan tantangan yang dihadapi para penginjil dahulu.
Tantangan alam yang begitu berat dan penolakan warga tidak menyurutkan
semangat para penginjil untuk menyampaikan berita keselamatan.
Usai ziarah dilanjutkan kebaktian di GBKP Runggun Sibolangit. Kabid
Marturia Moderamen GBKP Pdt Kalvinsius Jawak yang menyampaikan firman
Tuhan, dalam khotbahnya yang diambil dari Yosua 24:14-18, mengajak umat
untuk memahami sejarah karya keselamatan Allah sekaligus meneguhkan
komitmen iman untuk tetap mengabarkan Injil di tengah berbagai tantangan
kehidupan. Dalam kotbahnya dijelaskan bahwa sejak awal, Tuhan
memperkenalkan diri-Nya dengan memilih dan menguduskan satu bangsa,
dimulai dari Abraham, Ishak, dan Yakub, yang kemudian menjadi bangsa
Israel. Proses pembentukan iman bangsa ini tidak instan, melainkan
melalui perjalanan panjang, termasuk masa 40 tahun di padang gurun
sebagai proses pendidikan rohani untuk mengenal Allah. Tokoh Musa
menjadi salah satu contoh nyata pemeliharaan Tuhan. Sejak bayi, Musa
diselamatkan melalui cara yang tidak terduga, yakni diletakkan dalam
keranjang dari papirus. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah
kehabisan cara untuk menyelamatkan dan memelihara umat-Nya dalam
berbagai situasi. Lebih lanjut, ditegaskan bahwa bangsa Israel
dipersiapkan sebagai bangsa yang menyembah Allah Yang Esa di tengah
bangsa-bangsa lain yang menganut politeisme. Dalam konteks ini, umat
diingatkan bahwa kecenderungan manusia adalah mudah beralih kepada
pilihan lain yang dianggap lebih menguntungkan atau lebih unggul secara
kasat mata. Refleksi tersebut juga menyinggung dinamika budaya dan iman,
termasuk catatan misionaris seperti H. C. Kruyt yang pernah
berinteraksi dengan budaya lokal, termasuk budaya Karo. Pergulatan
antara adat dan iman menjadi bagian dari perjalanan umat dalam memahami
kehendak Tuhan.Selain itu, tokoh misionaris Wijngaarden disebut sebagai
sosok yang berani membuat terobosan radikal dengan menegaskan bahwa
kuasa Allah lebih besar daripada kuasa-kuasa lain yang dipercayai
masyarakat saat itu. Hal ini tergambar dalam kisah-kisah lokal seperti
turin-turin anak tundakais. Selain itu, sejarah pelayanan kesehatan
rumah sakit di wilayah Lau Simomo juga menjadi bukti nyata bagaimana
para penginjil dari Belanda menunjukkan kasih melalui tindakan konkret,
termasuk dalam pelayanan sosial dan kesehatan bagi masyarakat. Melalui
refleksi ini, dalam perayaan 136 tahun Injil sampai kepada orang Karo,
umat diajak untuk meneladani kesetiaan bangsa Israel dalam memilih Tuhan
serta berani mengambil sikap tegas dalam iman, sebagaimana ditegaskan
dalam Yosua 24:15, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah
kepada Tuhan.”
Sementara itu, Sekretaris Umum Moderamen GBKP, Pdt Yunus Bangun dalam sambutan
Moderamen mengatakan, orang yang mau bermisi memberitakan Injil adalah
orang yang cinta firman Tuhan dan telah merasakan anugerah keselamatan
melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Untuk itu, Pdt Yunus mengajak
jemaat GBKP untuk terus bermisi mengabarkan Injil sebagai orang yang
telah menerima keselamatan. "Pekabaran Injil jangan hanya berpusat di Moderamen dan klasis, tapi
semua runggun-runggun harus terus bergerak agar semakin banyak orang
merasakan berkat Tuhan dan semakin banyak orang yang turut ambil
bagian," katanya. Acara perayaan juga ditandai dengan tiup lilin dan
pemotongan kue dan cimpa matah ulang tahun yang dibagikan kepada
hadirindilanjutkan dengan kata-kata sambutan. Mewakili keluarga penginjil Rimanta Br Pelawi (Nd Erika) menyatakan rasa
harunya, mereka tetap diingat setiap perayaan sehna berita simeriah man
Kalak Karo. Dia mengajak GBKP untuk tetap setia bermisi walau tantangan
semakin berat.
Ketua Moderamen periode 2000-2010 Pdt Jadiman Peranginangin dalam
sambutannya mengatakan, dalam usia 136 tahun GBKP, perlu dibuat kajian
sejaran perjalanan gereja. Apa yang sudah pernah berhasil dilakukan
hendaknya jangan hilang. Dia juga mengajak untuk memperhatikan dunia
pendidikan, khususnya STMIK Neumann, karena pendidikan adalah tempat
mendidik orang untuk meningkatkan sumber daya manusia.
Perwakilan klasis yang disampaikan Ketua GBKP Klasis Kabanjahe Pdt
Dormanis Sembiring mengajak untuk lebih peduli serta berempati kepada
jemaat dan masyarakat. Jangan mencederai hati jemaat dengan perbuatan
yang tidak merakyat. Biar dalam kesulitan ekonomi, tapi mereka tetap
sukacita dalam pelayanan gereja.
Sementara perwakilan GBKP Rg Buluh Awar mengajak jemaat GBKP untuk
mengunjungi Buluh Awar. Buluh Awar selalu terbuka menerima masukan dan
bimbingan.
Perayaan yang dipanitiai Unit Wisata Rohani ini menjadi momentum
refleksi iman sekaligus penguatan komitmen bagi seluruh jemaat GBKP
untuk terus setia dalam pelayanan dan pemberitaan Injil di tengah
perkembangan zaman. Turut memberi sambutan mewakili kategorial Pdt
Nurbetty Ginting (Varny).