Kegiatan

Detail Kegiatan

Kafe Alpha Omega (AO) Inklusi Dibuka Kembali, Teguhkan Semangat Usaha yang Menjadi Berkat
Rabu, 07 Oktober 2026

Kafe Alpha Omega (AO) Inklusi Dibuka Kembali, Teguhkan Semangat Usaha yang Menjadi Berkat

Kafe Alpha Omega (AO) Inklusi resmi dibuka kembali.  Hal ini ditandai dengan kegiatan Grand Opening yang dilaksanakan di Kabanjahe, Sabtu, 3 Oktober 2026.  Kafe AO Inklusi merupakan bagian dari usaha yang dikelola oleh BUMG (Badan Usaha Milik Gereja) Moderamen GBKP. Kegiatan diawali dengan kebaktian yang dipimpin Pdt. Set Perangin-angin, M.Th., dengan tema “Ipasu-pasu guna jadi pasu-pasu” (diberkati untuk menjadi berkat) berdasarkan Kejadian 1:28. Dalam khotbahnya, Pdt. Set Perangin-angin menekankan bahwa setiap pelayanan dan usaha yang dilakukan gereja perlu dijalankan dengan iman karena pekerjaan tersebut merupakan bagian dari pekerjaan Tuhan. Ia mengingatkan tentang pemeliharaan Tuhan terhadap bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun sebagai kesaksian bahwa Tuhan tetap memelihara umat-Nya dalam perjalanan pelayanan. Oleh karena itu, keberadaan Badan Usaha Milik Gereja (BUMG) Moderamen GBKP dan Kafe Alpha Omega (AO) Inklusi merupakan sesuatu yang membahagiakan dan patut disyukuri sekaligus menjadi tanggung jawab yang harus dikelola dengan baik dan profesional.

Pdt. Set Perangin-angin mengatakan bahwa sejak awal penciptaan sudah diamanatkan kepada manusia agar bertanggungjawab mengusahai dunia ini dalam rangka kesejahteraan. Orang yang menjalankan amanat tersebut akan menjadi orang yang diberkati. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei) dan ditempatkan untuk bekerja, mengembangkan kehidupan, serta menghadirkan kesejahteraan. “Kerja adalah jalan untuk sejahtera, berkembang dan maju,” tegasnya.

Dalam kotbahnya, Pdt. Set Perangin-angin juga menjelaskan makna berkat dalam kaitannya dengan mandat penciptaan. Kata barakh (berkat), menurutnya, menunjukkan bahwa berkat berasal dari inisiatif Tuhan. Sementara perintah untuk “memenuhi bumi” mengandung panggilan untuk bertumbuh dan berkembang melalui usaha dan kerja.

Pertumbuhan usaha, lanjutnya, semestinya berjalan bersama dengan pertumbuhan manfaat. Ia juga menekankan pentingnya memahami kata “kuasai” dalam Kejadian 1:28 sebagai mandat pengelolaan yang bertanggung jawab. Pengelolaan usaha harus diwujudkan melalui tata kelola keuangan yang baik, penggunaan bahan yang berkualitas, pemeliharaan kebersihan, perlakuan yang adil terhadap pekerja, serta pelayanan yang baik kepada setiap tamu. Oleh karena itu, pengembangan Kafe AO Inklusi diharapkan tidak hanya menghasilkan keberlanjutan usaha, tetapi juga membuka ruang bagi terciptanya lapangan kerja, membangun relasi yang baik, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. “Kafe ini adalah milik GBKP dan harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya mengakhiri kotbah.

