Komitmen GBKP dalam menghadirkan pelayanan yang berpihak
pada pemulihan dan penerimaan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan orang hidup
dengan HIV/AIDS (OHIDA) kembali ditegaskan melalui penyerahan Surat Keputusan
(SK) Panitia Fundraising Rumah Singgah Komisi HIV AIDS & NAPZA GBKP dan Yayasan
Kesehatan (Yakes) GBKP. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pusat Pelayanan Orang
tua Sejahtera (PPOS), Sukamakmur, Selasa, 29 September 2026. Pertemuan berlangsung
hybrid, sebagian panita hadir secara langsung, sebagian lainnya secara
daring/online melalui zoom meeting. Kegiatan tersebut dihadiri oleh
Moderamen GBKP, yakni Pdt. Krismas Imanta Barus, M. Th, LM (Ketua Umum
Moderamen GBKP), Pdt. Yunus Bangun, M.Th (Sekretaris Umum Moderamen GBKP), Pdt.
Set Perangin-angin, M.Th (Kabid Diakonia Moderamen GBKP), Pdt. DR. Kalvinsius
Ginting, M.Si (Kabid Marturia Moderamen GBKP), dan Pt. Agustinus Ginting, SE
(Bendahara Umum Moderamen GBKP).
Kegiatan ini diawali dengan kebaktian yang dipimpin oleh
Ketua Umum Moderamen Pdt. Krismas Imanta Barus. Dalam khotbahnya, Pdt. Krismas
Imanta Barus mengajak jemaat dan panitia melihat pembangunan Rumah Singgah
bukan semata-mata sebagai proyek fisik, melainkan sebagai bagian dari karya
kasih yang berangkat dari keberanian untuk hadir di tengah kehidupan manusia
dengan segala keterbatasannya. Mengacu pada Matius 21:1–3, teks yang kerap
dipakai menjadi salah satu bacaan dalam Minggu Palmarum, Pdt. Krismas
menggambarkan perjalanan Yesus menuju Yerusalem sebagai perjalanan yang secara
manusiawi penuh risiko. Yerusalem merupakan tempat Yesus menghadapi penderitaan
dan salib. Namun, Yesus tetap memilih hadir dan menjalani jalan tersebut. Menurutnya,
kehadiran Yesus di tengah berbagai kesalahpahaman manusia memperlihatkan bahwa
karya Allah tidak dibangun di atas penghakiman terhadap ketidaksempurnaan
manusia. “Perubahan dalam hidup tidak dimulai dari penghakiman. Dunia tidak bisa
disembuhkan dengan etika dan moral tetapi hanya bisa disembuhkan melalui
penerimaan dan cinta” tegasnya.
Ia juga menyoroti kontras antara harapan publik terhadap
Mesias dengan cara Yesus menjalankan misi-Nya. Dalam pemahaman masyarakat pada
masa itu, Mesias dapat dikaitkan dengan harapan akan pembebasan dan kemakmuran.
Namun, Yesus justru memasuki Yerusalem dengan menunggangi keledai, sebuah
gambaran yang tidak memenuhi standar kebesaran sebagaimana dibayangkan publik. Dari
gambaran tersebut, Pdt. Krismas mengajak panitia untuk melihat bahwa pembaruan
tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar dan spektakuler. Pembaruan dapat
dimulai dari kasih, kepedulian, dan kesediaan hadir bagi mereka yang
membutuhkan. “Strategi pembaruan dimulai dari kasih sayang,” pesannya. Hal-hal
yang sederhana, ketika dilakukan dengan kasih, dapat menghadirkan dampak yang
besar bagi kehidupan banyak orang. Oleh karena itu, pembangunan Rumah Singgah
diharapkan tidak hanya menghasilkan sebuah bangunan, tetapi menjadi ruang yang
menghadirkan penerimaan, pendampingan, pemulihan, dan harapan. Pdt. Krismas
memotivasi “Panitia dilantik dan kita akan berangkat dari kesederhanaan.
