Kegiatan

Detail Kegiatan

Workshop Keuangan dan Bidang Usaha Moria GBKP
Rabu, 15 Juli 2026

Workshop Keuangan dan Bidang Usaha Moria GBKP

Program dan keuangan haruslah sejalan dalam tubuh organisasi, karena seyogianya program tanpa materi akan menimbulkan kepincangan. Dalam tubuh kepengurusan yang baru yakni periode 2025-2030, dipandang sangat penting untuk menyatukan pemahaman terkhusus dalam perbendaharaan dan usaha seperti pembukuan dan pelaporannya. Untuk itu, BPP Moria Bersama BP Moria Klasis melaksanakan program workshop keuangan dan peningkatan usaha tepatnya pada tanggal 14 Juli 2026 di PPWG Zentrum Kabanjahe. Peserta yang diundang dalam pertemuan ini adalah ketua, bendahara dan bidang usaha dalam Moria Klasis.

Dimulai dengan ibadah pembuka dibawakan oleh Pdt. Linawati Br Ginting, S.Th dengan mengangkatkan  Lukas 16:1-9. Dalam kotbahnya menekankan kita (pengurus) mengelola keuangan, baik dari segi pengadaan dan penggunaanya,  keuangan Moria  GBKP adalah keuangan kepunyaan Allah. Allah memberikan hikmat untuk mempergunakan keuangan  menjadi saluran berkat dalam pelayanan Moria. Keuangan harus dikelola dengan transparan, sehingga jemaat memiliki kepercayaan penuh untuk mempercayaken persembahan dan keuangan bagi organisasi. Sikap yang harus dijunjung tinggi adalah kejujuran dan berintegritas.

Setelah ibadah kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan BPP Moria yang diwakilkan oleh ketua umum yakni Pdt. Nurbety Br Ginting. Sambutannya memotivasi peserta untuk memberikan diri dan pikiran (focus) dalam kegiatan ini karena disinilah pengurus bisa bersama-sama belajar akan sistem keuangan yang ada di GBKP. Tentunya banyak pelajaran yang harus dipetik terkhusus dengan sistem ISAK 335 menuju keuangan digitalisasi yang ada di GBKP.

Sesi pertama dimulai yang topik “melayani dengan integritas, membangun Moria yang bersatu, mandiri dan berdampak” yang dibawakan oleh Pt. Agustinus Ginting (Bendahara umum Moderamen). Dalam sesi ini dibuka dengan pemahaman siapa itu bendahara, apa harapan jemaat tentang keuangan gereja dan bagaimana melihat peluang-peluang usaha yang bisa ditangkap oleh Moria. Bendahara adalah mesin pencetak uang bukan kasir, jadi dalam programnya bagaimana supaya keuangan dalam organisasi itu siap mendukung program-program yang ada. Jemaat masa kini menuntut supaya transparansi, profesional, kreatif, akuntabel tetapi tetap rohani dalam keuangan. Dalam hal ini diharapkan pengurus  bisa menunjukan nilai integritas, kerendahan hati, mau kerjasama, transparansi, kasih dan keugaharian. Banyak tantangan yang dihadapi termasuk menurunya partisipasi, oleh karena itu pengurus tidak bisa hanya mengandalkan iuran/swadaya, tetapi membuka peluang untuk usaha-usaha yang bisa menopang keuangan.

Sesi kedua dibawakan oleh team KPP (Komisi Pengawasan Perbendaharaan) GBKP yakni Pt. Em. Jasmin Kaban, SE,Ak  (Ketua Komisi KPP) dan  Luther Ginting, SE, M.Si (Sekretaris Komisi Pengawas Perbendaharaan GBKP). Mereka mensosialisasikan system ISAK 335. Pada dasarnya ketua dan bendahara harus menutup buku kas setiap bulannya. Selain itu memiliki komunikasi yang efektif, sebagai contoh dalam verifikasi, apa yang ditanyakan verifikator, berikan jawaban yang jelas lengkap dengan bukti-bukti seperti kwitansi. Laporan harus jelas dan transparan. Selanjutnya narasumber memberikan penjelasan dan contoh-contoh dalam penulisan laporan arus kas, laporan realisasi dan laporan inventaris. Dalam P2PRT Moria, dicantumkan pembagian persentasi keuangan seperti iuran, swadaya, permut dan yang lainnya. KPP berjanji akan mempelajari dan membuat contoh format setoran Moria berdasarkan P2PRT. Seluruh peserta yang berjumlah 76 orang dari 20 Klasis yang ada di Sumatra Utara menyambut baik janji dari KPP ini dan berharap secepatnya bisa terealisasi sehingga ada keseragaman pembukuan Moria diberbagai Klasis dan runggun (Pdt. Rosani Br Sembiring, S. Th – Sekretaris Umum BPP Moria GBKP).



 


Kegiatan Lainnya