Kegiatan

Detail Kegiatan

Penyerahan SK Panitia Fundraising Rumah Singgah Komisi HIV-AIDS & NAPZA GBKP dan Yakes GBKP Meneguhkan Komitmen Pelayanan dan Pemulihan
Selasa, 06 Oktober 2026

Penyerahan SK Panitia Fundraising Rumah Singgah Komisi HIV-AIDS & NAPZA GBKP dan Yakes GBKP Meneguhkan Komitmen Pelayanan dan Pemulihan

Komitmen GBKP dalam menghadirkan pelayanan yang berpihak pada pemulihan dan penerimaan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan orang hidup dengan HIV/AIDS (OHIDA) kembali ditegaskan melalui penyerahan Surat Keputusan (SK) Panitia Fundraising Rumah Singgah Komisi HIV AIDS & NAPZA GBKP dan Yayasan Kesehatan (Yakes) GBKP. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pusat Pelayanan Orang tua Sejahtera (PPOS), Sukamakmur, Selasa, 29 September 2026. Pertemuan berlangsung hybrid, sebagian panita hadir secara langsung, sebagian lainnya secara daring/online melalui zoom meeting. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Moderamen GBKP, yakni Pdt. Krismas Imanta Barus, M. Th, LM (Ketua Umum Moderamen GBKP), Pdt. Yunus Bangun, M.Th (Sekretaris Umum Moderamen GBKP), Pdt. Set Perangin-angin, M.Th (Kabid Diakonia Moderamen GBKP), Pdt. DR. Kalvinsius Ginting, M.Si (Kabid Marturia Moderamen GBKP), dan Pt. Agustinus Ginting, SE (Bendahara Umum Moderamen GBKP).

Kegiatan ini diawali dengan kebaktian yang dipimpin oleh Ketua Umum Moderamen Pdt. Krismas Imanta Barus. Dalam khotbahnya, Pdt. Krismas Imanta Barus mengajak jemaat dan panitia melihat pembangunan Rumah Singgah bukan semata-mata sebagai proyek fisik, melainkan sebagai bagian dari karya kasih yang berangkat dari keberanian untuk hadir di tengah kehidupan manusia dengan segala keterbatasannya. Mengacu pada Matius 21:1–3, teks yang kerap dipakai menjadi salah satu bacaan dalam Minggu Palmarum, Pdt. Krismas menggambarkan perjalanan Yesus menuju Yerusalem sebagai perjalanan yang secara manusiawi penuh risiko. Yerusalem merupakan tempat Yesus menghadapi penderitaan dan salib. Namun, Yesus tetap memilih hadir dan menjalani jalan tersebut. Menurutnya, kehadiran Yesus di tengah berbagai kesalahpahaman manusia memperlihatkan bahwa karya Allah tidak dibangun di atas penghakiman terhadap ketidaksempurnaan manusia. “Perubahan dalam hidup tidak dimulai dari penghakiman. Dunia tidak bisa disembuhkan dengan etika dan moral tetapi hanya bisa disembuhkan melalui penerimaan dan cinta” tegasnya.

Ia juga menyoroti kontras antara harapan publik terhadap Mesias dengan cara Yesus menjalankan misi-Nya. Dalam pemahaman masyarakat pada masa itu, Mesias dapat dikaitkan dengan harapan akan pembebasan dan kemakmuran. Namun, Yesus justru memasuki Yerusalem dengan menunggangi keledai, sebuah gambaran yang tidak memenuhi standar kebesaran sebagaimana dibayangkan publik. Dari gambaran tersebut, Pdt. Krismas mengajak panitia untuk melihat bahwa pembaruan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar dan spektakuler. Pembaruan dapat dimulai dari kasih, kepedulian, dan kesediaan hadir bagi mereka yang membutuhkan. “Strategi pembaruan dimulai dari kasih sayang,” pesannya. Hal-hal yang sederhana, ketika dilakukan dengan kasih, dapat menghadirkan dampak yang besar bagi kehidupan banyak orang. Oleh karena itu, pembangunan Rumah Singgah diharapkan tidak hanya menghasilkan sebuah bangunan, tetapi menjadi ruang yang menghadirkan penerimaan, pendampingan, pemulihan, dan harapan. Pdt. Krismas memotivasi “Panitia dilantik dan kita akan berangkat dari kesederhanaan. Pembangunan ini akan menyaksikan pekerjaan Allah”. Ia menegaskan keyakinannya bahwa perjalanan pembangunan tersebut dapat menjadi kesaksian atas karya Allah melalui kerja bersama seluruh pihak.

