Kegiatan

Detail Kegiatan

Konpen GBKP,  Dibutuhan Keseriusan Pelayan GBKP untuk Mereformasi Diri
Jumat, 28 Agustus 2026

Konpen GBKP, Dibutuhan Keseriusan Pelayan GBKP untuk Mereformasi Diri

Dalam perubahan zaman yang semakin kompleks, tantangan gereja juga semakin besar. Didukung oleh AI, manusia juga berubah dengan kondisinya masing-masing. Kondisi ini jadi tantangan yang perlu dikaji untuk memetakan tingkat kerumitan pelayanan  yang berkualitas  guna memberdayakan jemaat. Tanpa pemetaan dan kualitas SDM yang cukup, pelayanan hanya akan jadi jebakan  rutinitas yang melelahkan serta tidak menjawab tantangan zaman.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Moderamen GBKP, Pdt Krismas Imanta Barus saat pembukaan Konpen  (Konferensi Pendeta) GBKP di RC Sukamakmur, Senin (24/8/2026). Dikatakan, pendalaman konsep Trinitas merupakan refrensi spiritualitas yang bisa diterapkan dengan berbagai cara sesuai konteks pelayanan masing-masing. Allah Bapa sang pencipta melakukan penataan, pelibatan, distribusi tugas fungsional terhadap semua ciptaan. Penataan gereja sudah diatur dalam Tata Gereja yang perlu ditindaklanjuti dengan pendistribusian tugas/pelibatan partisipatif pertua, diaken, pengurus PJJ, kategorial dan jemaat. Yesus Kristus hadir secara autentik di dunia. Zaman ini membutuhkan paradigma "Teologi Kinetik" yang bisa dirasakan jemaat secara  konkret. Untuk itu butuh pendampingan juga sentuhan melalui 4 pilar pelayanan zending (erkiniteken, erpemeteh, sehat, sejahtera). Roh Kudus sumber hikmat yang tetap online tanpa batas ruang dan waktu.
Untuk mendukung pelaksanaan hal tersebut,katanya  butuh pergeseran paradigma  dalam pola pelayanan. Kekuatan persatuan GBKP bukan sekedar keterikatan struktural, statistik tapi harus dibarengi kualitas hubungan dan partisipasi. Konsumen menjadi pemilik partisipatif bukan penonton. Penonton tidak akan pernah bertumbuh sekuat praktisi. Mengubah generasi muda dari objek menjadi mitra (pemilik gereja masa kini dan perancang masa depan). Pemuda perlu dilibatkan sejak dini untuk menanamkan esensi dan organisasi gereja. Ikut memberi inspirasi serta berpartisipasi dalam semua kegiatan gereja. Merubah gereja yang reaktif menjadi antisipatif, meningkatkan kemampuan membaca perubahan sosial, teknologi, ekonomi dan budaya sebelum jadi krisis dan pemakaian teknologi untuk peningkatan pelayanan bukan menggantikan fungsi kesatuan. Untuk menjawab semua tantangan ini dijelaskan Pdt Krismas, dibutuhkan keseriusan para pelayan GBKP untuk terus menerus  mereformasi diri agar GBKP bertahan dan terus bertumbuh dalam arus tantangan zaman. Gereja hanya akan terus bertumbuh bila mampu menjadi berkat bagi masyarakat.
Sementara itu, Sekum Moderamen GBKP, Pdt Yunus Bangun dalam khotbahnya saat ibadah pembukaan yang merupakan tema Konpen  "Pendeta yang Melayani"(Bdk Markus 10 :43-45), subtema : Pendeta GBKP menghidupi panggilannya dalam sukacita, kerendahan hati, kesetiaan, beretika, berintegritas dan bersolidaritas," mengatakan,  murid-murid Yesus sudah lama berjalan bersama-Nya. Mereka mendengar pengajaran-Nya, menyaksikan mukjizat-Nya, bahkan melihat bagaimana Yesus melayani banyak orang. Namun, kedekatan secara fisik ternyata tidak selalu berarti mengenal Tuhan secara mendalam.
Mereka masih belum memahami misi Yesus. Ketika Yesus berbicara tentang penderitaan dan jalan yang harus ditempuh-Nya, perhatian mereka justru tertuju pada diri sendiri. Mereka masih berdebat tentang siapa yang paling besar di antara mereka.

Ketika seseorang belum sungguh-sungguh mengenal Tuhan, kata Pdt Yunus,  ia mudah mencari rasa aman dari hal-hal di luar dirinya. Ia ingin diakui, dihargai, dianggap penting, bahkan meninggikan dirinya di hadapan orang lain. Sering kali, keinginan untuk menjadi besar justru muncul karena di dalam dirinya ada rasa kecil dan tidak percaya diri.
Orang yang belum mengetahui siapa dirinya di hadapan Tuhan akan terus mencari pengakuan dari manusia.
Padahal Yesus memberikan ukuran yang berbeda. Dalam Kerajaan Allah, menjadi besar bukan berarti berada di atas orang lain. Menjadi besar berarti bersedia merendahkan diri dan melayani. Kemuliaan bukan diperoleh dengan meninggikan diri, tetapi melalui kerendahan hati dan kesediaan menjadi berkat bagi orang lain.
Dijelaskan, ketika seseorang sungguh mengenal Tuhan, ia tidak lagi harus sibuk membuktikan dirinya. Ia tahu siapa dirinya. Ia tidak perlu terus mengejar pengakuan. Ia tidak menggantungkan nilai dirinya pada jabatan, harta, benda, pujian, atau kedudukan.
Anak-anak Tuhan yang mengenal Tuhan akan mengenal dirinya sendiri. Ia sudah selesai dengan dirinya. Karena itu, ia tidak lagi hidup untuk meninggikan diri, tetapi untuk melayani.
Mengenal Tuhan membuat kita tidak lagi bertanya, “Bagaimana supaya saya terlihat besar?” tetapi, “Apa yang bisa saya lakukan untuk melayani?”
Sebab menurut Tuhan, orang yang besar adalah orang yang bersedia menjadi pelayan.

Konpen yang berlangsung  selama empat hari, 24-27 Agustus 2026 dibuka secara resmi dengan pemukulan gong oleh Pdt Krismas Barus didampingi, Pdt Yunus Bangun, Kabid Diakonia Pdt Set Peranginangin dan Kabid Marturia Pdt Kalvinsius Jawak serta panitia.
Hari pertama Konpen diisi dengan penyerahan beasiswa kepada anak-anak pendeta yang telah berpulang, inmemorian dan perkenalan serta ceramah tema yang disampaikan Pdt Prof Armand Barus (Rinwi).

Kegiatan Lainnya