Kafe Alpha Omega (AO) Inklusi resmi dibuka kembali. Hal ini ditandai dengan kegiatan Grand
Opening yang dilaksanakan di Kabanjahe, Sabtu, 3 Oktober 2026. Kafe AO Inklusi merupakan bagian dari usaha
yang dikelola oleh BUMG (Badan Usaha Milik Gereja) Moderamen GBKP. Kegiatan diawali
dengan kebaktian yang dipimpin Pdt. Set Perangin-angin, M.Th., dengan tema “Ipasu-pasu
guna jadi pasu-pasu” (diberkati untuk menjadi berkat) berdasarkan Kejadian
1:28. Dalam khotbahnya, Pdt. Set Perangin-angin menekankan bahwa setiap
pelayanan dan usaha yang dilakukan gereja perlu dijalankan dengan iman karena
pekerjaan tersebut merupakan bagian dari pekerjaan Tuhan. Ia mengingatkan tentang
pemeliharaan Tuhan terhadap bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun
sebagai kesaksian bahwa Tuhan tetap memelihara umat-Nya dalam perjalanan
pelayanan. Oleh karena itu, keberadaan Badan Usaha Milik Gereja (BUMG) Moderamen GBKP dan Kafe
Alpha Omega (AO) Inklusi merupakan sesuatu yang membahagiakan dan patut disyukuri sekaligus
menjadi tanggung jawab yang harus dikelola dengan baik dan profesional.
Pdt. Set Perangin-angin mengatakan bahwa sejak awal
penciptaan sudah diamanatkan kepada manusia agar bertanggungjawab mengusahai
dunia ini dalam rangka kesejahteraan. Orang yang menjalankan amanat tersebut
akan menjadi orang yang diberkati. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa
Allah (imago Dei) dan ditempatkan untuk bekerja, mengembangkan
kehidupan, serta menghadirkan kesejahteraan. “Kerja adalah jalan untuk
sejahtera, berkembang dan maju,” tegasnya.
Dalam kotbahnya, Pdt. Set
Perangin-angin juga menjelaskan makna berkat dalam kaitannya dengan mandat
penciptaan. Kata barakh (berkat), menurutnya, menunjukkan bahwa berkat
berasal dari inisiatif Tuhan. Sementara perintah untuk “memenuhi bumi”
mengandung panggilan untuk bertumbuh dan berkembang melalui usaha dan kerja.
Pertumbuhan usaha, lanjutnya,
semestinya berjalan bersama dengan pertumbuhan manfaat. Ia juga menekankan
pentingnya memahami kata “kuasai” dalam Kejadian 1:28 sebagai mandat
pengelolaan yang bertanggung jawab. Pengelolaan usaha harus diwujudkan melalui
tata kelola keuangan yang baik, penggunaan bahan yang berkualitas, pemeliharaan
kebersihan, perlakuan yang adil terhadap pekerja, serta pelayanan yang baik
kepada setiap tamu. Oleh karena itu, pengembangan Kafe AO Inklusi diharapkan tidak
hanya menghasilkan keberlanjutan usaha, tetapi juga membuka ruang bagi
terciptanya lapangan kerja, membangun relasi yang baik, serta menghadirkan
manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. “Kafe ini adalah milik GBKP dan harus
dipertanggungjawabkan,” tegasnya mengakhiri kotbah.
Setelah kebaktian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kata
sambutan dari berbagai pihak. Diawali dengan kata sambutan dari Moderamen GBKP
yang hadir, yaitu: Pt. Agustinus V Ginting, SE (Bendahara Umum Moderamen GBKP),
Pdt. Liza Selvina Br Tarigan, S.Th, MM (Kabid Koinonia Moderamen GBKP), Pdt.
Set Perangin-angin, M. Th (Kabid Diakonia Moderamen GBKP), Pt. Enriko Fenri
Tarigan, S.Si, MM (Wasekum Moderamen GBKP).
