Moderamen GBKP, yakni Pdt. Krismas Imanta Barus, M.Th, LM
(Ketua Umum Moderamen GBKP), Pdt. Yunus Bangun, M.Th (Sekretaris Umum Moderamen
GBKP), Pdt DR. Kalvinsius Ginting, M.Si (Kabid Marturia Moderamen GBKP), Pdt.
Set Perangin-angin, M.Th (Kabid Diakonia Moderamen GBKP), Pdt. Liza Selvina Br
Tarigan, S.Th, MM ((Kabid Koinonia Moderamen GBKP), Pt. Enriko Fenri Tarigan,
S.Si, MM (Wasekum Moderamen GBKP) dan Pt. Agustinus V. Ginting, SE (Bendahara
Umum Moderamen GBKP) melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) bersama pengurus dan
pendeta tugas khusus unit pelayanan dan kategorial pada Jumat, 2 Oktober 2026,
bertempat di PPWG Zentrum GBKP.
Kegiatan diawali dengan kebaktian yang menjadi landasan
spiritual sebelum seluruh peserta memasuki agenda koordinasi dan evaluasi
pelayanan. Kebaktian dipimpin oleh Pdt. Yunus Bangun, M.Th., dengan renungan
berdasarkan Mazmur 127:1–5. Dalam khotbahnya, Pdt. Yunus menegaskan bahwa
kehidupan orang percaya harus menjadikan Tuhan sebagai pusat dan dasar dari
seluruh aktivitas kehidupan. Mengacu pada Mazmur 127, ia menguraikan tiga ruang
kehidupan yang membutuhkan campur tangan dan berkat Tuhan, yakni rumah,
pekerjaan, dan anak-anak. “Rumah” tidak hanya dipahami sebagai bangunan, tetapi
sebagai tempat berlindung, tempat anggota keluarga saling mengasihi, sekaligus
tempat beristirahat. Oleh karena itu, kehidupan rumah tangga tidak dapat
dilepaskan dari ketergantungan kepada Tuhan. Menurutnya, campur tangan Tuhan
tidak akan dialami apabila manusia tidak sungguh-sungguh mengandalkan-Nya.
Demikian pula dalam pekerjaan. Manusia bekerja untuk
memperoleh hasil dan upah, tetapi tujuan pekerjaan pada akhirnya tidak akan
tercapai tanpa berkat Tuhan. Ia mengingatkan bahwa uang tidak selalu menjadi
sumber kebahagiaan karena dalam keadaan tertentu uang justru dapat membawa
penderitaan apabila tidak ditempatkan secara benar dalam kehidupan.
Dalam hal anak-anak, Pdt. Yunus menggambarkan mereka sebagai
“anak panah” yang berada di tangan orang tua. Orang tua yang tidak takut akan
Tuhan dapat keliru dalam mengarahkan anak-anaknya. Oleh karena itu, pengenalan
dan takut akan Tuhan menjadi dasar penting dalam membentuk dan mengarahkan
kehidupan generasi berikutnya.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan
bergereja. Menurut Pdt. Yunus, Tuhan harus menjadi pusat kehidupan gereja
sehingga setiap pelayanan dan program yang dilakukan tidak menjadi pekerjaan
yang sia-sia. Ia mengajak peserta Rakor menjadikan pengenalan kepada Tuhan
secara pribadi sebagai fondasi dalam menjalankan seluruh program pelayanan. “Adi
labo erpalasken erkemalangen man Tuhan kai pe siilakoken kita bas
program-program gerejanta, nol kerina e,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta menjadikan Rakor yang
dilaksanakan menjelang akhir tahun sebagai momentum untuk memastikan bahwa
pelayanan dan program gereja tetap berlandaskan pengenalan akan Tuhan. “Emaka
sipastikenlah bas rakor si terakhir ibas tahun enda gelah selamat kita
nadingken tahun enda. Selamat ertina i jenda, kita lebe nandai Tuhan alu payo,
gelah e jadi pondasi guna program-program ibas tahun-tahun berikutna”,
pungkasnya mengakhiri kotbah.