Di dalam kebaktian dilakukan pelantikan dan penyerahan SK Panitia Fundraising Rumah Singgah Komisi HIV-AIDS & NAPZA GBKP dan Yakes GBKP diserahkan kepada panitia yang hadir secara onsite maupun online melalui zoom meeting.

Setelah kebaktian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan dari berbagai pihak yang diawali oleh Moderamen GBKP. Pada kesempatan ini, Pdt. Yunus Bangun dalam sambutannya menegaskan bahwa pelayanan tersebut merupakan tugas yang mulia. Keterlibatan gereja dalam pembangunan Rumah Singgah menjadi bagian dari upaya GBKP untuk secara konsisten menerjemahkan kasih Kristus dalam tindakan nyata. Sementara itu, Pdt. Seth Perangin-angin dalam sambutannya mengingatkan panitia agar menjalankan tugas secara kreatif, giat, dan solid. Setiap bagian diharapkan dapat menjalankan tanggung jawabnya sesuai wilayah kerja masing-masing, tetapi tetap berada dalam koordinasi dan tujuan yang terintegrasi. Ia menegaskan bahwa salah satu prioritas utama pembangunan adalah menyediakan tempat yang layak bagi proses pemulihan saudara-saudara ODHA dan OHIDA Selain Rumah Singgah, keberadaan kantor Yayasan Kesehatan GBKP (Yakes GBKP) juga dinilai penting untuk menunjang keberlanjutan pelayanan kesehatan. “Iman sangat diperlukan dalam melakukan pekerjaan ini,” pungkasnya.

Setelah itu, Pdt. Masada Sinukaban, M.Si (Teol) selaku Pendeta Tugas Khusus Komisi HIV-AIDS & NAPZA memberikan kata sambutannya. Ia menjelaskan bahwa pelayanan Komisi HIV-AIDS & NAPZA GBKP dibentuk pada 2007 dan Rumah Singgah GBKP pertama kali dibentuk pada tahun 2012, terletak di Jl. Bunga Lau (di belakang RS Adam Malik) dengan tujuan utama untuk meringankan beban dan menyediakan tempat perlindungan sementara bagi ODHA dan OHIDA. Pdt. Masada Sinukaban menerangkan tujuan dan fungsi secara spesifik Rumah Singgah GBKP yang dikelola oleh Komisi HIV-AIDS & NAPZA GBKP, yaitu:

(1)  Meringankan beban ekonomi dan jarak: Membantu ODHA/ OHIDA yang berasal dari wilayah pelosok/ jauh agar memiliki tempat tingal gratis saat harus menjalani pengobatan berkala di Rumah Sakit.

(2)  Pemulihan fisik dan nutrisi: Menyediakan tambahan nutrisi makanan guna membantu mempercepat masa pemulihan daya tahan tubuh pasien.

(3)  Dukungan emosional dan pastoral: memberikan pelayanan konseling serta pendampingan spiritual agar para pasien mendapatkan penguatan iman, pengharapan dan tidak putus asa menghadapi penyakitnya.

(4)  Pemberdayaan Mandiri: Mengajak para penghuni melakukan aktivitas produktif harian bersama seperti memasak, membersihkan lingkungan hingga mengelola lahan pertanian di sekitar rumah singgah.