Pembangunan ini akan menyaksikan pekerjaan Allah”. Ia menegaskan keyakinannya
bahwa perjalanan pembangunan tersebut dapat menjadi kesaksian atas karya Allah
melalui kerja bersama seluruh pihak.
Di dalam kebaktian dilakukan pelantikan dan penyerahan SK
Panitia Fundraising Rumah Singgah Komisi HIV-AIDS & NAPZA GBKP dan Yakes
GBKP diserahkan kepada panitia yang hadir secara onsite maupun online melalui
zoom meeting.
Setelah kebaktian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kata
sambutan dari berbagai pihak yang diawali oleh Moderamen GBKP. Pada kesempatan
ini, Pdt. Yunus Bangun dalam sambutannya menegaskan bahwa pelayanan tersebut
merupakan tugas yang mulia. Keterlibatan gereja dalam pembangunan Rumah Singgah
menjadi bagian dari upaya GBKP untuk secara konsisten menerjemahkan kasih
Kristus dalam tindakan nyata. Sementara itu, Pdt. Seth Perangin-angin dalam
sambutannya mengingatkan panitia agar menjalankan tugas secara kreatif, giat,
dan solid. Setiap bagian diharapkan dapat menjalankan tanggung jawabnya sesuai
wilayah kerja masing-masing, tetapi tetap berada dalam koordinasi dan tujuan
yang terintegrasi. Ia menegaskan bahwa salah satu prioritas utama pembangunan
adalah menyediakan tempat yang layak bagi proses pemulihan saudara-saudara ODHA
dan OHIDA Selain Rumah Singgah, keberadaan kantor Yayasan Kesehatan GBKP (Yakes
GBKP) juga dinilai penting untuk menunjang keberlanjutan pelayanan kesehatan. “Iman
sangat diperlukan dalam melakukan pekerjaan ini,” pungkasnya.
Setelah itu, Pdt. Masada Sinukaban, M.Si (Teol) selaku
Pendeta Tugas Khusus Komisi HIV-AIDS & NAPZA memberikan kata sambutannya.
Ia menjelaskan bahwa pelayanan Komisi HIV-AIDS & NAPZA GBKP dibentuk pada
2007 dan Rumah Singgah GBKP pertama kali dibentuk pada tahun 2012, terletak di
Jl. Bunga Lau (di belakang RS Adam Malik) dengan tujuan utama untuk meringankan
beban dan menyediakan tempat perlindungan sementara bagi ODHA dan OHIDA. Pdt.
Masada Sinukaban menerangkan tujuan dan fungsi secara spesifik Rumah Singgah
GBKP yang dikelola oleh Komisi HIV-AIDS & NAPZA GBKP, yaitu:
(1) Meringankan
beban ekonomi dan jarak: Membantu ODHA/ OHIDA yang berasal dari wilayah
pelosok/ jauh agar memiliki tempat tingal gratis saat harus menjalani
pengobatan berkala di Rumah Sakit.
(2) Pemulihan
fisik dan nutrisi: Menyediakan tambahan nutrisi makanan guna membantu
mempercepat masa pemulihan daya tahan tubuh pasien.
(3) Dukungan
emosional dan pastoral: memberikan pelayanan konseling serta pendampingan
spiritual agar para pasien mendapatkan penguatan iman, pengharapan dan tidak
putus asa menghadapi penyakitnya.
(4) Pemberdayaan
Mandiri: Mengajak para penghuni melakukan aktivitas produktif harian bersama
seperti memasak, membersihkan lingkungan hingga mengelola lahan pertanian di
sekitar rumah singgah.
Pdt. Masada menerangkan bahwa dalam perkembangannya, Rumah
Singgah GBKP beberapa kali berpindah lokasi dan telah melayani 205 ODHA dan OHIDA
sejak berdiri hingga saat ini. Keterbatasan tempat membuat kapasitas pelayanan
berada pada kisaran 8–15 orang per tahun. Pelayanan Rumah Singgah selama ini
didukung oleh berbagai sumber, antara lain Moderamen GBKP, sumbangan sukarela,
serta dukungan kemitraan internasional dari United Evangelical Mission (UEM).
