Kegiatan

Detail Kegiatan

Advanced English Class GBKP: Tingkatkan Kompetensi Bahasa untuk Memperluas Pelayanan
Sabtu, 31 Oktober 2026

Advanced English Class GBKP: Tingkatkan Kompetensi Bahasa untuk Memperluas Pelayanan

Unit Kemitraan Oikumene- Dialog Antar Iman (DAI) GBKP menyelenggarakan onsite class di PPWG Zentrum GBKP, Kabanjahe, Jumat (30/10/2026) kepada peserta Advanced English Class yang telah mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dalam kelas online sejak Februari 2026 yang lalu.  Kegiatan ini menjadi ruang bagi para pendeta untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris sekaligus mengevaluasi peserta yang telah mengikuti kelas ini.

Kegiatan diawali dengan ibadah pembukaan yang dilayani Pdt. Liza Selvina Br Tarigan, S.Th., M.M. Dalam khotbah berdasarkan Daniel 6:10, ia mengangkat tema hubungan pribadi dengan Tuhan (personal relationship with God). Melalui kisah Daniel yang tetap berdoa meskipun menghadapi ancaman, peserta diajak merefleksikan kedalaman relasi mereka dengan Allah. Mengawali renungan ini, Pdt. Liza mengajukan pertanyaan refleksi: “Seberapa dekat hubunganmu dengan Tuhan?”. Ada yang menjawab seperti anak Tuhan atau hamba Tuhan. Menurut Pdt. Liza, hubungan dengan Tuhan bukan sekadar identitas sebagai anak atau hamba Allah, melainkan relasi yang dibangun melalui kedekatan, kesadaran, disiplin, dan keberanian untuk tetap setia. Melalui teks ini, kita dapat membayangkan kedekatan hubungan antara Allah dan Daniel, yaitu: Pertama: Daniel dengan kesadaran penuh dan keberanian mengambil resiko menjumpai Allah dalam doanya. “Orang yang benar-benar mencintai akan berani mengambil resiko untuk orang yang dicintainya”, tegas Pdt. Liza. Kedua, relasi Allah dan Daniel sangat intim, seperti gambaran hubungan suami-istri. Pdt. Liza turut menghubungkan gambaran relasi tersebut dengan gambaran Kristus sebagai mempelai laki-laki dan umat-Nya sebagai mempelai perempuan sebagaimana tercermin dalam Yohanes 3:29 dan Wahyu 21:9. Ketiga, Daniel menunjukkan bahwa relasi dengan Allah merupakan kebutuhan mendasar dalam kehidupan orang percaya. Keempat, Daniel  tidak hanya mengenal Allah, tetapi juga memiliki kebanggaan atas karya Allah dalam kehidupannya.

Seusai kebaktian pembuka, kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan dari Moderamen GBKP, Unit SDM, Unit Kemitraan Oikumene dan DAI. Mewakili Moderamen GBKP, Pdt. Liza Selvina Br Tarigan, S.Th, MM (Kabid Koinonia Moderamen GBKP), menyampaikan pentingnya latihan berkelanjutan dalam mempelajari bahasa Inggris. Menurutnya, kemampuan berbahasa akan berkembang melalui praktik yang konsisten. “English is art, semakin sering kita berlatih maka kemampuan berbahasa Inggris tersebut akan berkembang” himbaunya. Ia juga menyampaikan kebanggaan Moderamen GBKP atas semangat para peserta dalam mengikuti program tersebut. “Moderamen GBKP bangga, Tuhan juga bangga”, tegasnya mengakhiri kata sambutan.

Pdt. Rosnelli Br Sembiring, S.Th dari Unit SDM GBKP,  turut membagikan pengalamannya berlatih bahasa Inggris secara mandiri di rumah. Ia berharap program ini dapat menjadi kesempatan bagi para peserta untuk bertumbuh dan semakin diperlengkapi dalam pelayanan. Sementara itu, Pdt. Obet Ginting, S.Th, MA dalam kata sambutannya menyoroti pentingnya penguasaan bahasa asing, tidak terbatas pada bahasa Inggris, tetapi juga bahasa Jerman dan Korea. Kemampuan tersebut diharapkan dapat mendukung para pendeta untuk berkomunikasi dan mengambil bagian dalam pelayanan di tingkat nasional, regional, hingga internasional.

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan sesi presentasi oleh para peserta yang menyampaikan materi dalam bahasa Inggris dengan mengangkat beragam isu yang relevan dengan kehidupan masyarakat dan tantangan pelayanan gereja masa kini. Sebanyak 12 peserta mempresentasikan materi dengan tema yang mereka pilih sendiri dan dikomentari langsung oleh Pdt. Liza Selvina Br Tarigan, Pt. Josep Tarigan dari Sibayak Course dan Pdt. Rosnelli Br Sembiring. Sementara itu, 2 peserta lainnya menyampaikan presentasinya  melalui zoom meeting karena berada di luar kota. Setelah itu, peserta mengikuti ujian tertulis sebagai tahapan evaluasi kemampuan mereka menulis dalam bahasa Inggris.

Menutup rangkaian kegiatan, Pdt. Theodosius Keliat, M.Th, menyampaikan refleksi berdasarkan Filipi 2:1–5. Ia mengajak peserta memikirkan kembali tujuan pembelajaran dan kaitannya dengan pengembangan pelayanan gereja. Ia menyinggung pertanyaan mengenai misi yang didekolonisasi, peralihan dari pola misi yang didominasi kekuatan tertentu menuju hubungan yang dilandasi kesalingan (mutuality), serta cara membebaskan misi dari dominasi dan ketimpangan relasi kuasa. Dalam refleksinya, Pdt. Theodosius menegaskan bahwa cara orang percaya berteologi berkaitan dengan bagaimana mereka merespons Allah yang hidup. Karena itu, tujuan program pembelajaran tidak semestinya dibatasi pada penambahan kosakata, penguatan tata bahasa, atau peningkatan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Lebih dari itu, seluruh proses pembelajaran perlu diarahkan untuk mengembangkan pelayanan dan memperkuat kemampuan gereja dalam membangun relasi yang setara dengan sesama. Ia juga mengingatkan bahwa kasih Kristus yang dinyatakan melalui salib menjadi dasar untuk menentang kompetisi yang tidak sehat demi meraih keberhasilan. Dalam terang Filipi 2:1–5, pelayanan dipanggil untuk bertumbuh dalam kerendahan hati, kepedulian, dan kesediaan memperhatikan kepentingan orang lain. “Keberhasilan kita menyelesaikan program ini merupakan sebuah pencapaian” ungkapnya. Namun, pencapaian tersebut memperoleh makna yang lebih mendalam ketika pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diterapkan untuk memperkuat pelayanan (Pdt. Bertha Wandasari Sinukaban, M.Th – Unit Humas IT & WGM).

 


Kegiatan Lainnya

Donasi Indonesia