Pdt. Masada menerangkan bahwa dalam perkembangannya, Rumah Singgah GBKP beberapa kali berpindah lokasi dan telah melayani 205 ODHA dan OHIDA sejak berdiri hingga saat ini. Keterbatasan tempat membuat kapasitas pelayanan berada pada kisaran 8–15 orang per tahun. Pelayanan Rumah Singgah selama ini didukung oleh berbagai sumber, antara lain Moderamen GBKP, sumbangan sukarela, serta dukungan kemitraan internasional dari United Evangelical Mission (UEM).

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan yang disampaikan oleh dr. Simon Gurusinga, Sp.Ak, Sp.KKLP selaku Ketua Yakes GBKP. Ia menyampaikan bahwa kebutuhan pelayanan semakin nyata dan jemaat menghadapi berbagai tantangan dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan, khususnya mereka yang harus menjalani pengobatan secara berkala. Sebagian pasien harus melakukan perjalanan berulang ke Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan, sehingga kebutuhan akan tempat singgah bagi pasien maupun keluarga pendamping menjadi semakin nyata. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang pentingnya pembangunan Rumah Singgah. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi tempat menginap sementara bagi jemaat yang menjalani pengobatan sekaligus bagi keluarga yang mendampingi.

Kebutuhan pelayanan kesehatan tersebut juga terlihat dari pelayanan Yakes GBKP. Tahun ini, Yakes GBKP bersama Pdt. Marheni Br Sinuraya, M.Div (Pendeta Tugas Khusus Yakes GBKP) telah melayani sekitar 720 orang jemaat yang membutuhkan pelayanan berkaitan dengan kesehatan di Medan. Angka tersebut menunjukkan kebutuhan akan penguatan infrastruktur pelayanan kesehatan, termasuk kebutuhan pembangunan kantor Yakes GBKP. Dengan demikian, menurut dr. Simon Gurusinga pembangunan Rumah Singgah dan pengadaan fasilitas kantor Yakes GBKP dipandang sebagai bagian yang saling berkaitan dalam memperkuat pelayanan kesehatan dan pendampingan gereja.

Pt. Ir. R. Janto Ginting yang dipercaya sebagai Ketua Umum Panitia Fundraising Rumah Singgah Komisi HIV AIDS & NAPZA GBKP dan Yakes GBKP, dalam kata sambutannya mengingatkan bahwa pembangunan Rumah Singgah bukan pekerjaan yang sederhana. Tantangan tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penggalangan dukungan untuk pelayanan kepada kelompok yang masih menghadapi stigma di tengah masyarakat. Oleh karena itu, menurutnya, panitia perlu memikirkan secara serius fungsi fasilitas yang akan dibangun. Rumah Singgah tidak boleh berhenti sebagai sebuah bangunan, tetapi harus benar-benar mampu menjawab kebutuhan orang-orang yang dilayani. Dalam menjalankan mandat tersebut, panitia memiliki dua tugas utama, yaitu pengadaan tanah dan pembangunan Rumah Singgah.

Kedua tugas tersebut membutuhkan kerja bersama, dukungan berbagai pihak, serta komitmen untuk menjaga agar tujuan awal pelayanan tetap menjadi dasar setiap langkah pembangunan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama dan harapan bahwa penyerahan SK panitia fundraising Rumah Singgah Komisi HIV AIDS & NAPZA GBKP dan Yakes GBKP, menjadi titik awal dari proses yang lebih panjang. Di balik pembangunan fisik, terdapat sejarah pelayanan yang telah berlangsung dan memberikan harapan untuk kelanjutan dari perjalanan panjang GBKP dalam mendampingi ODHA dan OHIDA. Dalam semangat tersebut, pembangunan Rumah Singgah Rumah Singgah Komisi HIV AIDS & NAPZA GBKP dan Yakes GBKP diharapkan menjadi kesaksian bahwa gereja tidak hanya berbicara tentang kasih Kristus, tetapi menghadirkannya dalam kehidupan nyata melalui kehadiran, pendampingan, dan pelayanan bagi sesama (Pdt. Bertha Wandasari Sinukaban, M.Th – Unit Humas IT & WGM).

 

 

 

 


Kegiatan Lainnya