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan yang
disampaikan oleh dr. Simon Gurusinga, Sp.Ak, Sp.KKLP selaku Ketua Yakes
GBKP. Ia menyampaikan bahwa kebutuhan pelayanan semakin nyata dan jemaat
menghadapi berbagai tantangan dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan, khususnya
mereka yang harus menjalani pengobatan secara berkala. Sebagian pasien harus
melakukan perjalanan berulang ke Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan,
sehingga kebutuhan akan tempat singgah bagi pasien maupun keluarga pendamping
menjadi semakin nyata. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu latar
belakang pentingnya pembangunan Rumah Singgah. Fasilitas tersebut diharapkan
dapat menjadi tempat menginap sementara bagi jemaat yang menjalani pengobatan
sekaligus bagi keluarga yang mendampingi.
Kebutuhan pelayanan kesehatan tersebut juga terlihat dari
pelayanan Yakes GBKP. Tahun ini, Yakes GBKP bersama Pdt. Marheni Br Sinuraya,
M.Div (Pendeta Tugas Khusus Yakes GBKP) telah melayani sekitar 720 orang jemaat
yang membutuhkan pelayanan berkaitan dengan kesehatan di Medan. Angka tersebut
menunjukkan kebutuhan akan penguatan infrastruktur pelayanan kesehatan,
termasuk kebutuhan pembangunan kantor Yakes GBKP. Dengan demikian, menurut dr.
Simon Gurusinga pembangunan Rumah Singgah dan pengadaan fasilitas kantor Yakes
GBKP dipandang sebagai bagian yang saling berkaitan dalam memperkuat pelayanan
kesehatan dan pendampingan gereja.
Pt. Ir. R. Janto Ginting yang dipercaya sebagai Ketua Umum
Panitia Fundraising Rumah Singgah Komisi HIV AIDS & NAPZA GBKP dan Yakes
GBKP, dalam kata sambutannya mengingatkan bahwa pembangunan Rumah Singgah bukan
pekerjaan yang sederhana. Tantangan tidak hanya terletak pada pembangunan
fisik, tetapi juga pada penggalangan dukungan untuk pelayanan kepada kelompok
yang masih menghadapi stigma di tengah masyarakat. Oleh karena itu, menurutnya,
panitia perlu memikirkan secara serius fungsi fasilitas yang akan dibangun.
Rumah Singgah tidak boleh berhenti sebagai sebuah bangunan, tetapi harus
benar-benar mampu menjawab kebutuhan orang-orang yang dilayani. Dalam
menjalankan mandat tersebut, panitia memiliki dua tugas utama, yaitu pengadaan
tanah dan pembangunan Rumah Singgah.
Kedua tugas tersebut membutuhkan
kerja bersama, dukungan berbagai pihak, serta komitmen untuk menjaga agar
tujuan awal pelayanan tetap menjadi dasar setiap langkah pembangunan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama dan harapan
bahwa penyerahan SK panitia fundraising Rumah Singgah Komisi HIV AIDS & NAPZA GBKP dan Yakes
GBKP, menjadi titik awal dari proses
yang lebih panjang. Di balik pembangunan fisik, terdapat sejarah pelayanan yang
telah berlangsung dan memberikan harapan untuk kelanjutan dari perjalanan
panjang GBKP dalam mendampingi ODHA dan OHIDA. Dalam semangat tersebut,
pembangunan Rumah Singgah Rumah Singgah Komisi HIV AIDS & NAPZA GBKP dan
Yakes GBKP diharapkan menjadi kesaksian bahwa gereja tidak hanya berbicara
tentang kasih Kristus, tetapi menghadirkannya dalam kehidupan nyata melalui
kehadiran, pendampingan, dan pelayanan bagi sesama (Pdt. Bertha Wandasari
Sinukaban, M.Th – Unit Humas IT & WGM).