Dalam kesempatan tersebut, Pt. Agustinus Ginting menyampaikan keterangan
mengenai pengelolaan usaha Kafe AO Inklusi oleh BUMG Moderamen GBKP. “Kafe Alpha Omega ini murni yang
mengelolanya adalah BUMG, jadi jelas bahwa kafe ini adalah milik GBKP. Usaha GBKP semuanya harus kita dukung karena kalau bukan kita siapa lagi? Harus kita ingat bersama bahwa semua usaha GBKP adalah dari kita untuk kita," tegasnya. Sementara itu, Pdt. Liza Br Tarigan menyoroti makna nama Kafe Alpha Omega
yang adalah salah satu identitas nama Tuhan. Alpha dan Omega merupakan sebutan
bagi Tuhan yang menegaskan bahwa Dia adalah Awal dan Akhir. “Oleh karena itu,
kalau namanya pun sudah milik Tuhan, saya percaya bahwa segala sesuatunya dan
proses yang dialami Kafe AO ini adalah milik Tuhan. Ke depannya mau bagaimana
pun prosesnya, baik dari awal (Alpha), di pertengahan perjalanan usaha ini,
akhirnya pasti akan sampai ke Omega”, refleksinya. Pdt. Liza Br Tarigan juga
mendorong agar Kafe AO Inklusi memiliki karakter yang khas dan berbeda dari kafe
lainnya. Identitas tersebut, menurutnya, dapat diwujudkan melalui suasana dan
berbagai unsur yang melengkapi kafe sehingga para pengunjung tidak hanya
menikmati makanan dan minuman, tetapi juga merasakan nilai-nilai pelayanan yang
dihadirkan. “Buatlah kafe AO ini, pengunjung seperti bertemu dengan Tuhan,”
pesannya.
Sementara itu, Pt. Enriko Tarigan mengajak seluruh
kategorial dan jemaat GBKP untuk turut mempromosikan keberadaan Kafe AO Inklusi.
Dukungan bersama dinilai penting agar usaha tersebut dapat berkembang dan
semakin mampu menjalankan fungsi sosial serta pelayanannya. “Mari kita
bersama-sama memajukan kafe ini dan mendukung kafe ini agar menjadi berkat”,
himbaunya.
Setelah itu, kata sambutan dilanjutkan dari Pengurus Yayasan
Kesejahteraan Penyandang Disabilitas (YKPD) Alpha Omega. Salah satu perhatian
utama yang kembali ditegaskan adalah identitas Kafe AO sebagai kafe inklusi. Pdt.
Monalisa Br Ginting, S.Si (Teol), M.Sos., selaku Direktur YKPD Alpha Omega, mengingatkan
agar semangat inklusi tetap menjadi bagian yang diperjuangkan dalam perjalanan
Kafe AO Inklusi. Anak-anak dan saudara-saudari kita penyandang disabilitas yang ada di YKPD
Alpha Omega, perlu terus dilibatkan dan diberdayakan sehingga mereka bukan
hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga memiliki ruang untuk berpartisipasi
dalam kehidupan dan pelayanan. Semangat tersebut dirangkum dalam prinsip “Nothing
about us without us”, tidak ada keputusan atau proses mengenai penyandang
disabilitas tanpa melibatkan mereka. Dengan konsep tersebut, keberadaan Kafe AO Inklusi diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan kegiatan usaha dengan misi
pemberdayaan. Setiap orang yang datang menikmati layanan Kafe AO Inklusi sekaligus
mengambil bagian dalam mendukung karya pemberdayaan yang dilakukan YKPD Alpha
Omega. “Sambil kita nge-kafe, kita sudah menyumbang ke AO,” tegasnya.
Kemudian kata sambutan dilanjutkan dari Unit-unit Pelayanan dan Kategorial GBKP yang hadir dan sama-sama berharap bahwa grand opening Kafe Alpha Omega (AO) Inklusi menjadi momentum untuk
meneguhkan kembali bahwa usaha gereja dapat dikembangkan sebagai bagian dari
panggilan pelayanan. Dengan pengelolaan yang profesional, bertanggung jawab,
dan berorientasi pada pemberdayaan, Kafe AO Inklusi diharapkan terus bertumbuh sebagai
usaha yang menghadirkan manfaat bagi gereja dan masyarakat. Kegiatan ini ditutup dengan makan siang bersama (Pdt. Bertha
Wandasari Sinukaban, M. Th – Unit Humas IT & WGM).