Setelah kebaktian, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan
Ketua Umum Moderamen GBKP, Pdt. Krismas Imanta Barus, M. Th, LM., mengenai
arti, tujuan, fungsi, dan mekanisme Rapat Koordinasi. Dalam pemaparannya, Rakor
dijelaskan sebagai salah satu fungsi organisasi untuk mengomunikasikan dan
mengintegrasikan visi serta misi GBKP, menyatukan pemahaman seluruh tim kerja,
membagikan informasi mengenai rencana dan perkembangan bidang fungsional, serta
membagi peta peran agar tidak terjadi tumpang tindih program, waktu, maupun
anggaran. Rakor juga diarahkan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi
kerja dengan memperhatikan fungsi, waktu, tempat, anggaran, potensi,
keterampilan, fasilitas, dan metode. Oleh karena itu, komunikasi yang intensif
dan jelas antar bidang dan unit menjadi bagian penting dalam pelaksanaan
pelayanan Moderamen.
Sejumlah hal ditekankan untuk diperhatikan dalam perencanaan
dan pelaksanaan program, antara lain kesesuaian dengan sasaran pelayanan,
sinkronisasi dengan kalender kerja umum, analisis proses dan efektivitas
program, analisis keuangan, serta keberlanjutan dan pembentukan identitas
jemaat. Salah satu penekanan dalam Rakor adalah pentingnya memperkuat
kolaborasi antarbidang dan unit pelayanan Moderamen. Pdt. Krismas menguraikan
bahwa evaluasi dan revisi program dapat diarahkan untuk meningkatkan program
kolaborasi, karena kerja kolaboratif diharapkan menghasilkan sinergi yang lebih
besar dibandingkan dengan kerja yang dilakukan secara parsial. Kolaborasi
tersebut tidak dimaksudkan sekadar menggabungkan program yang memiliki bentuk
kegiatan yang sama. Lebih dari itu, kolaborasi dibangun atas kesadaran bahwa
setiap bidang dan unit memiliki keterbatasan serta membutuhkan keterampilan
dari bidang lainnya untuk menghasilkan pelayanan yang lebih utuh.
Rakor kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Pdt. Yunus
Bangun, M.Th (Sekretaris Umum Moderamen GBKP), Pdt. DR. Kalvinsius Ginting, M.Si
(Kabid Marturia Moderamen GBKP), Pdt. Set Perangin-angin, M.Th (Kabid Diakonia
Moderamen GBKP), Pdt. Liza Selvina Br Tarigan, S.Th, MM ((Kabid Koinonia
Moderamen GBKP), dan Pt. Agustinus V. Ginting, SE (Bendahara Umum Moderamen
GBKP) mengenai program-program yang telah dilaksanakan dan yang akan
dilaksanakan oleh masing-masing bidang pelayanan. Setelah itu, Rakor
dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama peserta Rakor. Dalam diskusi, semangat
kolaborasi juga dikaitkan dengan kebutuhan untuk menyelesaikan persoalan jemaat
dari berbagai disiplin ilmu. Setiap unit diharapkan tidak berjalan sendiri,
tetapi saling melengkapi dalam mencapai tujuan pelayanan bersama. Dengan
demikian, Rakor bukan sekadar ruang untuk menyampaikan laporan dan rencana
kerja. Rakor menjadi momentum untuk menyatukan pemahaman, memperkuat
koordinasi, mengevaluasi pelayanan, dan mempersiapkan langkah pelayanan GBKP
pada tahun-tahun berikutnya dengan Tuhan tetap menjadi pusat dari seluruh karya
pelayanan (Pdt. Bertha Wandasari Sinukaban, M.Th – Unit Humas-IT & WGM).