Setelah kebaktian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan dari berbagai pihak. Diawali dengan kata sambutan dari Moderamen GBKP yang hadir, yaitu: Pt. Agustinus V Ginting, SE (Bendahara Umum Moderamen GBKP), Pdt. Liza Selvina Br Tarigan, S.Th, MM (Kabid Koinonia Moderamen GBKP), Pdt. Set Perangin-angin, M. Th (Kabid Diakonia Moderamen GBKP), Pt. Enriko Fenri Tarigan, S.Si, MM (Wasekum Moderamen GBKP).  Dalam kesempatan tersebut, Pt. Agustinus Ginting menyampaikan keterangan mengenai pengelolaan usaha Kafe AO Inklusi oleh BUMG Moderamen GBKP. “Kafe Alpha Omega ini murni yang mengelolanya adalah BUMG, jadi jelas bahwa kafe ini adalah milik GBKP. Usaha GBKP semuanya harus kita dukung karena kalau bukan kita siapa lagi? Harus kita ingat bersama bahwa semua usaha GBKP adalah dari kita untuk kita," tegasnya. Sementara itu, Pdt. Liza Br Tarigan menyoroti makna nama Kafe Alpha Omega yang adalah salah satu identitas nama Tuhan. Alpha dan Omega merupakan sebutan bagi Tuhan yang menegaskan bahwa Dia adalah Awal dan Akhir. “Oleh karena itu, kalau namanya pun sudah milik Tuhan, saya percaya bahwa segala sesuatunya dan proses yang dialami Kafe AO ini adalah milik Tuhan. Ke depannya mau bagaimana pun prosesnya, baik dari awal (Alpha), di pertengahan perjalanan usaha ini, akhirnya pasti akan sampai ke Omega”, refleksinya. Pdt. Liza Br Tarigan juga mendorong agar Kafe AO Inklusi memiliki karakter yang khas dan berbeda dari kafe lainnya. Identitas tersebut, menurutnya, dapat diwujudkan melalui suasana dan berbagai unsur yang melengkapi kafe sehingga para pengunjung tidak hanya menikmati makanan dan minuman, tetapi juga merasakan nilai-nilai pelayanan yang dihadirkan. “Buatlah kafe AO ini, pengunjung seperti bertemu dengan Tuhan,” pesannya.

Sementara itu, Pt. Enriko Tarigan mengajak seluruh kategorial dan jemaat GBKP untuk turut mempromosikan keberadaan Kafe AO Inklusi. Dukungan bersama dinilai penting agar usaha tersebut dapat berkembang dan semakin mampu menjalankan fungsi sosial serta pelayanannya. “Mari kita bersama-sama memajukan kafe ini dan mendukung kafe ini agar menjadi berkat”, himbaunya.

Setelah itu, kata sambutan dilanjutkan dari Pengurus Yayasan Kesejahteraan Penyandang Disabilitas (YKPD) Alpha Omega. Salah satu perhatian utama yang kembali ditegaskan adalah identitas Kafe AO sebagai kafe inklusi. Pdt. Monalisa Br Ginting, S.Si (Teol), M.Sos., selaku Direktur YKPD Alpha Omega, mengingatkan agar semangat inklusi tetap menjadi bagian yang diperjuangkan dalam perjalanan Kafe AO Inklusi. Anak-anak dan saudara-saudari kita penyandang disabilitas yang ada di YKPD Alpha Omega, perlu terus dilibatkan dan diberdayakan sehingga mereka bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam kehidupan dan pelayanan. Semangat tersebut dirangkum dalam prinsip “Nothing about us without us”, tidak ada keputusan atau proses mengenai penyandang disabilitas tanpa melibatkan mereka. Dengan konsep tersebut, keberadaan Kafe AO Inklusi diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan kegiatan usaha dengan misi pemberdayaan. Setiap orang yang datang menikmati layanan Kafe AO Inklusi sekaligus mengambil bagian dalam mendukung karya pemberdayaan yang dilakukan YKPD Alpha Omega. “Sambil kita nge-kafe, kita sudah menyumbang ke AO,” tegasnya.

Kemudian kata sambutan dilanjutkan dari Unit-unit Pelayanan dan Kategorial GBKP yang hadir dan sama-sama berharap bahwa grand opening Kafe Alpha Omega (AO) Inklusi menjadi momentum untuk meneguhkan kembali bahwa usaha gereja dapat dikembangkan sebagai bagian dari panggilan pelayanan. Dengan pengelolaan yang profesional, bertanggung jawab, dan berorientasi pada pemberdayaan, Kafe AO Inklusi diharapkan terus bertumbuh sebagai usaha yang menghadirkan manfaat bagi gereja dan masyarakat. Kegiatan ini ditutup dengan makan siang bersama (Pdt. Bertha Wandasari Sinukaban, M. Th – Unit Humas IT & WGM).


 


Kegiatan Lainnya